Lemah Kuning! Nama ini sengaja aku pilih, karena ini akan mengingatkan pada suatu masalah tersendiri, yang menjadi harus dicampakkan, dan dijauhkan dari kebenaran. Dan mungkin kebenaran itu hanya menjadi suatu impian belaka. Namun demikian marilah kita bermimpi, banyak orang mengatakan dengin bermimpi suatu saat akan menjadi kenyataan. Jauh sebelum saya menggunakan kata ini untuk memberi judul blog, hanya satu masalah yang muncul ketika dilakukan pencarian menggunakan google.
Tampilkan postingan dengan label gambar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gambar. Tampilkan semua postingan

31.12.15

MATA UANG



DUNIA


Uang negara Mauritania, tahun emisi 1988, 1000 Rupee








Di penghujung tahun 2015 ini saya tertarik untuk mengulas tentang mata uang dunia, yang orang awam menyebutnya sebagai "uang" atau "money", tetapi yang paling benar adalah sebagai "banknote" kemudian kita menerjemahkan sebagai surat berharga. Semua materi tulisan dan gambar disini saya dapatkan dari Banknote World, Wikipedia dan Uang Kuno.

Sebenarnya yang menggelitik diri saya tentang uang adalah ketika ada rencana Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menyederhanakan penulisan angka nominalnya dengan menghilangkan angka 0 (nol) tiga angka dibelakang, dengan kata lain uang seribu rupiah (Rp 1000,-) menjadi satu rupiah (Rp 1,-). Hal semacam ini disebut sebagai rededominasi. Sebenarnya hal semacam ini pernah dilakukan Pemerintah kita dimasa lampau hingga 3 kali.

Peristiwa pertama adalah yang dikenal dengan "Gunting Sjafruddin" (Mr. Sjafruddin Prawiranegara adal Mentri Keuangan saat itu), terjadi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. PU/1 pada tanggal 19 Maret 1950, dengan cara menggunting uang pecahan 5 Gulden ke atas menjadi dua bagian. Separo bagian kiri tetap sebagai alat pembayaran yang syah, namun hanya mempunyai nilai separo dari uang utuh sebelumnya. Bagian sebelah kanan hanya bisa ditukarkan dengan Obligasi Pemerintah dengan nilai separo dari uang utuh sebelumnya. Tetapi kenyataanyya banyak yang tidak menukarkan karena ketidak-tahuannya. Tidak semua mata uang terkena dampak, yaitu: uang Jepang, Oewang Republik Indonesia dan uang daerah.


Uang yang terkena dampak "Gunting Sjafruddin"


Kembali pada tangal 25 Agustus 1959 terjadi peristiwa moneter di Indonesia. Peristiwa itu adalah memotong nilai dua macam pecahan uang terbesar saat itu yaitu pecahan Rp500,- dan pecahan Rp1000,- menjadi 10% dari nilai awalnya. Uang pecahan Rp500,- yang bergambar harimau dipotong nilainya menjadi Rp50,- dan uang pecahan Rp1000,- yang bergambar gajah dipotong nilainya menjadi Rp100,- 

Redenominasi Rupiah kembali dilakukan berdasarkan Surat Penetapan Presiden No.27 tahun 1965. Redenominasi ini sudah benar dilakukan dan berlaku untuk semua nilai pecahan atas rupiah, namun demikian tidak berdampak pada uang yang tersimpan di bank. Efeknya hingga sekarang orang tua kita cenderung menganjurkan kita untuk menyimpan uangnya di bank, dengan kata lain menabung. Sedangkan Pemerintah mengharapkan agar uang itu tidak mati mengendap di bank, tetapi dibuat modal usaha apa saja sehingga ekonomi bisa tumbuh. Meskipun demikian orang yang mendepositkan uangnya di bank cenderung masih tinggi, meskipun bunganya sangat kecil dan lebih kecil dari menabung biasa. Hal ini tentunya dilakukan pihak bank dengan cara penghitungan yang agak rumit dan tidak transparan terhadap bunga depositonya.
 
