Lemah Kuning! Nama ini sengaja aku pilih, karena ini akan mengingatkan pada suatu masalah tersendiri, yang menjadi harus dicampakkan, dan dijauhkan dari kebenaran. Dan mungkin kebenaran itu hanya menjadi suatu impian belaka. Namun demikian marilah kita bermimpi, banyak orang mengatakan dengin bermimpi suatu saat akan menjadi kenyataan. Jauh sebelum saya menggunakan kata ini untuk memberi judul blog, hanya satu masalah yang muncul ketika dilakukan pencarian menggunakan google.

DARI A SAMPAI Z

TENTANG KERIS & TOMBAK

Penulis (yang punya blok) menyadari banyak kekurangan dari posting ini, tetapi karena kejar tayang apapun kemudian dipost saja. Inilah cerita tentang pusaka asli Ibu Pertiwi, Keris dan Tombak. Sebelum seorang EMPU akan membuat keris baik itu pesanan maupun keinginan sendiri, maka pasti sudah mempunyai perkiraan (rincikan) keris itu. Maka kemudian menentukan dapur (wujud/bentuk) dari keris itu, ingin berkelok-kelok atau lurus atau yang lain. Kemudian gambar/hiasan (pamor) apa yang pantas akan diterapkan. Kemudian mencari bahan-bahannya, mencari alat-alat bantunya, juga bahan-bahan kecil lainnya, dan dimulailah membuat keris itu.






A
  • ADEG IRAS (PAMOR), adalah nama pamor yang menyerupai garis lurus mulai dari ujung bilah sampai pangkalnya yang bersinggungan dengan bagian ganja. Pada bagian ganja, pamor ini seolah menyambung lagi sampai kebagian yang bersinggungan dengan pesi. Pamor ini dinilai baik tuahnya dan tergolong pamor langka.
  • ADEG SIJI (PAMOR), lihat SADA SA’LER.
  • ADEG WENGKON, lihat TEJA KINURUNG.
  • AENGTONG TONG, nama desa di Serunggi, Sumenep yang sampai kini masih membuat keris dan tombak. Desa ini dulu merupakan tempat tinggal para Empu yang memenuhi kebutuhan kerajaan Sumenep dan kini masih ada beberapa orang yang bekerja sebagai pandai keris seperti Jaknal, Jembar, Jekri, Hoji dan lain lain.
  • AEROLIT, adalah batu pamor yang sangat keras dan berasal meteor, bila telah menjadi pamor akan berwarna kuning keabu-abuan. Gradasi warnanya tidak terlalu kontras dibandingkan dengan kehitaman warna besi dasar sehingga sulit dilihat mata, pamor dari bahan ini sering juga disebut Jalada.
  • AKHODIYAT (PAMOR), adalah bagian dari kelompok pamor yang memiliki kecemerlangan lebih gemerlap dari bagian pamor lainnya. Pada satu permukaan bilah keris, ada bagian yang kecemerlangan pamornya menonjol dibanding kecemerlangan pamor disekitarnya dan sepintas lalu mirip dengan lelehan logam keperakan yang putih mengkilap. Menurut Empu Fausan Pusposukadgo, ini terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan dan bukan dibuat oleh logam perak seperti dugaan orang, Pamor ini tidak dapat direncanakan dan tergolong pamor Tiban, pamor ini banyak disukai orang, di Madura dan Jawa Timur disebut Pamor Deling.
  • AKIM (EMPU), nama seorang pembuat keris yang hidup diawal abad 20, dijaman penjajahan Belanda dan tinggal di kampung 21 Ilir, Palembang.
  • ALIAMAI, sebutan orang Serawak, Brunei, Sabah dan sebagian penduduk Mindanau Selatan untuk menyebut keris. Diperkirakan dari bahasa Sulu di Mindanau Selatan.
  • ALIP (PAMOR), nama pamor yang selalu menempati sor-soran, terutama pada sebilah keris, namun kadang ditemui juga di tombak. Termasuk pamor titipan dan pamor Rekan. Bentuknya hanya merupakan garis lurus, tebal sepanjang sekitar 4 sampai 6 cm dan kadangkala ujung garis itu membelok patah sedikit. Pamor Alip bukan merupakan pamor Sada Saler terputus, tetapi sengaja dibuat begitu dan karena titipan kadangkala terdapat disela pamor lainnya yang lebih dominan. Bagi sebagian orang, pamor ini mempunyai tuah baik yakni memperkuat iman, tahan godaan dan tidak tergolong pamor pemilih hanya pemiliknya harus berpantang terhadap beberapa hal.
  • AMBANYU MILI, lihat ILINING WARIH.
  • AMBER (MINYAK), campuran minyak keris dengan bau yang keras memberi kesan sakral, ada yang menyebut minyak Misik.
  • ANDA AGUNG (PAMOR), salah satu bentuk pamor berbentuk garis-garis menyudut, bersusun-susun, berjajar keatas dari pangkal keujung bilah, tergolong pamor tidak pemilih dan dipercaya dapat memperlancar karier. Termasuk pamor Miring.
  • ANGGA CUWIRI (EMPU), terkenal pada jaman kerajaan Majapahit sekitar abad 14, buatannya dikenali dengan tanda sebagai berikut: Ganjanya relatif berukuran panjang dibanding dengan keris buatan jaman Majapahit lainnya. Gulu melednya berkesan kekar dan kokoh. Buntut cecaknya tergolong ngunceng mati. Bagian gendokannya montok, gembung. Bilah kerisnya berukuran sedang tetapi agak ramping dan agak tebal, besinya matang tempaan berwarna hitam kebiruan namun mempunyai kesan kering. Dibanding dengan bentuk keris secara menyeluruh, bagian sor-soran agak terlalu lebar, blumbangannya juga lebar dan luas. Pamornya sederhana, kebanyakan Wos Wutah atau Pulo Tirto. Keris buatan Empu Angga Cuwiri mempunyai kesan penampilan yang keras, berwibawa dan meyakinkan. 
  • ANDORAN, salah satu cara mengenakan keris sebagai pakaian kelengkapan Adat Jawa Tengah terutama di Surakarta. Keris diselipkan di sela lipatan sabuk lontong, diantara lipatan kedua dan ketiga. Kedudukan keris tegak, ditengah punggung si pemakai sedangkan hulu dan warangka keris menghadap kekiri. Cara ini dipakai untuk menghadap orang yang dihormati, umpamanya Raja atau berada ditempat yang perlu dihormati seperti mesjid, makam dan sebagainya. 
  • ANGGABAH KOPONG, salah satu dari 4 macam bentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai sekam padi kopong biasanya buatan Pajajaran atau Tuban banyak yang berbentuk Anggabah Kopong. 
  • ANJANI, NI (EMPU), Empu wanita terkenal dijaman Pajajaran sekitar abad 11, umumnya bilahnya tipis, panjangnya cukup dan manis, besinya pilihan, tempaan matang dan berwarna hitam. Pamornya tergolong Mubyar, biasanya Udan Mas, Wos Wutah atau Pendaringan Kebak dan pamor sejenis itu.
  • ANGGREK KAMAROGAN (KINATAH), adalah hiasan berupa pahatan relief (gambar timbul) pada sebilah keris atau tombak. Bentuknya berupa rangkaian bunga anggrek. Pahatan ini hampir selalu dilapisi dengan logam emas atau emas dan perak, paling sedikit hiasan ini memenuhi setengah bilah. Dahulu yang berhak memakai ini hanya kerabat Raja dan Patihnya saja.
  • ANOMAN (DHAPUR), Nama dapur keris Luk Lima. Ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya hanya satu, pakai ri pandan, sogokannya rangkap dan panjang sampai kepucuk bilah, selain itu tidak ada ricikan lain. Keris ini gampang dikenali karena sogokannya yang panjang tersebut.
  • ANUKARTO (PAMOR), lihat pamor rekan.
  • AREN ( KAYU), jenis kayu biasanya untuk tangkai tombak (Landeyan, bahasa Jawa), karena cukup berat biasa dipakai prajurit berbadan cukup kuat.
  • ARJANATI ( KANJENG KYAI ARJANTI), salah satu tombak pusaka Pura Pakualaman, Yogyakarta. Bentuknya tidak biasa termasuk Kalawija, bilah lurus, pipih dan di bagian pangkal seolah digigit moncong Naga bersayap. Sayap naga tersebut dua susun, depan dan belakang dan masing-masing susun memiliki lima bulu. Tombak ini tergolong nom-noman.
  • ASIHAN ( PAMOR), gambar motifnya seolah menyatu antara gambar yang ada di bilah keris dan pamor yang ada di bagian ganjanya. Pamor ini tidak berdiri sendiri dan selalu digabungkan dengan pamor lain yang lebih dominan seperti Ngulit Semangka Asihan dan sebagainya.
  • AWAR-AWAR (KAYU), sering dipakai untuk rangka keris karena memiliki poleng hitam seperti kayu Timoho walau tidak seindah Timoho serta bahannya lunak.
 