Dari ISO 4217 (Wikipedia) kita banyak tahu tentang mata uang di dunia, dan bila ditelusuri lebih jauh maka ilmu baru yang sebelumnya kita tidak tahu akan menjadi tahu. Dengan ISO 4217 ini maka aturan perbankan secara international sudah jelas. Bila kita ingin melakukan redenominasi maka harus disiapkan nama untuk mengganti rupiah (IDR) terlebih dahulu, dengan kata lain harus menentukan mata uangnya dulu. Kemudian didaftarkan pada Bank Dunia, sedangkan uangnya sendiri (banknote) bisa dibuat belakangan.
 
Contoh adalah Euro yang kemudian diberlakukan oleh 30 negara atau pemerintahan di kawasan Eropa. Secara mata uang Euro sudah mulai berlaku sejak 1 Januari 1999, tetapi uang fisiknya baru keluar pada tanggal 1 Januari 2002.

Dari Wikipedia tersebut kita juga banyak mengetahui bahwa beberapa negara telah menggati mata uangnya lebih dari 2 kali: Argentina, Brazil, Zimbawe dan Yugolavia.
  
Mexico hanya mengganti mata uangnya sekali saja pada tahun 1993, dari peso (MXP) menjadi nuvo (MXN) dan ini dianggap sangat berhasil bertahan hingga sekarang. Meskipun kemudian mata uangnya dirubah lagi ke peso tetapi terdaftar sebagai MXN, namun demikian ini tetap diakui dalam ISO 4217.
 

20 Peso Mexico (MXP) emisi tahun 1972 sebelum berganti ke Nuvo.


100 Peso Mexico (MXP) emisi tahun 1982



Bila Mexico menampilkan Chichen Itza dan salah satu patungnya
maka Indonesia menampilkan Borobudur dengan Dwarapala


Berikut ini beberapa uang kertas yang pernah beredar di Eropa tetapi sekarang tidak lagi karena sudah digantikan dengan Euro:



1000 Frach Belgia (BEF) tahun emisi 1997


500 Schiling Austria (ATS) tahun emisi 1985




5 Mark Jerman (DEM) emisi tahun 1980



Berikut ini beberapa mata uang dunia lainnya: 


100 Rial Iran (IRR) emisi tahun 1976

500 Rupee Nepal (NPR) emisi tahun 1974
 

100 Yuan China (CNY) emisi tahun 1990

10 Dolar Hong Kong (HKD) emisi tahun 1975

50 Dolar Singapura (SGD) tahun emisi 1976


25.11.15

BUNGA BAKUNG

  Hippeastrum Puniceum   


"Hanya bilik bambu tempat tinggal kita, tanpa hiasan tanpa lukisan. Beratap jerami beralaskan tanah, namun semua ini punya kita, memang semua ini milik kita sendiri . . . . .
Hanya alang-alang pagar rumah kita, tanpa anyelir, tanpa melati. Hanya bunga bakung tumbuh di halaman, namun semua itu punya kita, memang semua itu milik kita . . . . .
Haruskah kita beranjak ke kota, yang penuh dengan tanya . . .
Lebih baik disini . . . .
Rumah kita sendiri . . . .
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa semuanya ada disini . . .
Rumah kita . . . "




Diambil tanggal 3 Desember 2006 dengan Olymphus.








Itulah baris-baris lagu dari Good Bless yang membuat saya sangat menyukai bunga bakung ini. Cukup lama dan menghabiskan energi untuk mendapatkan informasi mengenai bunga ini, terutama nama ilmiahnya. Wikipedia, ternyata kita tidak mendapatkan informasi apa-apa, hanya list mengenai lilium atau yang sering disebut sebagai lely atau lily. Apakah bunga bakung ini termasuk keluarga tumbuhan tersebut? Sekian blog dan web ditelusuri, tidak ada yang mengatakan tentang itu, meskipun semua blog dan web berbahasa Indonesia merujuk bahwa tanaman tersebut sebagai bunga bakung. Sampai kemudian saya menemukan Hemerocallis yang disebut sebagai daylilies, tetapi ternyata tak satupun spesies yang gambarnya sesuai dengan bunga bakung.