B


  • BADAELA (PAMOR), pamor yang dianggap kurang baik termasuk pamor tiban dan terletak di sor-soran, karena tuahnya buruk maka sering diberikan ke museum atau dilarung.
  • BAKUNG (DHAPUR), nama dapur keris luk lima, ukuran panjang bilahnya sedang. Cekungan pejetannya dalam, tikel alis dan greneng, selain itu tidak ada ricikan lain. 
  • BALEBANG (DHAPUR), dapur keris luk lima, ukuran panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap pakai sraweyan, tanpa greneng. Selain luk lima juga ada Balebang luk tujuh dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan.
  • BALEWISA, (KANJENG KYAI BALEWISA), pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Parungsari, wrangka dari kayu Timoho dengan pendok bunton terbuat dari suasa. Semula milik Tumenggung Sasranegara kemudian diberikan ke anaknya Tumenggung Sasradiningrat yang menjadi menantu Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keris ini kembali ke Kraton di jaman Sri Sultan Hamengku Buwono V.
  • BANGO DOLOG (DHAPUR), Dapur keris luk tiga, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, pejetannya dangkal, memakai tikel alis. Bagian belakang bilah, dipangkal (sor-soran) tepinya tidak tajam sampai ke luk yang ke-dua selain itu tidak ada ricikan lainnya.
  • BANCEAN (WARANGKA), Wrangka kombinasi gaya Surakarta dan Yogyakarta  disebut juga Bincihan.
  • BANDOTAN (DHAPUR), Salah satu dapur tombak luk tujuh, sepertiga panjang tombak lurus sedangkan dua pertiga baru ada luk nya, sisi kiri/kanan bawah ada gandiknya berukir naga kadang dihias kinatah, badan kedua naga tersebut menyatu dan menghilang membentuk ada-ada yang besar dan menonjol mengikuti luk.
  • BANJURA, ( EMPU), seorang Empu pada era kerajaan Demak dan jarang tercatat di buku, keris buatannya bentuk ganja datar, rata dan tipis, guru melednya kecil, sirah cicaknya panjang tetapi tidak sampai meruncing pada bagian ujung. Bilahnya sedang dan ramping seperti buatan Empu Majapahit tetapi besinya memberi kesan “kering” berpori dan kurang tempaan. Pamornya sederhana, kembang kacangnya ramping tetapi lingkarannya besar, blumbangan berukuran dalam tapi sempit, sogokan dangkal dan panjangnya cukup, secara keseluruhan memberi kesan wingit.
  • BANYAK ANGREM (DHAPUR), salah satu dapur tombak seperti angsa mengeram, tidak symetris, lebar bagian bawah, permukaan datar tetapi memakai ada-ada tipis di tengah bilah, ricikan lain tidak ada. Dapur ini banyak terdapat pada tombak lama dan dibuat bukan untuk berperang tetapi sebagai pusaka.
  • BANYAK WIDE,(EMPU), hidup jaman Pajajaran, ada yang menyebut namanya Ciung Wanara. Hasil karyanya dengan ganja yang tergolong panjang (ganja wuwung), guru meled juga panjang, sirah cecak membulat tetapi tepat bagian cocor meruncing kecil, besi keris hitam berkesan padat dan liat dan secara keseluruhan memberi kesan angker, wingit.
  • BARU (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris. Bentuk menyerupai daun bambu dengan sedikit lekukan landai di bagian bawah pinggang. Lebar bilah bagian bawah sedikit lebih lebar daripada bagian atas pinggang. Tombak ini memakai bungkul di bagian sor-soran, bilah diatas sor-soran berbentuk ngadal meteng. Dapur Baru ini tergolong popular, banyak dijumpai terutama pada tombak buatan Majapahit dan Belambangan.
  • BARU CEKEL (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah bilah agak kebawah ada tekukan landai membentuk semacam pinggang yang cukup ramping, memakai ada-ada dan bungkul kecil. Sisi bilah paling bawah bentuknya menyudut, tetapi permukaan bilah yang menghadap kebawah bentuknya datar.
  • BARU GRONONG (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, bentuknya pipih, tipis, mempunyai lekukan landai di bagian tengah bilah yang menyerupai pinggang. Lebar bilah bagian atas lebih sempit dibanding bagian bawah pinggang. Diatas metuk ada bungkul. Tombak ini memakai kruwingan di kiri-kanan bagian bungkul tetapi permukaan bilahnya tidak memakai ada-ada.
  • BARU KALANTAKA (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, di bagian sisi tengah bilah ada lekukan landai membentuk semacam pinggang yang tidak begitu ramping. Bagian dibawah pinggang ini lebih besar daripada bagian diatasnya. Memakai ada-ada, dibawah ada-ada ada bungkul kecil. Sisi bilah yang menghadap kearah bawah membulat membentuk semacam separuh elips.
  • BARU KARNA, lihat BARU KUPING.
  • BARU,(KANGJENG KYAI BARU), tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur baru, semula milik Ki Sawunggaling dari Bagelen kemudian diberikan ke Pangeran Mangkubumi melawan penjajahan Belanda.
  • BARU KUPING (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, menyerupai daun bambu, dengan sedikit lekukan landai pada bagian bawahnya. Bentuknya hampir mirip dengan tombak dapur Baru. Lebar bagian bawah pinggang sedikit lebih kecil dari atas pinggang, memakai bungkul diatas mentuk, permukaan bilah tombak diatas bagian bungkul berbentuk ngadal meteng.
  • BARU PENATAS (DHAPUR), salah satu dapur lurus untuk tombak, simetris, pipih dan tipis. Mempunyai lekukan seperti pinggang di tengah, lebar bagian bawah pinggang lebih besar daripada bagian atas, diatas bagian metuk ada bungkul besar, permukaan bilah tombak diatas bungkul berbentuk ngadal meteng.
  • BARU TEROPONG (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah ada tekukan landai seperti pinggang tetapi tidak begitu ramping. Bilahnya agak tebal, tidak memakai ada-ada tetapi memakai bungkul berukuran besar namun tipis dan tidak begitu menonjol. Permukaan bilah tombak berdapur umumnya nggigir sapi.
  • BASSI PAMARO (PAMOR), sebutan bagi pamor Luwu, biasa dipakai orang Malaysia, Singapore dan Brunei dan menjadi bahan dagangan semenjak jaman Majapahit.
  • BATANG GAJAH, (KANGJENG KIAI BATANG GAJAH),  Keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Carita Luk 11, wrangkanya kayu Trembalo, pendoknya emas blimbingan rinaja warna.
  • BATU LAPAK (PAMOR), pamor yang selalu menempati bagian sor-soran sebuah keris, badik, pedang atau tombak. Bentuknya merupakan berkas garis yang melengkung setengah lingkaran atau menyudut dan tergolong pamor miring serta pamor rekan, tuahnya bisa melindungi dari bahaya tak terduga.
  • BAWANG SEBUNGKAL (PAMOR), pamor dengan bentuk mirip dengan irisan bawang, menempati sor-soran keris tergolong pamor miring dan rekan. Tuahnya memelihara ketenangan dan ketentraman rumah tangga.
  • BEKEL JATI (EMPU), hidup di Tuban pada jaman Majapahit. Tanda kerisnya: panjang bilah sedang, condong kedepan sehingga berkesan menunduk, lebar bilah dan ketebalannya cukup, bagian ganja agak sempit dibandingkan buatan Tuban lainnya dan termasuk ganja wuwung. Jika kerisnya berluk, maka luk nya dangkal (kemba), kembang kacangnya bagus tetapi lambe gajahnya tergolong kecil. Sogokannya dangkal dan pendek, janurnya dibuat agak tumpul dan umumnya berpamor Wos Wutah, Bendo Segara, Udan Mas.
  • BENDO SAGODO (PAMOR), pamor yang gambarnya merupakan bentuk gumpalan yang mengelompok rapat, masing-masing gumpalan terpisah jarak 0.5 cm – 1 cm dan tergolong pamor rekan. Tuahnya gampang mencari rezeki dan pamor ini tidak pemilih.
  • BERAS WUTAH, lihat WOS WUTAH.
  • BERAS WUTAH PELET, gambaran pada wrangka kayu Timoho yang berupa bintik besar dan kecil berwarna hitam tersebar tak beraturan, katanya mempunyai tuah yang baik untuk mencari rezeki.
  • BESI KUNING, atau wesi kuning sebutan senjata tradisional yang terbuat logam bewarna kuning biasa berbentuk bukan keris tetapi pangot, patrem, golok pendek dan orang-orang tua mengatakan bahwa besi kuning merupakan campuran unsur besi, timah putih, perak, seng, timbal, tembaga, emas. Dipercaya mempunyai kekuatan gaib menjadi orang kebal terhadap senjata lain.
  • BESUT, lihat MASUH.
  • BETOK (DHAPUR), salah satu dapur keris yang bilahnya lebar dibandingkan bilah keris lainnya. Bilahnya pendek lurus, gandiknya panjang, pejetannya dangkal, dan merupakan keris yang tua umurnya.
  • BIMA KURDA (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 13, memakai kembang kacang, jenggot susun, lambe gajah satu, tanpa sogokan, tanpa tikel alis. Selain itu memakai sraweyan dan greneng lengkap. Selain luk 13 ada juga yang luk 23 dan ukuran kerisnya lebih panjang dari kalawija, ricikannya memakai kembang kacang, lambe gajah dua, sogokannya dua, ukurannya normal, memakai greneng lengkap atau hanya ri pandan.
  • BIRAWA, (KANGJENG KYAI BIRAWA), keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita, luk 11. Wrangkanya terbuat dari kayu Timoho dengan pendok dari emas bertahta berlian. Semula ini punya Sultan HB I yang dianugrahkan ke Pangeran Hadikusuma, putranya, akhirnya setelah berganti ganti pemilik kembali lagi ke Kraton dengan harga 300 ripis.
  • BIRING DRAJIT (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris. Sisi bilah tombak di bagian tengah ada lekukan dalam, bentuknya menyerupai pinggang yang sempit dan ramping, bagian bawah pinggang ini lebih lebar dibandingkan bagian atas pinggang. Di sisi paling bawah ada dua bagian yang menyudut. Tombak ini memakai ada-ada tipis di tengah bilah mulai bawah sampai ke ujung. Separuh bilah tombak kebawah permukaannya berbentuk ngadal meteng tetapi selebihnya datar saja.
  • BIRING LANANG (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus seperti Biring Drajit, Sisi bilah tombak di bagian tengah ada lekukan dalam,bentuknya menyerupai pinggang yang sempit dan ramping, bagian bawah pinggang ini lebih lebar dibandingkan bagian atas pinggang. Di sisi paling bawah ada dua bagian yang menyudut. Tombak ini memakai ada-ada tipis di tengah bilah mulai bawah sampai ke ujung. Separuh bilah tombak kebawah permukaannya berbentuk ngadal meteng tetapi selebihnya datar saja.
  • BLABAR, (KANGJENG KYAI BLABAR), nama pusaka kraton Yogyakarta berdapur Pasopati berpamor sekar pala dengan wrangka kayu cendana, pendok dibuat emas murni dan berbentuk blewehan. Keris ini merupakan putran atau duplikat dari pusaka kraton Surakarta yang juga bernama Kyai Blabar. Semula dimiliki Pangeran Hadikusumo tetapi pada pemerintahan HB V ditarik kembali ke kraton.
  • BLARAK NGIRID (PAMOR), termasuk pamor miring dan rekan bentuknya mirip daun kelapa dengan pelepahnya dan tuahnya untuk kewibawaan dan kepemimpinan, pamor ini kadang disebut Blarak Sinered atau Blarak Ginered. Pamor ini tergolong mahal dan susah pembuatannya.
  • BLANDARAN, LANDEYAN, tangkai tombak sekitar 3 atau 4 meter panjangnya, dahulu digunakan prajurit berkuda mengejar musuh atau acara  Rampogan dan Watangan (latihan perang-perangan untuk prajurit berkuda) setelah ujungnya diganti dengan semacam bahan lunak.
  • BLANDONGAN, alat untuk merendam tosan aji sebelum dicuci dan diwarangi, terbuat dari kayu keras dengan ukuran 70 cm x 20 cm x  15 cm, tengahnya ada lekukan dan kadang diukir. Blandongan disebut juga Kowen.
  • BLAMBANGAN (TANGGUH), pasikutannya demes. Besinya keputihan, dan berkesan demes, serasi. Pamornya nggajih dan menancap pada permukaan bilah secara pandes. Bilah keris tangguh Blambangan berukuran sedang, ujungnya tidak terlalu meruncing. Gandiknya pendek dan miring, ganjanya sebit ron tal, sedangkan sirah cecaknya pendek.
  • BLUMBANGAN, atau Pejetan atau Pijetan adalah bagian keris yang berupa cekungan atau lekukan pada bagian bawah bilah keris letaknya di belakang bagian gandik dan di depan bagian bungkul. 
  • BONANG RINENTENG (PAMOR), tergolong pamor rekan, merupakan garis lurus di tengah bilah keris atau tombak mulai dari ujung pangkal sampai ujung bilah, di kiri-kanan garis ada bulatan bulatan kecil yang menempel garis, antar lingkaran berjarak 1 – 1,5 cm dan bulatan terdiri dari lingkaran yang tersusun. Tuahnya membawa rezeki dan berwibawa tinggi, banyak dimiliki pengusaha . 
  • BONG AMPEL (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, simetris, sisi bilah tengah ada lekukan landai membentuk pinggang yang ramping menyempit. Di sisi bilah bagian bawah ada dua tonjolan menyudut. Permukaan seluruh tombak ini ngadal meteng.
  • BONGGOL, lihat BUNGKUL.
  • BONGKOT, lihat SOR-SORAN.
  • BONTIT, (KANGJENG KYAI BONTIT), pusaka kraton Jogya, berdapur Sabuk Inten, luk , wrangka dari Timoho, pendok bunton dari suasa. Semula milik Penembahan Mangkurat, putra HB II, pada jaman HB V dikembalikan ke Kraton.
  • BOWOROSO, organisasi pecinta keris di Surakarta.
  • BRAJAGUNA I (EMPU), seorang Empu terkenal di jaman Surakarta, banyak yang mengatakan Empu ini berasal dari Madura. Keris dan tombak buatannya terkenal amat kuat dan dapat menembus perisai, banyak menggunakan baja pada pembuatannya. Tanda-tanda lain, bilahnya berukuran agak panjang dibanding keris buatan Mataram, tebalnya sekitar 2 kali lipat dan berbentuk ngadal meteng. Bentuk ganjanya agak melengkung, sirah cicaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya. Guru meled dan wetengannya berukuran sedang. Pamornya rumit, lembut dan biasanya merata di seluruh permukaan bilah, menancapnya pamor pada bilah kuat dan pandes, kalau membuat pamor miring rapi sekali, jalur pamor tidak ada yang bertindihan satu sama lain. Ia membuat hampir semua motif pamor namun yang terbanyak adalah Wos Wutah, Pedaringan Kebak, Ron Ganduru, Wengkon, Naga Rangsang, Kara Welang, Lar Gangsir. Kalau membuat kembang kacang bentuknya serupa gelung wayang. Jalen dan lambe gajahnya berukuran sedang. Sogokannya makin menyempit kearah ujung. Blumbangannya dangkal. Kalau tanpa kembang kacang, gandiknya agak miring. Penampilan keris keras, gagah dan meyakinkan.
  • BRAJAGUNA II  (EMPU), anak dari Empu Brajaguna I, hidup pada jaman Paku Buwono IV di Surakarta, keris buatannya mirip buatan ayahnya hanya agak lebih pendek.
  • BRAJAGUNA III (EMPU), cucu Brajaguna I, hidup dijaman PB V, perbedaan karyanya adalah ganjanya lebih lebar.
  • BRAJAKARYA (EMPU), Empu terkenal jaman Surakarta dan buatannya sering disebut tangguh Mangkubumen. Karyanya dikenali sebagai berikut: ganjanya tergolong ganja Sebit Ron Tal, bentuknya agak melengkung, sirah cecak meruncing di ujungnya, wetengannya ramping, buntut urang melebar di bagian ujungnya. Bilah keris berukuran sedang, posisi agak tegak, besinya matang tempaan, pamor penuh merata di seluruh permukaan bilah, biasanya pamornya nginden, umumnya tegolong pamor mlumah. Kalau membuat kembang kacang seperti gelung wayang, sogokannya agak dalam, janurnya dibuat menyerupai lidi, kalau membuat bagian Da pada Ron Da  ujung-ujungnya runcing dan lekukannya dalam. Kalau tanpa kembang kacang, gandiknya dibuat miring. Secara keseluruhan kerisnya berpenampilan tampan dan gagah walau ukurannya tidak besar.
  • BRAJASETAMA (EMPU), hidup di jaman Sunan PB IX, keris buatannya dengan ganja ramping, mendatar, sirah cecak meruncing bagian ujung, gulu meled serta wetengannya sedang, ujung buntut urangnya melebar. Ukuran bilah sedang besinya hitam keunguan dan matang tempaan, pamor tebal-tebal tapi tidak rapat satu sama lain, motif sederhana, penampilannya gagah meyakinkan, kembang kacang dibuat menyerupai gelung wayang, blumbangan atau pejetan lebar agak dangkal, tetapi sogokannya sempit, dangkal dan melengkung dekat ujung, bagian Da pada Ron Da dibuat besar dan jelas, kalau keris lurus maka gandiknya miring.
  • BRAJASETIKA (EMPU), Empu yang hidup dijaman Surakarta, kerisnya disebut tangguh Mangkubumen. Karyanya dikenali dengan ganjanya tergolong Sebit Ron Tal, sirah cecak meruncing pada bagian ujungnya, gulu meled berukuran sedang, begitu juga wetengannya, ujung buntut urangnya melebar.bilahnya berukuran sedang tetapi tebal, besinya matang tempaan dan berkesan padat, pamornya penuh, rumit dan sering nginden, biasanya pamor mlumah serta teratur rapi. Kembang kacangnya seperti gelung wayang, blumbangannya normal, sogokan agak dalam dan melengkung ujungnya, kalau membuat Da pada Ron Da ujung-ujungnya meruncing tetapi lekukannya tidak begitu dalam, jika tanpa kembang kacang, bagian gandik dibuat miring. Penampilan nya tampan tenang dan meyakinkan.
  • BRAMA DEDALI, (KANGJENG KYAI BRAMA DEDALI), Pusaka kraton Yogyakarta, dapur Tilam Upih, wrangka dari kayu Trembalo, pendok suasa bentuknya blewehan. Semula milik Penembahan Mangkurat dan konon ditemukan di Dieng, Wonosobo.
  • BRONGSONG, salah satu cara memakai keris sebagai pelengkap adat Jawa tengah terutama Surakarta. Keris diselipkan di Sabuk Lontong diantara lipatan kedua dan ketiga, tetapi terlebih dahulu keris harus dibungkus dengan singep sehingga seluruh bagian wrangkanya tidak terlihat. Cara ini digunakan apabila membawa keris Raja/Pangeran sebagai bukti utusannya tetapi yang boleh melihat hanya orang yang dituju. 
  • BRANGGAH, bentuk warangka gaya Yogyakarta, bentuknya khas bagian belakang menyerupai helai daun, itu sebabnya disebut juga godongan. Kesan penampilannya gagah, di Surakarta disebut Ladrang sedang di Madura disebut Daunan.
  • BROJOL (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, ada dua versi, pertama bilah pendek, lebar, tipis, gandiknya polos tipis, pejetan dangkal dan samar-samar, kadang memekai ganja iras tanpa ricikan lainnya. Versi kedua bilahnya sedang dan lurus, gandik polos, pakai pejetan tanpa ricikan lainnya. Beda dengan Tilam Upih, pada dapur Brojol tidak ada alis.
  • BUNGKALAN (PAMOR), bentuk pamor pada ujung keris atau tombak. Pamor apapun kalau pada bagian dekat ujung bilah bentuknya seperti lidah ular bercabang dua disebut pamor bungkalan dan tergolong pamor yang disukai.
  • BUNGKUL, lihat WUNGKUL.
  • BUNTEL MAYIT (PAMOR), pamor yang bentuknya menyerupai lilitan kain menutupi seluruh bilah keris, bedor, pedang atau tombak. Merupakan pamor rekan, paduan pamor miring dan mlumah. Banyak yang beranggapan pamor ini kurang baik tetapi untuk orang yang kuat bisa mudah mendapatkan rezeki, tergolong pamor pemilih.
  • BUNTON (PENDOK), jenis pendok yang menutupi seluruh bagian gandar dari warangka keris. Pendok ini ada yang tanpa hiasan sama sekali, ada pula yang dihiasi ukiran dan pahatan. Pendok jenis ini disukai di Surakarta dan Yogyakarta.
  • BUNTUT CECAK, buntutan atau kepet, bagian paling belakang dari ganja kadang disebut buntut urang walau kurang tepat.
  • BUNTUT URANG, sebutan ujung belakang ganja. Setelah bagian gandok, bagian ganja makin menyempit terus sampai hampir keujung namun dekat ujung ukurannya melebar kembali. Bagian ganja sebelah ujung itu papak tidak meruncing.
  • BUTA IJO, Keris luk 9, ukuran bilah sedang, memakai sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan, gandik polos tanpa ricikan lain lagi.