Gambar diambil tanggal 15 Oktober 2007 dengan Olymphus
  



Kembali dengan penelusuran gambar akhirnya ditemukan gambar yang sesuai, meskipun nama yang ada disana belum optimal yaitu Amarylies karena sementara orang menganggap bahwa bunga bakung adalah termasuk keluarga itu. Bunga amarylies berwarna orange, di web tersebut juga menyebutnya dengan spesies Hippeastrum puniceum, maka setelah ditelusuri spesies ini dengan googling gambar, maka seluruh permukaan layar dipenuhi dengan warna orange khas dari bunga bakung ini. Maka selesailah sudah pencarian status dari bunga bakung yang paling banyak ditanam di halaman-halaman rumah di seluruh Indonesia.



Gambar diambil denga camera Olymphus
pada 28 September 2008





Menurut Wikipedia maka tumbuhan ini termasuk klas: Angiospermeae monocotyle, ordo: Asparagales, keluarga: Amaryllidaceae dan genus: Hippeastrum. Meskipun demikian pengetahuan sebelumnya memasukkan bunga bakung ini kedalam ordo Liliales dari keluarga Liliaceae, sedangkan nama ilmiah lainnya: Hippeastrum equestre, Amaryllis punicea. Nama bukan ilmiahnya adalah: Orange lirio, Amaryllis lily, Barbados lily, Esaster lily, Maroon lily dan Red Lily, meskipun lirio sebenarnya merujuk pada spesies dari keluarga lain yaitu Crinum latifolium.




Gambar diambil dengan camera Olymphus pada 3 Desember 2006










Bunga bakung ini sebenarnya mengandung bahan kimia yang cukup berbahaya yaitu: 3-O-acetyl-narcissidine  yaitu bahan kimia alami sejenis alkaloid. Jadi tidak heran bunga bakung ini bisa tumbuh dengan baik dimana saja karena jarang, atau bahkan tak ada binatang ataupun serangga yang akan mengganggunya, meskipun sebenarnya tumbuhan ini pada awalnya dibudi-dayakan untuk tanaman obat.



Diambil 1 November 2008









Di halaman rumah itu hampir saja tidak akan pernah tumbuh bunga bakung, seandainya 9 tahun yang lalu (tahun 2006) saya membiarkan pembangunan berlanjut pada pengerasan halaman rumah dengan semen hanya untuk keperluan yang tidak seberapa penting. Saya menghentikannya, maka ketika dilihat perlahan gambar-gambar di atas dari tahun ke tahun berikutnya tampak gersang. Tetapi kondisi sekarang ini sudah jauh lebih baik, meskipun pada saat musim kemarau semua menghilang pada saat gilirannya musim penghujan datang maka akan didahului dengan bunga-bunga yang bermunculan lebih dahulu, baru diikuti dengan daunnya. Setelah bunga layu maka memang hanya daun saja yang tampak sampai semuanya kembali mengering. Memang demikianlah sifat bunga bakung itu, samapai-sampai ada yang memberi nama sebagai Bunga November atau Bunga Desember.



 

Berikut ini adalah gambar-gambar yang lain yang saya sempatkan untuk mengabadikan keberadaannya:


Upaya pengeraskan halaman dengan semen
(diambil dengan Olymphus 21 Oktober 2006).