 
C

  • CACAP, Suatu kebiasaan keliru yang dilakukan pemilik keris dimasa lampau, yaitu merendam bilah kerisnya dengan bisa ular atau isi perut ketonggeng, hal ini bisa merusak bilah .
  • CACING KANIL (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak luk 3, 5 atau 7, mirip cacing menggeliat dan berbentuk beda dengan luk keris biasa, pada cacing kanil maka luk mengarah kesegala arah. Tombak dengan motif cacing kanil tidak pipih tetapi bulat atau persegi, bisa segi 3, 4 atau berbentuk belimbing. Tombak cacing kanil sekarang berubah fungsi bukan sebagai tombak tetapi banyak digunakan sebagai tongkat komando.
  • CALURING (DHAPUR), atau Caluring merupakan dapur keris luk 11, memakai kembang kacang dengan sogokan rangkap tanpa ricikan lain, bilah panjang dan tebal, luknya makin ke ujung makin rapat, keris ini mudah dikenali dari luknya. Ada juga Caluring luk 13 dengan ricikan yang sama.
  • CAMPUR BAWUR, keris luk 3, ukuran bilah sedang, luk ada di atas, bawah dan tengah keris sehingga keris cenderung lurus. sogokan  keris rangkap, memakai greneng dan pejetan.
  • CANCINGAN, lihat KANCINGAN.
  • CARANG MUSTOPO (EMPU), hidup dijaman PB IV, dikenal juga sebagai Empu Kyai Mustopo. Kerisnya dikenali sebagai berikut: ganja model Sebit Ron Tal, gulu meled sempit, buntut cicak model buntut urang, ukuran ganja seimbang dan serasi dengan panjang bilah, bilah ramping dengan posisi agak merunduk, matang tempaan dan rapih. Keris yang lurus rata-rata lebih tebal dibandingkan yang luk. Pamornya sederhana berpenampilan tampan, sopan dan rapi menyenangkan.
  • CARANG SOKA, keris luk 9, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan. 
  • CARITA, keris luk 13, ukuran bilahnya sedang memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan greneng. Ada juga Carita luk 11.
  • CARITA BUNTALA, keris luk 13, dengan bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan, serta kruwingan yang tidak melengkung landai tetapi berbentuk patah kaku. Ada juga luk 15, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, memakai jalen, sraweyan dan ri pandan.
  • CARITA BUNGKEM, merupakan keris kamardikan dengan luk 11.
  • CARITA DALEMAN, keris luk 11, panjang bilah sedang, kembang kacang bungkem, jenggot dan greneng serta lis-lisan dan gusen.
  • CARITA GANDU, keris luk 11, ukuran sedang, kembang kacang, jenggot, lambe gajah satu, sraweyan dan ri pandan.
  • CARITA GENENGAN, keris luk 11, bilah sedang, luknya dalam, kembang kacang, jenggot dan lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan. Dapur ini disebut juga Carita Gunungan.
  • CARITA KANAWA, keris luk 9, panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, dus sogokan normal, sraweyan, lis-lisan, gusen, kruwingan.
  • CARITA KAPRABON, keris luk 11, bilah sedang, gusen sampai keujung bilah, kembang kacang, tikel alis, jenggot, jalen, jalu memet, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandan, greneng tanpa sogokan.
  • CARITA PRASAJA, keris luk 11, bilah sedang, kembang kacang dan lambe gajah dua.
  • CARUBUK, keris luk 7, panjang bilah normal, kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan dan greneng lengkap, ada yang mengatakan harus ditambahi dengan kruwingan.
  • CELURIT, senjata tradisional Madura, mirip arit, sabit tetapi bagian lengkung diujungnya lebih panjang dan runcing.
  • CENDANA (KAYU), bahan pembuat wrangka yang banyak disukai terutama di daerah Surakarta dan sekitarnya. Pohonnya berkayu keras dengan tinggi bisa mencapai 15 meter. Kayu cendana dari Sumbawa terkenal harum baunya lebih dari cendana Jawa. Urat kayu cendana yang bagus disebut ngulit urang, doreng, makin bagus makin mahal harganya.
  • CENGKRONG (DHAPUR),  salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang posisinya agak membungkuk, bagian gandik terletak di belakang, panjang sampai lebih dari setengah bilah, tanpa ricikan apa-apa, beberapa jenis dapur cengkrong ada yang luk 3, 5, 7, luk terletak di ujung keris, dulu banyak dimiliki oleh alim ulama.
  • CENDANA (MINYAK), untuk meminyaki keris, karena mudah menguap dan terlalu kental maka dicampur minyak klentik atau minyak mesin.
  • CEPLOK BANTENG (PELET), pelet kayu timoho yang bintik-bintik besar rapat satu sama lainnya, kadang bersinggungan dan menyebar di seluruh permukaan kayu wrangka. Tuahnya baik untuk kewibawaan.
  • CEPLOK KELOR (PELET), pelet kayu timoho dengan bulatan-bulatan sebesar daun kelor agak lonjong, menyeluruh di wrangka, tuahnya dapat menawarkan ilmu jahat.
  • CINCIN KERIS, lihat Mendak,
  • CIREBON (TANGGUH), pasikutannya wingit. Bilahnya berukuran sedang, tipis,jarang yang memakai ada-ada; besinya hitam kecoklatan dan berkesan kering. Pamornya tergolong kelem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis; sirah cecaknya pendek.
  • CITRO (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 13 mempunyai semacam kembang kacang, dua lambe gajah di tepi bilah menghadap kebawah di dekat bagian mentuk, selain itu memakai ada-ada tipis di sepanjang bilah, kebanyakan buatan Mataram.
  • COCOR, bagian paling depan dari ganja dan merupakan bagian ujung dari sirah cicak. Cocor ada yang tumpul ada yang runcing, kadang disebut cucuk.
  • CUKITAN (PENDOK), pendok yang dihiasi dengan ukiran cukitan, bukan dipahat melainkan “dicukit” dengan alat yang tajam sehingga terjadi alur-alur indah  seperti yang dikehendaki. Selain dipakai di Surakarta, Yogyakarta dan Madura juga di Bali.
  • CONDONG CAMPUR (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan hanya satu di depan dan ukuran panjang sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada, selain itu juga memakai gusen dan lis-lisan.
  • CUNDRIK, salah satu dapur keris lurus berukuran kecil sekitar sejengkal bilahnya umumnya agak tebal dan membungkuk, gandik terletak di belakang berukuran panjang dan terdapat kruwingan yang jelas dan tegas. Sepintas seperti keris Cengkrong.
  • CUNDUK UKEL, keris yang diberikan mertua kepada menantunya sebagai ikatan keluarga, biasanya sebelum diberikan ke menantu terlebih dahulu diberikan kepada anak perempuannya. Bila suatu saat mereka bercerai maka keris itu dikembalikan kepada anak perempuan tersebut.
  • CURIGA, kata lain dari keris yang lebih halus dan sopan.


 

D

  • DADUNG MUNTIR (PAMOR), pamor yang hampir mirip pamor Sada Saler, bedanya garis yang menjulur sepanjamg bilah tidak berbentuk garis biasa tetapi lukisan pamor yang mirip dengan pintalan tambang atau pintalan tali. Tuahnya menambah kewibawaan dan keberanian serta keteguhan hati, tergolong pamor rekan dan banyak terdapat pada keris dan tombak buatan Madura. Termasuk pamor pemilih, tidak setiap orang bisa cocok.
  • DAMAR MURUB, lihat URUBING DILAH.
  • DAN RIRIS, lihat PANDAN IRIS.
  • DANUWARSA, (KANGJENG KYAI DANUWARSA), keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Jalak Sangu Tumpeng, warangkanya dari kayu trembalo, pendoknya dari suasa, merupakan putran dari  KKA KOPEK, buatan Empu Supo dibuat jaman HB V.
  • DHAPUR, adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris, sesuai dengan ricikan yang terdapat pada keris itu dan jumlah luknya. Penamaan dapur keris ada patokannya, ada pembakuannya. Dalam dunia perkerisan, patokan dan pembakuan ini biasanya disebut pakem dapur keris.
  • DARADASIH (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak luk 5, di tengah bilahnya memakai ada-ada yang ukurannya besar dan tebal sehingga terlihat jelas. Bilahnya tebal dan di tepinya ada gusen serta lis-lisan, sisi bilah bagian bawah tombak ini berbentuk menyudut. Ricikan lainnya tidak ada.
  • DARADASIH MENGGAH (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 5. Pada luk pertama terdapat pudak sategal, serta kruwingan di bagian sor-soran, permukaan bilah pada separuh bagian atas cenderung datar tetapi bagian bawah berbentuk ngadal meteng. Sisi bilah yang menghadap terdapat semacam kembang kacang dan dua lambe gajah yang kecil kecil ukurannya.
  • DEDER, bagian hulu keris terbuat dari kayu untuk pegangan keris itu. Bentuk deder ada ratusan, tiap daerah punya ciri sendiri, di Yogyakarta dan Surakarta disebut juga ukiran. Kayunya biasanya dipilih yang gampang diukir tetapi harus keras dan punya urat yang indah. Kayu yang dianggap baik di Jawa adalah kayu Tayuman sedang di Malaysia, Riau, Brunei adalah kayu Kemuning.
  • DEMAK (TANGGUH), pasikutannya wingit. Bilahnya berukuran sedang, besinya hitam kebiru-biruan dan berkesan basah. Pamornya tergolong kalem dan berkesan mengambang. Ganjanya tipis, sirah cecaknya pendek.
  • DELING (PAMOR), nama lain dari Akhodiat di Madura. Kalau menyebar di bilah keris disebut Delung Settong, kalau mengumpul di ujung bilah disebut Deling Pucuk dan kalau di bagian pesi disebut Deling Paksi. 
  • DEWADARU (PELET), nama gambar pada warangka yang berupa garis-garis tipis dan tebal berwarna hitam atau coklat tua berjajar dari atas ke bawah atau miring, tuahnya bisa mendapat keberuntungan. Karena indahnya maka timoho pelet dewadaru banyak dicari orang.
  • DORA MENGGALA (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 5, memakai pudak sategal dan kruwingan, bilah bagian bawah sor-soran agak tebal, tetapi mulai tengah bilah sampai ujung tipis dan datar. Pada sisi bilah uang menghadap ke bawah terdapat bentuk yang menyerupai kembang kacang dan satu lambe gajah berukuran kecil.
  • DORENG (PELET), gambaran warangka kayu timoho berupa jurai-jurai berwarna hitam atau coklat pada permukaan kayu, sepintas mirip kulit harimau. Gambaran ini selain di kayu timoho juga ada pada kayu cendana dan kayu yang lain.
  • DRAJIT, nama keris luk 21, tergolong kalawija, ukuran kerisnya sedikit lebih panjang daripada keris bukan kalawija. Mempunyai kembang kacang, lambe gajah dua dan sraweyan. Tergolong keris langka dan buatan lama.
  • DUNGKUL, lihat WUNGKUL.
  • DUWUNG, padanan kata keris, dianggap lebih halus dan biasa digunakan oleh priyayi Jawa.
  • DWISULA, tombak bercabang dua, ada yang lurus dan ada yang ber-luk 3, 5 atau lebih. Tidak terlalu populer dibandingkan tombak Trisula. Kegunaannya lebih sebagai tombak pusaka yang tidak dipakai secara langsung dalam pertempuran, biasanya dibuat indah bahkan ada yang diberi kinatah.