Diambil dengan camera Lumix pada 4 November 2013 

Diambil dengan camera Lumix 5 November 2013



Diambil dengan tablet Advan dan sudah dicrop pada 10 November 2014



Diambil dengan tablet Advan pada 24 November 2015

 
Diambil dengan tablet Advan pada 24 November 2015
 




Diambil dengan tablet Advan pada 10 November 2014

 

17.11.13

Grass Jelly Drink

Janggelan

Membahas makanan yang satu ini di musim hujan kok rasanya kurang cocok, tetapi apa daya karena memang terlambat terbit. Saya mendapatkan makanan seperti gambar di samping ini adalah ketika musim sedang panas-panasnya, ketika itu seorang teman mengambil dari etalase toko makanan yang seperti ini dan langsung menyorongkan ke hadapanku untuk aku santap, katanya: "Pasti kau suka!" Saya ragu, tak urung ku tengguk juga. Selintas kemudian aku teringat masa-masa yang lampau ketika sehari-harinya merasakan makanan tersebut, janggelan.

Dulu ketika aku kecil, makanan ini aku dapatkan di warung sederhana dekat rumah dibungkus dengan daun pisang dan harganya Rp5,-. Setelah aku merasakan makanan itu aku menjadi ketagihan, dan hampir setiap hari aku membelinya, karena memang rasanya yang segar dan tidak terlalu manis. Kata manis ini menjadi pertanyaan selanjutnya, kenapa harus manis? Pertanyaan ini rupanya tidak akan dibahas sekarang, mungkin lain waktu. 

Di Indonesia makanan ini dikenal sebagai cincau (id), janggelan (jv), sedangkan camcau (jv) adalah merupakan species yang berbeda. Ternyata di dunia ini khususnya Asia ada banyak species yang bisa diambil sarinya dengan air kemudian dipadatkan (memadat). Di negri asalnya, China, species yang digunakan adalah Mesona chinensis, sedangkan di Vietnam juga menggunakan Tiliacora triandra disamping Mesona chinensis tadi. Di Indonesia ada tiga species dan semua berbeda dengan species diatas, yaitu: Mesona palustris (cincau hitam = janggelan), Melastoma polyanthum (cincau perdu) dan Cyclea barbata (cincau hijau).

Sebenarnya saya tertarik untuk membuat cerita tentang cincau ini karena hal di atas. Ternyata tumbuhan yang sudah sejak lama dipakai sebagai minuman (memang mungkin minuman kampung) belum banyak dikenal orang, terbukti sangat sulit untuk mendapatkan keterangan tentang hal itu, terutama tentang klasifikasi tumbuhan itu sendiri.

Ini adalah cerita lain tentang cincau atau semacamnya. Ketika kecil saya sering bermain dengan daun-daunan yang mungkin juga bisa menjadi minuman yaitu kaca piring (Gardenia jasminoides). Sama seperti cincau maka daun dari tumbuhan ini juga akan mengeluarkan cairan yang dapat mengental, tetapi memang tidak pernah untuk dimakan, jelas rasanya dan mungkin malah beracun (tidak bisa dimakan). Ketika beranjak besar maka saya sendiri sering meramu sendiri cincau hijau untuk dimakan, daunnya dibiakkan dengan cara merambatkan pada seutas tali ijuk yang dibentangkan dan ditambatkan pada pohon kelapa. Cincau hijau rasanya memanag tidak seenak cincau hitam karena agak langu(jv) sedikit. Untuk menghilangkan rasa itu biasanya ibu saya menambahkan air jeruk nipis. Sebagai pemanis (lagi-lagi manis) digunakan gula merah yang dicairkan, dan sedikit santan. Mungkin gambar berikut ini pendekatannya.

 







20.7.13

KRL Jabotabek

PROGRESS TARIFF































Satu lagi perubahan terjadi di Jakarta, yang memaksakan agar penghuninya segera menyesuaikan diri. Adalah pemberlakuan tiket elektronik (e-ticket) untuk pengguna jasa angkutan kereta KRL. Perubahan pertama sebenarnya terjadi ketika diberlakukannya Route Loop Line. Jalur kereta ini sebenarnya menggantikan dan menyempurnaan rute lama yaitu ketika akan diterapkan KRL Ciliwung dengan armadanya Joko Lelono, yaitu angkutan KRL yang hanya berputar sekitar kota saja. Rutenya: Pasar Senen, Jatinegara, Manggarai, Tanah Abang, Angke dan berakhir di Jakarta Kota atau sebaliknya. Rute itu hanya sempat berjalan beberapa bulan. Entah kenapa atau karena penumpangnya yang kurang dari perkiraan akhirnya jalur ini diberhentikan pengoperasiannya dan digantikan dengan Route Loop Line.