 


E

  • EKSOTERI KERIS, ilmu mengenai keris yang tampak dari luar dan merupakan lawan dari Esoteri keris.
  • ENDAS BAJA (PAMOR), pamor yang menurut banyak orang bertuah buruk. Katanya pemiliknya akan sering mendapat musibah karena ulahnya sendiri, apa yang dilakukan serba salah. Sebaiknya dibuang atau dilarung. Pamornya selalu terdapat pada bagian sor-soran.
  • ENTO-ENTO, atau ngento-ento merupakan nama desa di Sleman yang pada masa silam merupakan tempat Empu Supo Winangun. Menurunkan Empu Jeno Harumbrojo dan Empu Genyo.
  • ENTO WAYANG (EMPU), Empu yang hidup zaman Kartasura, anak Empu Supanjang dan leluhur Empu Jeno. Tanda-tanda kerisnya tidak tercatat hanya selalu membuat keris gaya Mataraman.
  • EPEK, semacam ikat pinggang tradisional dan merupakan kelengkapan pakaian Jawa, terbuat dari bludru dan kadang dihiasi benang emas atau manik-manik, lebar sekitar 6 cm dan panjang sekitar 95 cm sampai 140 cm. Sebuah epek baru dapat dikenakan bila dilengkapi timang, semacam kepala ikat pinggang, pada umumnya berwarna dasar hitam, kadang ada yang berwarna dasar merah, biru atau hijau, disesuaikan dengan baju yang dipakai.
  • ERI CANGKRING, bagian yang menonjol pada sisi atas di tepi sebuah warangka gaya Surakarta, Yogyakarta, Madura atau Bali. Berbentuk menyudut tajam menonjol sekitar 0.5 cm dan tempatnya sejajar dengan tengah lobang searah dengan garis pesi keris.
  • ERI WADER (PAMOR), pamor yang menyerupai tulang ikan, sepintas seperti pamor Ron Genduru. Bedanya lebih kurus dan tergolong pamor miring. Pembuatannya tergolong sukar, karena dapat dirancang maka termasuk pamor rekan. Pamor ini tergolong pemilih dan dipercaya dapat menambah wibawa pemiliknya.
  • ESOTERI KERIS, ilmu yang memusatkan pada apa yang tidak tampak dari luar, membicarakan mengenai tuah, tanjeg, tayuh, khasiat, daya magis, manfaat, pengaruh, penunggu dan semacamnya. Terlepas dari benar atau tidaknya maka Esoteri ini merupakan salah satu budaya per-kerisan dan dibicarakan juga di negara lain dan kadang sering dibicarakan dari sudut agama.



 
G

  • GABILAHAN, sebutan orang Madura untuk warangka model Gayaman, khususnya bergaya Madura.
  • GADA TAPAN, (KANGKENG KYAI GADA TAPAN), tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gada. Kini KK Gada Tapan dan KK Gada Wahana menjadi dua tombak pendamping pusaka KK Ageng Pleret.
  • GADA WAHANA, (KANGJENG KYAI GADA WAHANA), puasa Kraton Jogya, berdapur Gada dengan hiasan sinarasah emas, berasal dari pemberian pendeta dari Pratiwagung pada Sri Sultan HB III.
  • GADING, bahan baku untuk warangka yang banyak macamnya. Gading gajah Afrika umumnya panjangnya mencapai 2 meter dengan berat rata-rata 21 kg, sedang gajah Asia beratnya sekitar 19 kg dengan panjang rata-rata 160 cm saja. Gajah Sumatra gadingnya termasuk paling mahal dengan warna lebih putih dan keretakan tidak banyak. Gajah Thailand agak kekuningan warna gadingnya dan keretakan agak banyak, sedang gajah Afrika banyak retak gadingnya. Sebagian pecinta keris menolak menggunakan warangka gading ini karena kekerasannya dapat membuat aus bilah keris dan merusak pamor. Itulah sebabnya keris pusaka tidak ada yang diberi warangka gading.
  • GAJAH MANGLAR, (KANGJENG KYAI GAJAH MANGLAR), keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gajah Manglar, warangka dari kayu  Timoho, pendoknya dari emas bertahtakan intan berlian. Semula milik Sri Sultan HB I, diserahkan kepada putranya Pangeran Demang dan pada zaman Sultan HB V kembali ke Kraton.
  • GAJAH SINGA (KINATAH), nama salah satu jenis hiasan kinatah yang ditempatkan di bagian bawah ganja. Permukaan yang tidak tertutup hiasan gajah singa dihiasi ornamen hiasan lain. Kinatah Gajah Singa diberikan karena keris tersebut telah berjasa membantu pemiliknya, terjadi pada pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo. Waktu itu di daerah Pati, Jawa Tengah bagian utara terjadi pemberontakan yang dipimpin Adipati Pragola. Sesudah pemberontakan berhasil dipadamkan maka Raja Mataram memberikan tanda kehormatan Kinatah Gajah Singa pada prajuritnya. Semua keris para prajurit sampai perwira dikumpulkan dan diberi hiasan Kinatah Gajah Singa kemudian dikembalikan lagi kepada yang punya, ini untuk peringatan Mataram memadamkan pemberontakan Pati karena Gajah Singa artinya perlambang angka tahun sesuai dengan candra sengkala, Gajah melambangkan angka 8 sedangkan Singa angka 5, Curiga (keris) angka 5 dan Tunggal melambangkan angka 1 dan karena candra sengkala (lambang angka tahun) selalu dibaca dari belakang maka yang dimaksud adalah 1558 kalender Jawa. Walau penghargaan kinatah Gajah Singa diberikan pada zaman Mataram tetapi ada juga keris buatan Majapahit, Tuban, Jenggala dan Singasari menggunakan hiasan itu.
  • GANA KIKIK (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus yang panjang bilahnya berukuran sedang. Keris ini memakai gusen, ada-adanya tebal dan nyata, gandik keris ini diukir dengan bentuk srigala sedang melolong, kaki depan tegak sedang kaki belakang ditekuk. Ada yang menyebutnya dapur Kikik saja atau Naga Kikik. Dapur ini tergolong populer dan banyak penggemarnya karena indah bentuknya dan tinggi mutunya.
  • GANDAR, adalah salah satu bagian dari warangka keris, dibuat dari kayu yang tidak terlalu keras, bentuknya bulat panjang dan pipih, kegunaannya untuk melindungi bilah keris. Banyak gandar dilapisi selongsong logam berukir indah dan disebut pendok.
  • GANDAR IRAS, warangka yang menyatu dengan gandar, jadi seluruhnya dibuat dari satu bongkah kayu tanpa sambungan apapun. Warangka Gandar Iras selalu lebih mahal dari warangka biasa karena bahan kayu yang utuh dan cukup untuk membuat warangka ini sulit dicari dan banyak bahan terbuang dalam proses pembuatannya.
  • GANDAWISESA, (KANGJENG KYAI GANDA WISESA), keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Naga Siluman, warangka dari kayu Trembalo dan pendok bertahta rajawarna. Keris ini buatan Penembahan Mangkurat di zaman pemerintahan Sri Sultan HB V.
  • GANDIK, adalah bagian “raut muka” dari sebilah keris. Ada gandik polos, ada yang dilengkapi racikan lain. Letaknya tepat diatas sirah cecak. Bagian gandik ini hampir selalu berada di bagian depan keris, hanya pada beberapa dapur keris antara lain dapur “cengkrong” yang letaknya di belakang dari bilah keris. Kata “gandik” dalam bahasa Jawa berarti batu penggilas yang bentuknya bulat panjang. Ukuran dan ketebalannya bermacam-macam.
  • GANJA, bagian bawah dari sebilah keris, seolah-olah merupakan alas atau dasar keris tersebut. Pada bagian tengahnya ada lobang untuk memasukan bagian pesi. Bagian bilah dan bagian ganja dari sebilah keris merupakan kesatuan yang takterpisahkan, melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Ganja mewakili lambang yoni sedang bilahnya melambangkan lingga. Bentuknya sepintas mirip buntut cecak tanpa kaki. Bagian depanya mirip kepala cecak disebut sirah cecak, begitu pula bagian perut dan ekornya. Bagian “perut” ganja disebut Wetengan atau Gendok, sedang bagian “ekor” disebut buntut cecak. Ragam bentuk ganja ada beberapa macam: ganja Sebit Ron Tal, Wulung, Wilut, Dungkul, Kelap Lintah. Di Semenanjung  Melayu, Brunei, Serawak dan Sabah serta Riau disebut juga Aring, namun sering disebut ganja saja.
  • GANJA WULUNG,  Ganja yang tidak berpamor. Banyak pertanyaan mengapa kerisnya berpamor bagus sedangkan ganjanya tidak berpamor? Pertama, keris itu adalah keris yang bagus kemudian dibuatkan putran-nya (duplikat), bagian ganja keris yang bagus itu dilepas lalu dijadikan campuran bahan baku pembuatan keris duplikat, sedangkan keris aslinya dibuatkan ganja wulung. Kedua, pada jaman dulu banyak orang yang memahami ilmu keris terutama isoterinya, dengan hanya melihat bagian ganjanya yang tampak orang akan menduga keris itu berdapur apa, pamornya apa, dan apa tuahnya, dengan demikian apabila orang tersebut telah tertebak apa tuah kerisnya dia merasa seperti “ditelanjangi” sehingga untuk menutupinya dia memesan ganja wulung. Ketiga karena ganjanya rusak dan diganti.
  • GANDRUNG (PELET), gambaran pada warangka kayu Timoho berupa bulatan besar tidak teratur dipermukaan, selain indah bertuah baik dan disenangi orang umum, juga banyak dicari oleh Dalang.
  • GAYAMAN, nama salah satu bentuk warangka. Di daerah Surakarta dan Yogyakarta, mirip bentuk buah gayam, makanya disebut gayaman.  Bentuk gayaman Yogyakarta agak beda dengan gayaman Surakarta, begitu pula gayaman Madura (gabilahan), warangka ini paling banyak dipakai orang karena lebih sederhana, ringkas ukurannya dan tidak mudah patah dan umum digunakan sehari-hari sebagai kelengkapan pakaian daerah.
  • GEDONG PUSAKA, bangunan khusus di keratom tempat menyimpan pusaka, hanya petugas khusus dan kerabat raja tertentu yang boleh masuk.
  • GENDOK, atau wetengan atau waduk adalah nama bagian tengah ganja, bentuknya menggembung bagaikan perut kenyang. Di tengah bagian gendok terdapat lubang untuk memasukan pesi. Sebagian orang menyebutnya wadukan.
  • GENYODIHARDJO, pandai keris dari Yogyakarta, kakak empu Jeno. Garapannya masih kalah dari empu Genyo.
  • GIRIREJO, (KANGJENG KYAI GIRIREJO), keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita luk 11, warangka dari kayu Timoho, pendok slorok terbuat dari suasa, sedang seloroknya dari emas murni. Keris ini dibeli Sri Sultan HB V dari abdi dalem bernama Bekel Wasadikara.
  • GRENENG, salah satu bagian keris yang merupakan bagian tepi dari punggung keris sebelah pangkal. Bagian tepi bilah ini bentuknya menyerupai gerigi dengan ujung-ujung runcing. Bentuk variasi dari gerigi ini berbeda dari daerah satu ke yang lain tetapi bentuk dasarnya sama. Ada yang mengatakan bahwa bentuk greneng merupakan tanda-tangan sang empu karena setiap empu terutama bagian Ron Da selalu berbeda satu dengan lainnya.
  • GODONG ANDONG (DHAPUR), salah satu dapur tombak bilah lurus dan bilahnya simetris, bentuknya mirip gadong andong. Di tengah memakai ada-ada dari pangkal hingga ujung bilah. Ricikan lain tidak ada. Dapur ini banyak terdapat pada tombak kuno terutama buatan zaman Pajajaran dan Segaluh.
  • GODONG DADAP (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus seperti daun dadap, lebar, simetris dan tipis. Di tengah bilah dari bawah sampai atas memakai ada-ada tipis, ricikan yang lain tidak ada. Biasanya tombak ini berukuran kecil kadang disebut dapur Ron Dadap.
  • GODONG SEDAH (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus berukuran kecil, menyerupai daun sirih, lebar di tengah, pipih, simetris dan tipis, bagian tengah dari bawah ke ujung terdapat ada-ada, biasa disebut Ron Sedah.
  • GODONG PRING (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus seperti daun bambu, simetris kiri dan kanan, bilahnya tipis, hampir tak ada ada-ada, pada bagian bawah ada lekukan landai yang berbentuk semacam pinggang. Pamor ini tergolong populer dan banyak dijumpai.
  • GOLOK, salah satu jenis pedang sabet dan agak berat, bentuknya beragam umumnya berbentuk lameng pendek bagian punggungnya cembung  pada ujungnya, sedang bagian depannya lurus. Yang tajam hanya sisi depannya.
  • GOTHITE (BESI), mineral besi terdiri dari trioksida besi yang terikat air berwarna kekuningan, merah dan kecoklatan. Rumus kimianya Fe2O3.H2O. Besi ini kurang baik untuk bahan keris karena mudah keropos dan berpori.
  • GUMBOLO GENI (PAMOR), pamor yang menyerupai binatang kala atau ketonggeng dengan ekor mencuat keatas. Pamor ini tergolong baik untuk menolak sesuatu yang tidak dikehendaki dan tergolong pemilih. Pamor ini selalu terletak di sor-soran.
  • GULING (EMPU), Empu terkenal di zaman Mataram. Karya karyanya demikian indah. Tanda- tandanya adalah: ukuran bilah lebih besar dari rata-rata buatan Majapahit tapi lebih ramping, ganjanya melengkung, gulu melednya sempit, sirah cecak berbentuk lonjong dan meruncing  pada ujungnya, buntut urangnya berbentuk nguceng mati dan tidak pakai tunggakan. Banyak keris karya Ki Empu Guling memakai Ganja Wulung. Besi yang dipakai 2 macam, yaitu hitam keabu-abuan di bagian tengah dan hitam legam di bagian pinggir bilah. Pamornya rumit dan halus, lembut dan padat. Penampilan keris secara keseluruhan memberi kesan gagah, berwibawa dan anggun. Kalau membuat kembang kacang bentuknya melingkar sekali, jalennya pendek tapi lambe gajahnya menonjol panjang. Sogokannya dangkal tapi panjang, janurnya berbentuk mirip lidi, tetap kecil sampai kebawah. Kalau membuat bagian Dha pada Ron Dha, lekukannya tergolong dangkal. jika tidak memakai kembang kacang maka gandiknya agak panjang dan tidak begitu miring.
  • GULU MELED, salah satu bagian dari ganja yang letaknya dibelakang sirah cecak. Di bagian gulu meled ini, ukuran ganjanya menyempit dibandingkan dengan bagian depannya. Jadi mirip bagian leher seekor cicak.
  • GUNAWISESA, (KANGJENG KYAI GUNAWISESA), pusaka Keraton Yogyakarta, berdapur Carita dengan bagian ganja bertahtakan intan. Warangkanya dari kayu Timoho dengan pendok emas rajawarna. Keris ini buatan Empu keraton pada jaman pemerintahan Sri Sultan HB V.
  • GUNUNGAN (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak yang bentuknya menyerupai gunungan wayang kulit. Tombak ini umumnya menyerupai gunungan wayang kulit, berbilah tipis dan lebar. Selain ada-ada pada bagian sor-soran tombak ini tidak punya ricikan apapun.
  • GUTUK API, (KANGJENG KYAI GUTUK API), keris pusaka keraton Yogyakarta, berdapur Jalak, warangkanya dari kayu Timaha, pendoknya jenis blewahan terbuat dari emas bertahtakan intan permata raja warna. Semula milik Sri Sultan HB I diberikan ke Pangeran Adinegara, putranya, selanjutnya jatuh ketangan Temenggung Mertadiningrat dan dikembalikan ke keraton pada mas Sri Sultan HB V.
  • GUSEN, adalah daerah sempit sepanjang tepi bilah keris atau tombak. Daerah sempit itu yang di batasi oleh tepi bilah yang tajam dengan garis lis-lisan.
  • GUNA, KYAI (EMPU), Empu terkenal yang hidup di jaman penjajahan Belanda, tinggal di Magetan, Madiun. Kerisnya berukuran panjang dan besar dan pada umumnya berdapur lurus. Karena dari bahan baja maka keris Kyai Guna terkenal amat kuat dan dapat melubangi kepingan logam. Sampai saat ini keris buatan Kyai Guna masih populer di daerah Madiun, Ponorogo dan sekitarnya. Banyak diantaranya tidak memakai bahan pamor, orang Madiun dan Jawa Timur menyebutnya keris pamor waja.