Bagi orang yang tidak tinggal di Jakarta agak susah untuk membayangkan, ketika rute ini diujicobakan pertamakali penumpangnya memang masih sedikit, tetapi kian hari kian bertambah. Pasalnya, orang mau ke Pasar Senen kok harus muter dulu sampai ke Angke, sementara orang beranggapan itu akan cukup memakan waktu (membuang waktu dengan percuma). Tetapi orang lupa bahwa moda yang dinaiki tersebut adalah kereta, suatu moda yang anti macet.

Pada garis besarnya Route Loop Line ini adalah mengubah jalur kereta yang lama menjadi sebagai berikut:

  1. Seluruh KRL yang berasal dari Bekasi, yang dulu melewati Pasar Senen dialihkan melewati Manggarai, Gambir (langsung) dan menuju ke Jakarta Kota.
  2. KRL yang berasal dari Depok atau Bogor, di stasiun Manggarai dibagi dua. Sebagian terus berlanjut menuju Gambir (langsung) dan Jakarta Kota. Dan selebihnya belok ke arah Sudirman, Tanah Abang, Angke, Kampung Bandan, Pasar Senen dan mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara.
  3. Seluruh KRL dari Serpong hanya sampai Tanah Abang, dan seluruh KRL yang dari Tangerang hanya sampai Duri.
  4. Sedangkan jalur Kereta Lokal non KRL masih sering dirubah-rubah menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan lainnya. 
  5. Yang dimaksud dengan loop line sebenarnya adalah, karena beberapa kereta tidak langsung menuju ke arah yang biasanya (stasiun Jakarta Kota) maka penumpang boleh pindah jalur dengan kereta lain yang lewat tanpa harus membeli tiket lagi. Tetapi kondisi ini berlaku apabila tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku. (Penjelasannya terlalu rumit).    
Perubahan yang saya utarakan sudah cukup membingungkan bagi orang awam yang tidak biasa naik KRL, tetapi bagi yang sudah biasa mungkin malah menjadi harapan yang lebih baik, misalnya orang yang dari Depok atau Bogor ingin ke Pasar Senen atau Jatinegara maka hanya cukup sekali naik KRL dan sudah sampai. Dan bila tetap ingin menuju Kota (Jakarta Kota), juga masih tetap seperti biasa. Yang agak kurang biasa misalnya yang dari Bekasi ingin ke Pasar Senen harus turun dulu di Jatinegara untuk pindah kereta. Dan memang sebenarnyalah perubahan ini untuk menunjang kelancaran lalu-lintas di Jakarta (Mass Rapid Transport/MRT)

Sebelum tiket elektronik diberlakukan, maka moda tersebut tetap dijalankan dengan menggunakan tiket kertas biasa. Namun ada perubahan yang dilakukan oleh PT. KAI tetapi itu tidak dirasakan oleh pengguna jasa moda angkutan ini. Perubahan itu adalah ketika dipublikasikannya Commuter Line, perubahan yang banyak menuai protes justru ketika akan dihapuskannya KRL ekonomi. Tentu saja itu menuai protes karena memang banyak orang yang tidak mengerti apa sesungguhnya dibalik perubahan-perubahan itu.