H

  • HARJAMULYA (KANGJENG KYAI HARJAMULYA), salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Cengkrong, warangka dari kayu Timoho, pendok blewahan terbuat dari emas, dengan ukiran bahan gading. Keris ini didapat Sri Sultan Hamengku Buwono II dari “Kangjeng Gubermen” sewaktu Sultan ditawan di Penang.
  • HULU  PEKAKAK, nama hulu keris terkenal di Semenanjung Malaka, Riau, Jambi, Serawak, Brunei dan Sabah, terbuat dari kayu keras, gading atau perak. Bentuknya menyerupai kepala raksasa dengan mata besar dan hidung panjang yang distilir. Di Jawa bentuk ini dijumpai juga di daerah Surakarta dan disebut Rajamala.
  • HULU BURUNG, nama salah satu jenis hulu keris berbentuk burung, bentuk ini sudah jarang dipakai namun dulu banyak dibuat orang di Jambi, Bangkinang, Riau dan Semenanjung Melayu serta Pathani (Thailand Selatan). Terbuat dari bahan kayu yang keras, gading atau gigi ikan duyung, bahkan ada pula yang dari perak.





I

  • ILAT-ILATAN, KENDIT, nama gambar pelet pada kayu Timoho. Gambarnya mirip pelet kendit biasa tetapi tidak menyambung dan agak bergelombang, lagi pula garis tepi pelet tidak rata lurus melainkan seperti sobek-sobek. Sepintas lalu seperti lidah api yang menjulur, oleh karena itu dinamakan kendit ilat-ilatan. Tuah pelet ini baik, pemiliknya mudah “mengikat” pengikut dan orang di bawah pengaruhnya sehingga banyak dicari mereka yang ingin menjadi pemimpin.
  • ILINING WARIH (PAMOR), nama pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis membujur dari pangkal keujung bilah. Garis-garis ini ada yang utuh dan ada yang putus-putus, tetapi banyak yang bercabang. Pamor ini tergolong pamor rekan, tuahnya memperluas pergaulan dengan lapisan  masyarakat. Pamor ini tidak memilih, ada yang menyebutnya banyu mili atau toya mili. Sepintas pamor ini mirip pamor Adeg, bedanya pamor ini tidak sehalus pamor Adeg, lagi pula garis-garis tersebut menampilkan kesan seperti air yang mengalir.
  • ILMENIT (BESI), jenis material besi terdiri dari trioksida besi-titanium, berwarna hitam- metalik atau setengah metalik, banyak dijumpai dalam pasir besi, terkenal dengan nama pasir Ilmenit. Rumus kimianya Fe2O.TiO2. Keris-keris buatan pulau Jawa diduga banyak menggunakan bahan mineral ini.
  • INDARTO, MRANGGI, ahli pembuat Warangka dari Surakarta. Alamatnya , jalan Nirbitan no 3, Tipes, Surakarta.
  • INLAY, salah satu cara menghias tosan aji. Caranya dengan membuat guratan di permukaan bilah, alur yang terjadi kemudian diisi dengan cairan emas atau perak. Teknik ini banyak digunakan untuk membuat pedang di Iran terutama di kota Isfahan dan Shiraz, di Jawa disebut teknik Sinarasah. Dalam pembuatannya teknik Inlay lebih mudah daripada pembuatan kinatah.
 



J

  • JAKA LOLA, lihat KALOLA
  • JAKA PRATAMA, (KANGJENG KYAI JAKA PRATAMA), nama salah satu pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Sengkelat Luk 13, warangkanya dari kayu Timoho dengan pendok emas bertahtakan Raja Werdi. Keris ini merupakan duplikat (putran) dari KK Sengkelat yang dibuat di halaman Kraton. Tadinya milik Penembahan Mangkurat, kemudian ditarik ke Kraton di masa Sri Sultan HB V.
  • JAKA SURA (EMPU),  Empu yang hidup di jaman Majapahit, tinggal di kabupaten Jenu, Majapahit, sehingga dikenal juga dengan nama Empu Adipati Jenu. Keris buatannya mempunyai ciri, garis ganjanya datar termasuk Ganja Wuwung, bagian sirah cecak meruncing di bagian ujungnya. Ganja ini berukuran “agak gemuk” dibanding dengan ukuran bilah kerisnya. Ukuran bilahnya sedang, pamornya rumit dan halus. Besi yang digunakan hitam legam berserat halus. Bilah keris tidak terlalu menunduk dibanding dengan keris buatan Majapahit lainnya. Kalau membuat kembang kacang selalu berbentuk Nguku Bima, lambe gajahnya panjang, blumbangannya agak dalam, begitu pula sogokannya dalam dan panjang, bagian janurnya dibuat tajam, tikel alisnya juga dalam. Secara keseluruhan keris buatan Empu ini berpenampilan keras gagah walau ukuran bilahnya tergolong kecil.
  • JAKA TUWA (DHAPUR), nama salah satu dapur keris, panjang bilahnya sedang, lurus, gandiknya polos, pakai tikel alis, pejetan dan sogokan rangkap tapi pendek. Panjang sogokannya hanya separuh dari ukuran normal, ricikan lain tidak ada. Kadang disebut juga Jaka Upa.
  • JAKA TUWA, (KANGJENG KYAI JAKA TUWA), keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Pandawa Paniwen Panji Sekar, warangka dari kayu Timoho Bosokan Kendit Putih, pendoknya blewahan terbuat dari suasa. Semula milik Adipati Purwadiningrat dari Magetan diberikan ke putrinya Kangjang Ratu Kedaton, kemudian menjadi permaisuri Sri Sultan HB II sehingga kerisnya juga menjadi pusaka kraton.
  • JAKA UPA, lihat JAKA TUWA.
  • JAKA PITURUN, lihat JAKA PITURUN.
  • JALAK (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus ukuran bilah lebar, panjangnya sedang, sor-soran agak tebal, gandiknya polos, pejetannya dangkal, memiliki sogokan rangkap.  Dibanding sogokan keris lain maka sogokan keris ini tergolong sempit.
  • JALAK DINDING, atau JALAK DINGIN, keris bilah lurus, panjang bilahnya sedang, memakai gusen, pejetan dan pakai tingil.  Sepintas mirip sekali dengan keris Tilam Sari, bedanya terletak pada gusen.
  • JALAK BUDA, keris yang bilahnya lebar, pendek dan lurus. Gandiknya polos, pejetannya dangkal, sogokan rangkap dan tipis, kadang pakai tinggil. Permukaan keris ini tidak rata melainkan kropos bopeng. Besinya mempunyai kesan ngelempung bagai tanah liat.
  • JALAK MAKARA (PAMOR), seperti pamor Jalak hanya bagian bawah gandinya diukir timbul Makara..
  • JALAK NGORE (DHAPUR), adalah salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang, ada-adanya terlihat jelas dan tebal sampai keujung bilah, gandik polos, pakai pejetan, sraweyan dan greneng.
  • JALAK PITURUN, atau disebut juga Jaka Piturun, keris lurus dengan panjang sedang dan gandik polos, memakai pejetan, tingil, ada-adanya jelas dan sogokannya rangkap. Bentuknya mirip  Jalak Sangu Tumpeng, bedanya Jalak Piturun tidak pakai tikel alis dan ada-adanya tidak jelas.
  • JALAK NGUWUH, keris lurus dengan panjang sedang, gandik polos, memakai pejetan dan tingil. Ada-ada terlihat jelas dan tebal, sampai keujung bilah. Bentuknya mirip Tilam Sari, kadang dinamakan  Jalak Nguwoh.
  • JALAK NYUCUP MADU, keris lurus, panjangnya normal, pejetan, gandik polos, greneng dan sogokan berukuran pendek di depan. Umumnya sogokan sempit dan dalam, memakai tikel alis.
  • JALAK SANGU TUMPENG (DHAPUR), salah satu dapur keris bilah lurus, ukurannya sedang, gandiknya polos memakai tikel alis, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lain tak ada. Tuahnya memudahkan mencari rejeki dan pamornya tidak pemilih. Biasanya dipunyai pedagang, pegawai Bank, pengusaha.
  • JALEN, bagian keris yang berbentuk tonjolan runcing, hanya satu buah, letaknya persis di ketiak kembang kacang.
  • JALAK SUMELANG GANDRING,  keris dapur lurus, bilah sedang, gandik polos, pejetan dan sogokan satu di depan. Sogokan belakang tidak ada, memakai tikel alai, kruwingan dan tingil. Bagian ada-adanya cukup jelas.
  • JALU MEMET, nama bagian keris yang berupa tonjolan runcing, kecil, pada bagian paling bawah dari gandik. Di atas bagian Jalu Memet ini hampir selalu ada Lambe Gajah.
  • JAMANG MURUB, keris dapur lurus, panjang bilah sedang, bentuknya khas, karena gandiknya polos lebih miring dibanding gandik keris lain, memakai blumbangan, sogokan rangkap berukuran pendek, memakai lis-lisan dan gusen, ada-adanya cukup jelas.
  • JANGKUNG MANGKUNEGORO, lihat Segoro Winotan.
  • JANGKUNG, keris luk 3 ukurannya panjang, bilahnya  sedang, kembang kacang berbentuk gula milir, sogokan rangkap dengan ri pandan.
  • JANGKUNG PACAR, keris luk 3 panjang bilahnya sedang, kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, sogokan depan berukuran panjang, ada yang sampai tengah bilah dan ada yang sampai pucuk.
  • JAPAN (EMPU), terkenal di jaman Surakarta Hadiningrat. Keris buatannya berciri ganjanya agak melengkung, gulu melednya agak gemuk, sirah cicaknya meruncing pada bagian ujungnya, wetengannya meramping, buntut urangnya melebar, bilahnya berukuran sedang, besi tempaannya matang, pamornya menancap lumer pandes pada permukaan bilahnya, motif pamor sederhana, Wos Wutah, Pendaringan Kebak dan pamor sejenis. Bilahnya tidak begitu condong kedepan dibanding dengan keris buatan Surakarta lainnya. Kalau membuat kembang kacang mirip gelung wayang, sogokan agak dalam dan makin meruncing keujung, blumbangannya lebar, dalamnya cukup. Kalau tanpa kembang kacang, gandiknya miring. Secara keseluruhan berpenampilan berani dan berwibawa.
  • JARAN GUYANG, keris dengan Luk 7, gandiknya polos, pakai blumbangan, tingil atau tidak ada tingil melainkan greneng wuwung.
  • JAKASUKADGA (EMPU), terkenal dijaman PAKU BUWONO IX di Surakarta, buatannya banyak dicintai penggemar keris karena apik dan rapi. Pamornya nginden, ukurannya sedang, tidak terlalu tebal, besinya matang tempaan dan berwarna kebiruan, biasanya berpamor wos wutah, Pendaringan Kebak, Bendo Segoro, Buntut pari dan sejenisnya. Bagian ganja mendatar, sirah cicak berukuran sedang, guru meled dan wetengannya juga sedang, buntut urang melebar diujungnya, kembang kacangnya dibuat menyerupai gelung wayang, lambe gajahnya manis, sogokannya dalam, makin keujung makin sempit, bagian Dha pada Ron Dha dibuat rapi dan jelas. Jika mempunyai luk maka luknya mempunyai lekukan yang dalam sehingga secara keseluruhan berpenampilan menarik hati, tampan dan anggun.
  • JARUDEH, keris luk 9, ukuran sedang, kembang kacang dan lambe gajah satu, memakai jenggot dan sogokan.
  • JARUMAN, keris luk 9, ukuran bilah sedang, sogokan rangkap dan memakai sraweyan, gandiknya polos.
  • JAWA DEMAM, hulu keris yang dikenal di Semenanjung Malaysia, Jambi, Riau, Brunei, Sabah, berbentuk manusia dengan ikat kapala. Sedang melipat tangan di depan. Bentuk distilir dengan indah terkadang masih dihiasi dengan ukiran halus dan rumit. Umumnya dari kayu keras, gading atau perak.
  • JAROT ASEM (PAMOR), nama pamor keris atau tombak yang tergolong langka. Gambarnya menyerupai serabut kasar saling menyilang tetapi tidak saling tindih, tergolong pamor sukar pembuatannya dan masuk pamor rekan. Tidak memilih dan juga bertuah pemiliknya lebih teguh  hatinya dan besar tekadnya.
  • JENO HARUMBROJO (EMPU), Kalangan pakar dan penggemar mengakui bahwa Empu yang ada di Jawa saat ini tinggal satu, yaitu Empu Djeno Harumbrodjo yang tinggal di desa Gatak, Sleman Yogyakarta (15 km barat Yogya) dari silsilahnya Empu ini memang keturunan ke 15 dari Empu Supo pada jaman kerajaan Majapahit (abad 13).
  • JENGGOT, atau JANGGUT, nama bagian keris yang bentuknya berupa tonjolan runcing yang terletak di “dahi” kembang kacang. Jumlah tonjolan ini pada umumnya tiga buah berderetan.
  • JENGGALA (TANGGUH), pasikutannya luwes, birawa. Besinya agak kehitaman, berpamor lumer pandes, tetapi ada pula yang mubyar. Ukuran panjang bilahnya agak berlebihan dibanding tangguh lainnya, demikian juga lebar bilahnya, terutama di bagian sor-soran. Luknya luwes merata, sirah cecak pada ganja bentuknya lonjong memanjang.
  • JERUK NIPIS, lihat NIPIS.
  • JIMAT, (KANGJENG KYAI JIMAT), salah satu Tombak Pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur  Kudup Gambir, dimiliki Sri Sultan HB I sejak masih menjadi Pangeran Mangkubumi.
  • JIRAK (EMPU), terkenal di daerah Tuban jaman akhir Majapahit sekitar abad 12. Keris buatannya bertanda khusus, besinya keras, kering tapi padat. Pamornya lembut menggerombol rapat, kebanyakan Wos Wutah atau Ngulit Semangka. Bentuk bilah manis menyenangkan, bagian  “pinggang” bilahnya menyempit ramping, panjang bilah sedang, tebal tipisnya cukup. Kalau pakai sogokan dibuat dangkal, gandiknya pendek ganjanya tergolong ganja wuwung, guru meled dan bagian ganjanya sempit. Secara keseluruhan keris ini berpenampilan ayu, cantik dan anggun.
  • JOHAN MANGANKALA, salah satu dapur keris luk 13, panjangnya normal, gandik polos, dua sogokan normal, sraweyan dan greneng lengkap.
  • JWALANA, lihat Pamor Tiban.
 


K

  • KACANG, KI (EMPU), terkenal di daerah Madura pada jaman Majapahit mulai berdiri. Hasil karyanya ditandai dengan bilah lebar, ukurannya agak lebih panjang dari keris lainnya, besinya keras berpori halus namun karena mengelompok ada kesan kasar. Ganjanya menampilkan kesan miring, kedudukan keris pada ganja miring kedepan sehingga ada kesan menunduk sopan. Bagian gandiknya miring, kalau memakai kembang kacang maka bagian itu relatip besar tetapi ramping, kesannya keris keras, kasar tapi tidak sombong.
  • KAGOK, model warangka atau ukiran hulu keris yang tidak bergaya Yogyakarta atau Surakarta. Warangka gaya Surakarta mengikuti gaya pesisiran dengan sedikit pembaharuan pada bentuknya sedang warangka gaya Yogyakarta mengikuti gaya Tunggaksemi dengan sedikit pembaharuan pula. Warangka model kagok dibuat di daerah yang tidak fanatik model Surakarta atau Yogya misalkan Kedu, Banyumas, Bagelen, Jepara tetapi masing masing daerah juga punya ciri khas daerah masing-masing.
  • KAHURIPAN (TANGGUH), pasikutannya hambar, kurang semu. Warna besinya agak kehitaman, biasanya berpamor sanak, tetapi ada pula yang mubyar. Ganjanya agak tinggi, tetapi tidak begitu lebar. Ukuran panjang bilahnya sedang, luknya tidak merata, makin ke ujung makin rapat. Ada kalanya keris tangguh Kahuripan berganja iras, namun banyak juga yang tidak.
  • KALA CAKRA (KINATAH), hiasan berupa pahatan atau relief pada bilah keris atau tombak. Bentuknya berupa binatang Kala dan sebuah lingkaran Cakra. Penambahan ini dimaksudkan sebagai rajah, yakni gambar yang dianggap mempunyai tuah tertentu. Kinatah ini ada yang dilapis emas atau perak.
  • KALA LUNGA, keris Luk 23, dengan ukuran lebih panjang dari keris biasa memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet. Memakai sogokan rangkap dengan ukuran normal, sraweyan dan greneng lengkap. Termasuk keris langka, seandainya ada biasanya keris lama.
  • KALA NADAH, keris luk 5, memakai pejetan dan sraweyan, ada sogokan rangkap tetapi hanya pada satu sisi, sisi lain polos tanpa sogokan. Panjang bilah sedang dan termasuk keris langka.
  • KALA TINANTANG, keris luk 21, ukuran lebih panjang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, ukuran normal, memakai sraweyan dan greneng lengkap. Tergolong keris langka dan buatan lama.
  • KALAWIJA, keris yang luknya lebih besar dari 13. Menurut berita, semua keris yang dibuat lebih dari luk 13 diperuntukan khusus untuk mereka yang dinilai masyarakat mempunyai penampilan atau pribadi yang lain umpamanya cacat badan, ahli sastra, tari dan sebagainya.
  • KANCINGAN, keris dengan Luk 17, ricikannya sederhana, hanya kembang kacang, lambe gajah satu dan tingil saja.
  • KANDA BASUKI, keris lurus, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, tetapi memakai Jalu Memet dan greneng lengkap.
  • KALIANJIR (EMPU), hidup di jaman Panembahan Senopati, Mataram. Tanda-tanda kerisnya, ganja model Sebit Ron Tal ukuran sedang, sirah cecak agak kecil, gulu melednya sempit. Yang terbanyak memakai ganja wuwung, tidak memakai pamor. Bilahnya berukuran sedang, baik panjang, lebar maupun tebalnya. Kalau membuat luk maka terlihat menyenangkan, kembang kacang seperti gelung wayang, sogokan serasi dan berukuran dalam, jika membuat pejetan atau blumbangan agak sempit dan dalam ukurannya. Pamornya tidak tergolong meriah dan biasanya  Pulo Tirto. Keris buatannya berkesan luwes menyenangkan tetapi wingit dan angker. Katanya baik untuk pegawai negeri untuk mengangkat derajatnya.
  • KAMALAN, ramuan dari campuran bubuk belerang, garam dapur dan kadang air jeruk nipis (jeruk pecel), gunanya untuk menuakan keris, tombak dan barang pusaka lainnya, keris yang sudah dikamal maka permukaannya akan terkikis sehingga tidak tampak bekas gerinda, kikir atau asahan.
  • KEMALO (PENDOK), atau Kemalon, adalah pendok yang diberi warna. Bahan pendok  umumnya logam murah seperti kuningan atau tembaga, warna kemalo lazim yang dipakai adalah hijau, merah, hitam dan coklat.warna itu mempunyai arti dan kedudukan si pemakai di lingkungan kraton. Pewarnaan pendok bukan dengan cat tetapi biasanya dengan bahan tradisional.
  • KANDANGAN, desa di kawasan Sumenep, Madura bekas tempat tinggal Empu Keleng.
  • KANTAR, keris luk 13, ukuran bilah sedang memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan.
  • KANYUT, bagian keris letaknya diujung belakang ganja, dibagian buntuk cecak yang berbentuk buntut urang, bentuknya menyerupai duri pipih yang melengkung runcing, jadi seakan akan buntut urang itu dilengkungkan keatas, sebuah kanyut tidak mungkin dimiliki oleh ganja yang buntut cecaknya berbentuk nguceng mati.
  • KARACAN (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 7, sisi bilah paling bawah berbentuk menyudut, permukaan bilahnya ngadal meteng dengan ada-ada yang hampir tak terlihat karena tipis, tombak ini juga memakai bungkul tetapi kecil dan tipis. Lebar tombak ini di bagian bawah agak jauh lebih lebar dibanding bagian tengahnya. Karacan termasuk dapur tombak yang langka.
  • KARANG KIJANG  (BESI), penamaan atas salah satu jenis besi, menurut Ronggowarsito. Besi Karang Kijang adalah besi yang berurat, uratnya seperti air laut, warnya hitam kebiruan. 
  • KARA WELANG (DHAPUR), salah satu dapur keris Luk 13, ukuran sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah hanya satu dan ri pandan.
  • KARIMO, pembuat keris yang hidup di Bangil, Jawa Timur. Hidup di jaman Belanda. Keris dan tombaknya biasanya berukuran kecil dan sederhana garapannya.
  • KARNA TANDING, lihat KARNA TINANDING,
  • KARNA TINANDING (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilah sedang, bentuknya ada dua macam. Pertama keris dengan bilah simetris, memakai sogokan rangkap, sraweyan, greneng di depan dan belakang. Ada yang mengatakan tidak pakai greneng melainkan kembang kacang dan satu lambe gajah di depan dan belakang.
  • KASA (EMPU), terkenal di daerah Madura dan hidup di jaman awal Majapahit. Kerisnya dinilai indah dan ampuh, ukuran bilah sedang, bagian “pinggang” bilah agak ramping, kedudukan bilah condong kedepan. Bagian sor-soran dibuat agak tebal, bagian ganjanya manis bentuknya dan tergolong Sebit Ron. Sirah cicaknya membulat seperti irisan buah melinjo, pamornya lembut tapi meriah, kalau pakai sogokan, maka sogokannya dalam. Kembang kacang, jalen dan lambe gajahnya biasanya kecil. Penampilan keris secara keseluruhan menarik hati, memikat namun anggun.
  • KATUB (BESI), jenis besi bahan dasar keris, berwarna hitam-kehijauan, seperti rumput layu.
  • KEBO DENGEN, atau MAHESA DENGEN, keris luk 5. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah satu, gandiknya panjang.
  • KELAP LINTAH (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, ukurannya sedang, bilahnya simetris, mempunyai 2 buah gandik yang polos di depan dan belakang, tanpa ricikan apa-apa lagi. Ganjanya iras dan bentuknya kelap lintah.
  • KELEM, penamaan jenis pamor melalui penglihatan dan rabaan, jika dilihat pamor itu kurang jelas, kalau diraba terasa nyekrak, tidak halus dan lumer. Ini terjadi karena bahan pamor bukan dari mutu yang baik.
  • KEBO DENGDENG, atau  MAHISA DENGDENG, keris luk 5, mempunyai sogokan rangkap dan tembus dari satu sisi ke sisi yang lain. Ricikan lain tidak ada dan tergolong langka.
  • KELENG (EMPU), hidup di jaman Pajajaran. Tanda-tanda kerisnya, ganja agak panjang, bagian bawah cenderung merupakan garis lurus, tergolong ganja wuwung, sirah cicak tidak lancip, buntut urangnya ada yang papak dan ada yang ngunceng mati. Gandiknya tidak terlalu miring, bulat dan kokoh agak panjang. Kalau memakai kembang kacang, bentuknya bagai tunas tumbuh, bentuk Dha pada Ron Dha tidak tegas. Tikel alis agak pendek, sogokannya dalam dan panjang, bagian janurnya dibuat tajam sampai puyuhan. Empu Keleng menggunakan besi yang madas dan mentah. Besi itu berkesan kering tapi montok. Pamornya lembut, tapi tidak ruwet. Penempatan pamor pada bilah tidak menentu, pada umumnya jenisnya pamor mlumah, antara lain beras wutah, jung isi dunya dan lain lain. Empu ini jarang membuat keris luk, biasanya keris lurus.
  • KEMBANG KACANG, atau  Tlale Gajah, atau  Sekar Kacang, adalah nama bagian keris yang bentuknya mirip namanya. Di Semenanjung Malaysia, Riau, Brunei, Sabah disebut Belalai Gajah. Kembang Kacang ini selalu menempel pada bagian atas dari bagian gandik. Walau secara umum bentuknya sama tetapi kembang kacang ada beberapa variasi bentuk yaitu Nguku Bima, Pogok, Gula Milir dan Nyunti, selain itu walau bentuk dasarnya sama tetapi ada beda antara daerah satu dan lainnya. 
  • KERIS TAYUHAN, keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan tuah dari pada keindahan garapannya. Pemilihan besi atau keindahan pamor sehingga berkesan wingit, angker, tetapi karena yang membuat seorang Empu maka factor keindahan tetap ada pada keris tersebut.
  • KERIS TINDIH, dianggap mempunyai tuah yang baik bagi penggemar tosan aji, terutama untuk menetralkan pengaruh yang kurang baik dari keris lainnya. Keris-keris yang masuk jenis ini antara lain berdapur Jalak Budo, Betok, Semar Tinandu dan Semar Betak.
  • KERIS PUSAKA KANGJENG KYAI AGENG KOPEK, keris Pusaka Kraton Yogyakarta yang dianggap Pusaka Utama. Berdapur Jalak Sangu Tumpeng dengan warangka kayu Cendana wangi, pamor tidak diketahui tetapi pendoknya suasa bentuknya blewahan. KKA KOPEK dulu tanda mata Susuhunan PB III kepada Pangeran Mangkubumi melalui Gubernur dan Direktur Pesisir Utara Pulau Jawa, Nicolaas Hartingh, sewaktu beliau dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 13 februari 1755.
  • KERIS PUSAKA KANGJENG KYAI AGENG JAKA PITURUN, dianggap keris jabatan Raja Yogyakarta, berdapur Jalak Dinding, wrangka kayu Timoho dengan pendok Suasa dihias batu permata. KKA Jaka Piturun selalu dipakai Pangeran Mangkubumi semasa berperang melawan Belanda.
  • KEWAL, atau KEWALAN, cara memakai keris di Jawa Tengah. Keris diselipkan disela sabuk lonthong, di punggung, diantara lipatan kedua dan ketiga. Kedudukan keris condong ke arah tangan kiri, hulu keris dan warangkanya tetap menghadap kearah kiri. Cara ini hanya boleh dipakai para prajurit dalam situasi darurat. Dalam keadaan aman dilarang, demikian pula orang biasa dilarang menggunakan cara ini.
  • KIDANG MILAR, keris luk 9, bentuknya sederhana sekali, ukuran bilah panjang, pakai greneng, ricikan lain tidak ada. Biasanya hanya ada pada keris tangguh Madura.
  • KIDANG SOKA, keris luk 9, panjangnya sedang, kembang kacang dengan lambe gajah satu, sraweyan dan greneng. Ada pula yang pakai ri pandan.
  • KI NOM (EMPU), terkenal di akhir Kerajaan Majapahit sampai ke jaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram. Beberapa ahli keris memperkirakan bahwa usia Ki Nom memang panjang sekali, oleh karena itu dinamakan  Ki NOM oleh Sultan Agung karena kekagumannya terhadap  Ki Nom. Tetapi sebagian ahli mengatakan bahwa terdapat beberapa empu dengan nama Supo Anom yang merupakan turunan Empu tersebut. Keris-keris dan tombak Ki Supo Anom memang indah sekali. Banyak diantaranya diberi kinatah baik yang jenis Anggrek Kamoragan atau jenis yang lain. Sampai sekarang kerisnya selalu dicari dan harganya mahal. Tanda-tanda utama memberi penampilan anggun, mewah dan berwibawa. Ganja buatan Ki Nom, kebanyakan merupakan ganja wilut dan kelap lintah. Sirah cecaknya montok dan meruncing ujungnya, gulu melednya besar dan kokoh, ukuran panjang bilah sedang, lebarnya juga sedang, tetapi tebalnya lebih dibanding keris buatan Mataram lainnya. Bilah buatannya selalu berbentuk nggigir lembu. Pamornya rumit, halus dan padat serta rapi penempatannya. Besi yang digunakan 2 macam, bagian tengah yang bercampur pamor warna besinya hitam keabu-abuan atau hitam keunguan tetapi di bagian pinggir hitam legam. Bagian kembang kacang dibuat seperti gelung wayang, tetapi berkesan kokoh, dan bila diamati dari sisi atas akan berkesan ramping. Jalennya kecil dan lambe gajahnya pendek. Blumbangannya dangkal dan menyempit kearah ujung. Janurnya menyerupai batang lidi.
  • KIKIK, lihat GANA KIKIK.
  • KLENTIK (MINYAK), dari buah kelapa digunakan untuk mengolesi tombak, keris, pedang dan lainnya. Agar tidak berbau tengik biasanya dicampur minyak cendana, kenanga atau melati.
  • KENANGA GINUBAH (PAMOR), pamor yang tergolong pemilih, bisa membuat pemiliknya mempunyai kepribadian menarik dan menonjol dilingkungannya, bentuk menyerupai untaian bunga kenanga.
  • KENDIT (PELET), gambar pada warangka kayu Timoho berupa garis hitam atau coklat melingkar sempurna mendatar ditengah warangka keris atau tombak. Pellet kendit ada beberapa antara lain Kendit Putih, Kendit Simbar dan Kendit Rante. Gambaran kendit ini tidak hanya pada kayu Timoho saja tetapi juga pada kayu Elo Wana serta beberapa kayu lainnya.
  • KENDIT ILAT-ILATAN, lihat KENDIT SIMBAR.
  • KENDIT PUTIH (PELET),  gambaran pada kayu Timoho berupa garis putih melingkar pada warna dasar kayu yang coklat kehitaman, tuahnya dipercaya disegani orang.
  • KENDIT RANTE, gambaran pada kayu Timoho berupa garis hitam atau coklat tua yang terputus-putus tetapi saling rapat satu sama lainnya, sering dicari polisi atau jaksa untuk “mengikat” terdakwa agar tidak lari.
  • KENDIT SIMBAR, gambar di warangka timoho berupa garis hitam atau coklat tua tetapi garis itu tidak rata melainkan robek-robek seperti nyala lidah api sehingga disebut  juga  Kendit Ilat-ilatan.
  • KERIS AGEMAN, keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan keindahannya daripada tuahnya, keris jenis ini biasanya dipesan untuk diberikan sebagai kenang-kenangan atau tanda mata.
  • KERIS MAJAPAHIT, lihat KERIS SAJEN.
  • KERIS PICHIT, istilah yang dipakai di Semenanjung Malaysia, Brunei, Sabah, Riau untuk keris yang permukaan bilahnya terdapat lekukan lekukan yang menyerupai bekas pijitan. Di Jawa dinamakan keris Pejetan. Dalam kerisologi, keris Pejetan termasuk dalam golongan keris Tayuhan yang lebih mementingkan kekuatan gaibnya dibandingkan penampilan luar.
  • KERIS SAJEN, penamaan terhadap keris yang sederhana, kecil dan hulunya menyatu dengan bilahnya, hulu yang terbuat dari logam ini biasanya berupa gambaran manusia yang distilir.  Keris sajen kebanyakan berpamor sanak. Keris sajen dibuat khusus untuk keperluan sesaji tetapi ada yang menyebutnya keris Majapahit padahal keris Majapahit sebenarnya bentuknya indah dan mutunya tinggi, tidak sesederhana keris sajen. Banyak keris sajen ditemui di lading, ditengah sawah atau sungai dan banyak yang sudah tidak utuh karena karat namun karena itulah sering dibayangkan keris tersebut bertuah dan ampuh.
  • KLEREK, (KANGJENG KYAI KLEREK), nama tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Bandotan Luk 9, semula milik Prawirarana, prajurit Pangeran Mangkubumi. Prajurit ini berhasil membunuh Mayor Clereq sehingga tombaknya dinamakan Klerek dan diminta Pangeran Mangkubumi sebagai pusaka Kraton.
  • KLIKABENDA, atau Kalika Benda, nama salah satu keris luk 9, memakai gandik polos, pakai pijetan, sraweyan, ri pandan serta greneng. Ada yang menyebut keris Kala Bendu.
  • KODOK (EMPU), terkenal dijaman Mataram dan hidup di Madiun,  ada yang menyebutkan EMPU KODOK nama lain dari EMPU SUPO ANOM, tapi buku yang lain tidak menyebut demikian apalagi ada perbedaan diantara karya keduanya. Ciri-cirinya, ganjanya mendatar, sirah cecak meruncing pada ujungnya gulu melednya berukuran sedang, kesan keseluruhan galak tapi menyenangkan (sumingit), besinya halus nglugut (berbulu bisa-miang), pamornya rumit, alur garis pamor agak kaku dan tidak begitu halus. Kalau membuat kembang kacang, bagian ini seolah membengkak bagian pangkalnya, pejetannya dibuat dalam, jalennya pendek, sogokan berukuran panjang, janurnya dibuat tajam. Bilahnya tidak begitu lebar sehingga memberi kesan ramping. Kedudukan bilahnya begitu condong kedepan memberi kesan membungkuk.
  • KORIPAN (TANGGUH), pasikutannya kemba, tanpa semu (hambar). Besinya garingsing (kehitaman dan berkesan kering); pamornya kebanyakan adeg, jenisnya pamor sanak.
  • KORO WELANG (PAMOR), pamor yang menyerupai kulit ular belang, menambah kewibawaan pemiliknya. Termasuk pamor miring dan sukar dibuat serta pemilih.
  • KRAWANGAN (PENDOK), menyerupai pendok Buton, tetapi bagian depannya dihias dengan ukiran pahatan yang berlubang-lubang, banyak dipakai warangka dari Surakarta dan Yogya.
  • KUDI, senjata mirip kujang, banyak terdapat di Jawa dan Madura, kalau kujang adalah senjata genggam maka Kudi termasuk tombak tangkai pendek sepanjang sekitar 65 – 80 cm. Ada yang berpamor dan kinatah emas, warangkanya agak aneh sehingga memasukan kudi dari samping bilah bukan dari atas.
  • KUJANG, senjata khas Parahiyangan, sebenarnya khusus dipakai petani, mulai dibuat sekitar abad 8 atau 9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Banyak yang percaya kujang bisa mengusir hama tanaman, menyuburkan tanah dan lainnya.
  • KUL BUNTET (PAMOR), nama bentuk pamor yang menyerupai bentuk obat nyamuk melingkar, biasanya terletak dibagian sor-soran. Merupakan pamor titpan yang bisa dibuat kemudian, tergolong pamor pemilih dan tergolong pamor miring, keris yang memakai pamor ini biasanya keris Tayuhan.
  • KUMAMBANG, istilah yang digunakan untuk menilai keadaan “tertanamnya” pamor pada besi bilah keris. Bila hanya menempel saja dan tidak tertanam kuat maka disebut pamor kumambang (mengambang).
  • KUWUNG (EMPU), Hidup dijaman Pajajaran sekitar abad 11, karyanya kebanyakan berdapur lurus. Tandanya bagian bawah ganjanya cenderung lurus, gandiknya agak tegak, panjang dan membulat bagian depan, memberi kesan kokoh, bentuk huruf Dha pada Ron Dha tidak jelas, sogokannya panjang dan dalam, janurnya dibuat tajam sampai ke pujuhan, kembang kacangnya seperti tunas tumbuh. Empu ini menggunakan besi padat, kedudukan bilah pada ganjanya agak miring, sehingga keris buatannya mempunyai kesan menunduk, sopan. Kerisnya agak lebih besar dan panjang.