Hari ini saya mencoba menggunakan moda angkutan tersebut, semenjak terakhir kali saya menggunakannya di salah satu stasiun terpampang pengumuman akan diberlakukannya sistem tiket elektronik progress tariff. Saya berangkat menuju stasiun Pondok Cina dan ingin menuju stasiun Pasar Senen. Dan saya tahu untuk sementara di stasiun Pasar Senen tidak memberhentikan KRL yang berasal dari Depok atau Bogor, jadi saya harus memilih stasiun terdekat dari Pasar Senen: Gondangdia, Juanda, Mangga Besar, Kemayoran atau sekalian Jatinegara. Di stasiun Gambir jelas semua KRL tidak berhenti dari arah manapun. Kalu hari-hari sebelumnya saya memilih Mangga Besar karena, dari Juanda susah untuk mendapatkan angkutan kota yang menuju Pasar Senen, maka kali ini saya memilih Gondangdia karena mengingat progress tariff tersebut, yang artinya lebih jauh pasti lebih mahal.

Di loket saya dikenakan harga Rp 3.500,- ini adalah keterkejutan saya yang pertamakali. Biasanya untuk sampai ke Kota minimal Juanda saya dikenakan harga Rp8.000,- (setelah kenaikan). Saya melanjutkan ke Pasar Senen dengan angkutan kota yang menuju sana, kebetulan pas turun dari stasiun ada lewat P 20 yang dari Lebak Bulus, langsang saja naik. Keterkejutan ke-2 adalah ternyata bus itu Kopaja ber-AC yang ongkosnya juga beda Rp 5.000,- Ya sudah saya lanjutkjan saja perjalanan yang cukup pendek tadi dengan uang gocengan.

Keterkejutan ke-3 adalah setelah urusan selesai di stasiun Pasar Senen, maka untuk kembali lagi ke stasiun Pondok Cina adalah lebih baik bila langsung saja membeli karcis dan naik dari situ. Ternyata saya hanya dikenakan Rp 4.000,- Lalu sebenarnya apakah progress tariff tersebut? Sebenarnya itu hampir sama dengan tarif yang diberlakukan pada telepon genggam. Apabila dalam menggunakan telepon genggam dikenakan tarif seribu rupiah untuk satu menit pertama, dan selanjutnya satu rupiah untuk setiap satu detik, maka pada KRL bunyinya: tigaribu rupiah untuk lima stasiun pertama, dan selanjutnya limaratus rupiah untuk setiap tiga stasiun.

Ternyata harga yang saya dapatkan hari ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pernyataan di atas, juga lebih murah dari tarif resmi yang sudah dikeluarkan sebulan sebelumnya untuk sistem ini. Kata saya itu adalah biasa, promosi. Kapan-kapan kalau penumpangnya sudah membludak maka tarif pasti akan dikembalikan ke harga yang sebenarnya. Lalu bagaimana cara kerja e-ticket tadi?

Ada dua macam tiket yaitu untuk single trip dan untuk multi trip. Tiket single trip hanya berlaku untuk satu kali perjalanan, maka setelah diberikan tiket yang sudah di-signing (dimasukkan/ditempelkan ke mesin tertentu agar kartu tiket tersebut mempunyai tanda single trip) oleh petugas, maka kartu tiket tersebut dapat ditempelkan pada mesin pintu pembuka jalan menuju peron, kemudian kartu tiket tersebut tetap dibawa oleh penumpang masuk kedalam kereta. Sampai di tempat tujuan kartu tiket tersebut harus dimasukkan ke pintu pembuka peron sehingga penumpang bisa keluar, kartu tersebut ditinggal di dalam mesin pembuka peron. Kartu tersebut seukuran persis dengan kartu ATM dan juga mempunyai maghnit penyimpan data.

Sedangkan kartu tiket untuk multi trip, ini adalah pengganti kartu abonemen yang biasa digunakan oleh pengguna tetap moda angkutan ini, namun cara kerjanya agak berbeda. Kartu tiket multi trip ini cara kerjanya mirip dengan e-toll card, jadi kalau habis bisa diisi ulang. Karena kartu ini milik pribadi, maka kartu ini tidak ditinggalkan di mesin pembuka pintu peron, tetapi cukup ditempelkan pada mesin dan pintu akan terbuka, kartu tetap dibawa pulang. Ketika ingin melakukan perjalanan maka kartu ini tetap diantrikan di loket untuk dipotong nilainya dan baru bisa ditempelkan pada mesin pembuka peron. (Nampaknya agak ribet dech . . . )

Berikut ini adalah jadwal KRL Jabotabek:
 













 Yang arah sebaliknya tidak aku muat karena terlalu banyak tetapi bisa diperkirakan, demikian juga yang dari Serpong atau Tangerang.

Trimakasih atas perhatianya semoga dapat menjadi wawasan tersendiri.

25.4.13

NGENGAT RAKSASA

(Attacus atlas)

Sepintas kilas orang akan mengira bahwa gambar yang di atas ini adalah kupu-kupu, itu adalah tidak salah karena ngengat satu ordo dengan kupu-kupu, dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai kupu-kupu gajah. Lalu apa bedanya antara kupu-kupu dan ngengat? Itu adalah pertanyaan genius yang perlu sekali dijawab. Tetapi karena saya tidak ahli dalam hal biologi, jawaban yang ada di sini tidaklah begitu benar dan memuaskan. Keterangan-keterangan berikut ini saya sarikan dari berbagai sumber yang dapat dipercaya.

Secara kebiasaan kupu-kupu akan terbang dan mencari makan pada siang hari, sementara ngengat akan terbang dan mencari makan setelah gelap dan selalu mendekat ke arah sinar yang baginya sangat menarik perhatian. Jadi ketika selepas maghrib banyak binatang kecil-kecil berterbangan mengelilingi lampu, itulah ngenget yang sering kita jumpai. Perbedaan secara morfologi, yang jelas kupu-kupu mempunyai belalai, ngengat tidak. Kupu-kupu ketika hinggap akan mengatupkan kedua sayapnya, ngengat tidak tetap dalam posisi terbentang. dan masih banyak lagi.

Ketika sedang dalam ujud larva (ulat) kupr-kupu nyaris tidak mempunyai arti apa-apa, sedangkan ngengat sangat banyak baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Yang menguntungkan larva ngengat akan menghasilkan sutra, yang tidak menguntungkan larva ngengat cenderung sebagai perusak atau hama, dari hama tanaman sampai baju yang sudah jadi sekalipun bisa menjadi sasaran larva dari ngengat ini. Tetapi ngengat (dalam bentuk larva) mempunyai musuh alami (predator) antara lain, laba-laba, kumbang tanah dan kumbang buas. Ganbar di bawah ini adalah ngengat terbesar yang pernah ditemukan, bentangan sayapnya mencapai 30cm. 




Saya memuat dan menelusuri binatang ini, juga karena tingkah binatang ini yang sempat mengganggu (mengusik) jam istirahat malam saya tanggal 12 Maret 2013 yang lalu. (Hari libur Nyepi, Selasa Kliwon). Kurang lebih setelah isya' terdengar kepakan sayap dari arah pintu depan yang tertutup, dan makhluk itu telah masuk melalui lobang ventilasi di atas pintu. Saya segera mencari tahu, ternyata seekor kupu-kupu yang cukup besar (nggilani). Karena demikian besarnya kupu-kupu itu, tetapi saya tetap menjaga untuk tidak panik, dengan itu kemudian aku mematikan lampu (refleks, karena aku tidak tahu makhluk itu menyukai cahaya apa tidak) hasilnya cukup menenangkan, karena tidak terdengar lagi suara kepakan sayap yang menandakan sedang terbang. Istirahat bisa aku teruskan dengan tetap waspada dan hanya tidur di kursi saja. Tak enak juga, akhirnya aku mencari-cari keberadaan makhluk itu berada, ternyata ia hinggap dengan nyaman di daun pintu kamar depan yang terbuka. Aku segera menggambil camera untuk mengabadikannya, dan jadilah gambar yang pertama di atas. 

Kurang lebih tengah malam, terdengar lagi kepakan sayap itu dan aku tetap waspada. Saya tidak ingin mengusir makhluk itu, tetapi apabila berkenan saya persilakan keluar lewat pintu belakang yang langsung ke kebon. Tetapi tidak dilakukannya, padahal saya sudah mengarahkan dengan membuka pintu dan menyalakan lampu yang ada diluar. Tetapi malahan hinggap di daun pintu depan yang tertutup. Karena merasa nyaman disana ya saya biarkan. 

Menjelang subuh terdengar lagi kepakan sayapnya yang memang lebar itu, akhir dari kepakan sayap itu memilih untuk hinggap di lampion yang tergantung di kusen pintu kamar belakang. Lampion itu aku beli ketika libur akhir tahun dan sedang menjelajahi Glodok bersama temanku, artinya lampion itu adalah lampion yang biasanya digunakan oleh umat beragama Budha atau Kong Hu Chu dalam perayaan Imlek. Setelah kurang lebih sepuluh menit disana, maka sebelum terdengan adzan subuh akhirnya makhluk itu mau keluar lewat pintu belakang, dan segera saya tutup.     

Saya tidak bisa segera menjelaskan apa arti peristiwa ini, tetapi memang banyak hal yang sedang terjadi dan sedang berproses dalam kehidupan saya. Sekian uneg-uneg dari saya dansemoga dapat menghibur sebagai bacaan segar.

3.2.13

Sangkobak


(Isotoma longiflora (L.)Presl )



Kurang lebih dua tahun yang lalu (2010/2011) di bawah pohon jeruk yang kurang lebih setahun aku tanam tumbuh rerumputan yang aku tidak tahu namanya. Dan memang aku sebenarnya tidak banyak mengenal nama-nama rerumputan baik yang berguna maupun tidak. Tetapi aku melihat cara tumbuhnya, dan mengapa tumbuh tiba-tiba aku menjadi tergelitik untuk mengetahui lebih jauh tentang rumput-rumputan. Aku mulai menelusuri web-web dan situs-situs di internet, dan pusing juga malah dibuatnya. Pernah kucoba pula untuk mendata semua jenis tanaman obat, itu juga tidak berhasil. Sebenarnya aku sudah putus asa, bodo amat cuma rumput itu.  

Baru beberapa bulan yang lalu aku mencoba lagi, ya karena rumput itu tumbuh lagi, dan ketika kucoba untuk membiakkan bersama tanaman strawberry yang kuperoleh ketika berkunjung ke Ciwidey malah keduanya mati alias tidak mau tumbuh. Aku mencoba mencari dengan cara yang berbeda. Biasanya kalau aku googling  selalu mencari situs ternama, wikipedia, minimal blogspot (blogspot adalah milik google sehingga semua yang ada disana akan dengan mudah diketahui). Maka usaha kali ini saya mencoba dengan pencarian gambar, ternyata hasilnya memuaskan, terbukti dengan mudah aku mendapatkannya.

Rumput itu bernama Sangkobak atau Ki Tolod. Di luar negri rumput itu terkenal dengan Five Star, karena bunganya berwarna putih dan mahkotanya 5 helai. Keterangan selanjutnya di bawah ini saya dapatkan dari: http://beningdarulhuda.blogspot.com/. Ternyata tumbuhan ini mempunyai banyak khasiat terutama dalam dunia farmasi (obat-obatan) meskipun secara sepintas tanaman ini dianggap beracun karena kandungan zat-zat kimia esensialnya sangat tinggi. Antara lain lobelin, lobelamin, isotomin, saponin, flavonoid dan poliferol. Mempunyai efek farmakologi: anti radang, anti inflamasi, anti neoplastik, analgesik dan hemostatik. Bila anda ingin mengkonsumsi tumbuhan ini konsultasi dulu dengan ahli herbal.

Gambar yang ada dibawah ini adalah yang saya dapatkan dari penelusuran dengan google.








Catatan: Tumbuhan ini juga mempunyai 3 nama ilmiah yang lain
             - Hippobroma longiflora
                 - Laurentia longiflora
                 - Lobelia longiflora