  

L

  • LADRANG, adalah jenis warangka yang masih terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka. Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU). Warangka di Yogyakarta pada umumnya sama dengan di Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu Trembalo dan Timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
  • LAKEN MANIK, (KANGJENG KYAI LAKEN MANIK), keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Sangkelat luk 13, warangkanya dari kayu cendana, pendoknya suasa blewahan. Milik Pangeran Hadiwinata yang diberikan ke Sri Sultan HB V. 
  • LALER MENGENG (DHAPUR), nama salah satu dapur keris. Bilahnya sedang dan lurus, gandiknya panjang, kembang kacang terbalik, dan tidak terlalu menonjol keluar. Dapur ini tergolong langka dan hanya pada keris keris tua.
  • LAMENG (DHAPUR), salah satu dapur pedang yang tergolong pedang sabet. Panjangnya lebih dari 1 meter, tiga perempat punggung bilahnya lurus selebihnya sampai keujung melengkung seperti garis cembung. Di bagian ujung lebih lebar dibanding pangkalnya. Seluruh isi punggung pedang majal. Sejajar dengan isi punggung terdapat kruwingan, seluruh sisi yang tajam lurus datar. Karena titik beratnya mengarah keujung, maka penggunaannya tidak gampang, kalau salah menggunakan tangan bisa terkilir, oleh karena itu hanya prajurit kraton yang berbadan tegap yang menggunakannya.
  • LAR BANGO (DHAPUR), selain nama dapur keris juga nama dapur pedang. Yang berupa pedang panjangnya sekitar 85 – 95 cm ujungnya runcing. Dua pertiga bagian punggung merupakan garis lurus, selebihnya lengkung yang cekung. Bagian yang lurus majal sedang yang cekung makin keujung makin tajam. Sejajar dengan sisi lurus punggung terdapat kruwingan, sisi tajam di depan yang di bawah membentuk garis cekung kemudian berubah cembung, sepintas seperti huruf S. Walau tergolong pedang suduk tetapi sering menjadi pedang sabet. Titik berat tidak begitu mengarah keujung sehingga enak digunakan. Banyak yang digarap apik dan dihias dengan pamor yang indah. Sementara yang keris tergolong keris lurus, ukuran panjang bilahnya sedang pipih, ricikannya kembang kacang (biasanya kecil), pejetan, tikel alis dan tingil.
  • LAR NGATAP, atau LAR NGANTAP (DHAPUR) adalah salah satu dapur keris bilah lurus. Bentuknya agak aneh, gandiknya polos, memakai pejetan, sogokannya rangkap memanjang hingga pucuk bilah. Keris ini tergolong langka.
  • LARUNG, dibuang, biasanya untuk yang bertuah buruk. Biasanya keris dibersihkan dulu, dibungkus kain putih dengan bunga dan sedikit kemenyan setelah itu dilarung di tengah kali yang dalam atau laut.
  • LEGI (EMPU), terkenal pada jaman Mataram. Karyanya ditandai dengan ganja melengkung, gulu meled dan sirah cicaknya besar, buntuk urang melebar pada ujungnya. Bilah berukuran sedang dan besi berwarna hitam keabu-abuan, tempaannya padat dan matang. Pamor rumit dan padat, penampilan memberi kesan lembut dan tampan. Kalau membuat kembang kacang mirip gelung wayang, lambe gajah kecil runcing, sogokannya berukuran pendek, alurnya agak lebar, bagian blumbangan atau pejetan biasanya dangkal dan penuh dengan pamor. Gandiknya miring dan tikel alisnya pendek.
  • LENGIS (KAYU), kayu yang biasa digunakan sebagai tangkai tombak (landeyan), kayu ini dengan olahan yang baik tidak mudah patah dan ringan serta tetap lurus. 
  • LIMAN LUK TIGA (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 3. Panjangnya normal, bentuknya hampir sama dengan keris Naga Siluman luk 3, pada bagian gandik sor-soran terdapat gambar timbul berupa gajah utuh,mulai kepala, badan, kaki sampai ekor. Ricikan lain hanyalah greneng dan ada-ada. Pada umumnya dilapisi dengan kinatah emas.
  • LIMARAN (KINATAH), salah satu motif hiasan kinatah dan sinarasah khusus di bagian metuk pada sebilah tombak. Bentuk hiasan mirip dengan motif batik, limaran merupakan deretan pola segitiga melingkar penuh (tepung gelang – bhs Jawa) pada metuk, dengan posisi saling menyilang.
  • LIMONIT (BESI), salah satu mineral besi terikat air, warnanya kuning, kelabu gelap atau coklat tua, biasanya dari eropa, Jerman, Perancis. Ada juga keris Jawa menggunakan besi ini kemungkinan menggunakan sisa dari kereta kerajaan yang berasal dari Eropa.
  • LINDRI, (KANGJENG KYAI LINDRI), salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta, dapur Pasopati, Warangka dari kayu Timoho dan pendoknya emas murni bertahtakan rajawarna. Dibuat pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II dan diberikan ke putrinya Kangjeng Ratu Maduretno dan kembali ke Kraton di jaman Sri Sultan Hamengku Buwono V
  • LINGIRAN (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus. Potongan melintang tombak biasanya berbentuk segitiga dan tombak ini berukuran panjang.
  • LINTANG MAS (PAMOR), pamor yang bentuknya berupa bulatan berlapis seperti  pamor Udan Mas, tetapi lapisan bulatannya lebih banyak sehingga garis tengah bulatan mencapai 1 cm atau lebih. Tergolong pamor pemilih cocok untuk pedagang permata, kain. 
  • LIS-LISAN,  garis batas sepanjang tepi bilah keris sejak dari atas kembang kacang ke ujung bilah terus kebawah lagi sampai mendekati greneng.
  • LONING (EMPU), terkenal pada jaman Pajajaran. Tanda karyanya: buntut urangnya selalu nguceng mati, ganjanya tergolong ganja wuwung, guru melegnya panjang dan sirah cecaknya membulat, bagai irisan buah melinjo. Ukuran gandik dan bentuknya sedang-sedang saja, kembang kacang memberi kesan manis tapi kokoh, lambe gajahnya pendek, sederhana, bagian yang menyerupai Dha pada Ron Dha kurang jelas. Jika memakai luk tergolong rengkol, besinya berkesan padas mentah, bilahnya lebar di bagian tengah, dan sedang di bagian atas gandik. Apabila ada sogokan biasanya dalam dan panjang, janurnya dibuat tajam sampai ke puyuhan.
  • LUJUGUNA (EMPU), terkenal pada jaman Kerajaan Kartasura. Ada yang mengatakan beliau berasal dari Madura. Tanda kerisnya adalah: ganjanya berbentuk garis datar, sirah cecak lonjong dan meruncing pada ujungnya, gulu melednya panjang sehingga terkesan kurus. Kalau membuat kembang kacang bentuknya Nguku Bimo, jalennya berukuran besar, lambe gajahnya panjang menonjol, sogokannya pendek, jika tanpa kembang kacang, gandiknya panjang dan tidak begitu miring. Blumbangannya dibuat dalam, bilahnya berukuran agak panjang dibandingkan buatan Mataram pada umumnya. Pamornya banyak, kurang halus dan tidak nyekrak, yakni tidak perih kalau diraba, penampilannya gagah, kasar dan tegas.
  • LUK, bagian kelok keris, jumlahnya selalu GANJIL tidak pernah genap, jumlah terbanyak biasanya 13 tetapi ada yang lebih dari itu sampai 29 dinamakan Kalawaja, sedang jumlah terkecil adalah 3 walau ada yang menyebutkan bahwa keris luk 1 itu ada.
  • LUMER PANDES (PAMOR), pamor yang tertanam kuat di bilah, menyembul keluar halus tapi jelas.
  • LUNG GANDU (DHAPUR), nama salah satu dapur keris/tombak, jika tombak ber luk 9, seluruh permukaan bilah tertutup kinatah Lung-lungan bentuknya nggigir sapi dengan ada-ada tipis di sepanjang bilah, sisi ujung bawah tombak berbentuk menyudut. Karena susah dibuatnya kini dapur ini langka dan jarang ditemui.
  • LUNG KAMAROGAN (KINATAH), hiasan berupa relief (gambar timbul) di sebilah keris atau tombak. Pahatan relief biasanya dilapisi emas, dulu yang berhak memakainya adalah abdi dalem berpangkat Wedana Kliwon. Hiasan ini ada yang sepertiga keris, ada yang setengahnya dan ada pula yang sampai ujung bilah.
  • LUWU (BESI), biji besi berasal dari pegunungan Torongku dan Ussu di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan. Walau bukan batu meteor tetapi bersipat seperti batu meteor sehingga bisa sebagai bahan pamor.

 


M

  • MACAN, KI (EMPU), terkenal di daerah Madura pada awal kerajaan Majapahit. Tanda tanda keirnya, bilah berbadan lebar, kerisnya agak tipis dibandingkan buatan Tuban, besinya halus keras tapi berpori, warna besi hitam kehijauan, jika bilah itu dicuci dalam keadaan putih bersih seakan mengeluarkan bau rempah. Pamor keris umumnya lembut dan mubyar, ganjanya berukuran normal, bagian bawahnya rata, tergolong ganja wuwung. Gandiknya miring, kalau memakai kembang kacang besar dan ramping. Jalennya juga berukuran besar. Sogokannya dalam, tetapi kaku. Kebanyakan kerisnya berpenampilan keras, berwibawa dan tegas.
  • MADIUN (TANGGUH), pasikutannya kemba, besinya berkesan basah. Pamornya sedikit tapi lumer dan pandes. Bilah tebal, biasanya nglimpa, konturnya agak mbembeng.
  • MADURA (TANGGUH), dibagi menjadi dua, yakni Madura Tua yang se-zaman dengan zaman Majapahit dan Madura Muda yang se-zaman dengan zaman Mataram Amangkuratan. Keris tangguh Madura Tua, pasikutannya demes (serasi, seimbang, menyenangkan). Besinya terkesan kering seperti kurang wasuhan, warnanya hitam pucat kehijauan. Pamornya nggajih dan nyekrak, kasar rabaannya. Panjang bilahnya tidak merata, ada yang panjang, ada yang sedang, ada yang agak pendek. Gajihnya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek. Keris tangguh Madura Muda mempunyai pasikutan galak. Besinya berkesan kering, seperti kurang wasuhan, warnanya hitam agak abu-abu, kadar bajanya kurang. Pamornya mubyar dan nyekrak. Gandiknya miring, ganjanya sebit ron tal, sirah cecaknya pendek.
  • MAHESA DENDENG, lihat Kebo Dendeng.
  • MAHESA LANANG, lihat Kebo Lajer.
  • MAHESA GENDARI, (KANGJENG KYAI MAHESA GENDARI), pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur kebo Lajer, warangka dari kayu Timoho, pendoknya dari suasa. Semula milik  Adipati Danurejo yang bergelar KPH Kusumoyudo. Kemudian diserahkan ke Kraton pada masa pemerintahan Sri Sultan HB V.
  • MAESALENGI, (KANGJENG KYAI MAESALENGI), Pusaka kraton Yogyakarta, dapur tidak diketahui pasti, ada yang mengatakan dapur Paniwen ada yang mengatakan Sengkelat. Dihias kinarasah emas permata hingga pucuk. Warangka dari kayu Trembalo dengan pendok dari emas Rajawarna, buatan Penembahan Mangkurat di masa Sri Sultan HB V dan merupakan putran dari keris milik Tumenggung Sastranegara, bupati Mancanegara.
  • MAHESA LAJER, lihat Kebo Lajer.
  • MAHESA NABRANG (DHAPUR), dapur keris luk 15, gandiknya polos, lis-lisannya melingkar ke seluruh bilah mulai dari atas gandik sampai kebagian buntut cecak.
  • MAHESA NEMPUH (DHAPUR), dapur Luk 3, dengan ukuran bilah sedang, gadik polos, memakai pejetan dan tikel alis, greneng lengkap.
  • MAHESA SOKA (DHAPUR), dapur Luk 3, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, tikel alis dan greneng. Sogokannya rangkap sampai ketengah bilah atau ke pucuk. 
  • MAHESA TEKI, lihat Kebo Teki.
  • MAJAPAHIT (TANGGUH), pasikutannya agak wingit dan prigel, besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan kering, warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes lan ngawat (kokoh serupa kawat), sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke ujung makin ramping sehingga berkesan runcing. Luknya tidak begitu rapat. Gandiknya miring dan agak pendek.
  • MALELA KENDAGA (BESI), penamaan jenis besi bahan keris atau tosan aji lainnya yang pada permukaan seolah bertaburan kristal kecil yang mengkilap. Keristal-keristal yang berkerlip akan tampak terang. Bilah keris itu akan tampak terang bila bilah keris itu dalam keadaan putih bersih. Sebagian pecinta keris membedakan Malela menjadi  Pasir Malela dan  Malela Kendaga. Pasir Malela kerlipnya membiaskan warna putih keperakan sedang Malale Kendaga berwarna kuning emas. Keris dengan besi ini biasanya keris lama karena pengolahan bahan pasir besi menjadi besi tidak sempurna.
  • MALIK (BESI), nama jenis besi bahan tosan aji yang permukaannya kasar dan warnanya hitam keabu-abuan. Jika dijentik dengungnya sember. Menurut para ahli tuah besi ini buruk sehingga pemiliknya sukar mencari rejeki.
  • MANCUNGAN (PAMOR), bentuk pamor yang serupa dengan Ujung Gunung hanya letaknya terbalik. Bagian yang lancip justru menghadap ke pangkal. Pamor ini termasuk pamor rekan dan pemilih, tuahnya menambah wibawa pemiliknya.
  • MENGKON (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak luk 9, tepi bilah tombak bagian bawah membentuk sudut dengan tepi menghadap ke bawah. Di atas bagian mentuk terdapat bungkul dan di atas bungkul terdapat ada-ada sepanjang bilah. Permukaan bilah seluruhnya berbentuk nggigir sapi.
  • MANGKURAT 1(DHAPUR), nama salah satu dapur lurus yang ukuran bilahnya sedang, bagian gandiknya polos, memakai pejetan, tikel alis, sogokan rangkap ukuran normal, gusen dan ri pandan.
  • MANGKURAT 2 (DHAPUR), salah satu dapur keris Luk 3, panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajah satu, pakai tikel alis, pejetannya dangkal, pakai greneng.
  • MANGKURAT (UKIRAN), ukiran gaya Yogyakarta, berpenampilan sedang, sesuai untuk orang baik tinggi atau pendek, juga cocok untuk orang yang lemah lembut atau kasar.
  • MANGLAR  MUNGA (DHAPUR), salah satu dapur luk 3 dengan panjang bilahnya sedang, gandiknya diukir dengan gajah bersayap berbadan naga dan badan ini meliuk di tengah bilah sampai ke atas. Ada pula yang badannya “menghilang” ditengah bilah. Ricikan lainnya adalah ri pandan susun.
  • MANGUN ONENG, (KANGJENG KYAI MANGUN ONENG), pedang pusaka milik Kraton Yogyakarta, berdapur lameng, selalu dibawa oleh abdi dalem wanita yang senantiasa berada di belakang raja dalam setiap upacara besar di kraton. Kisahnya saat Pangeran Mangkubumi menjadi Sri Sultan HB I, saat itu banyak bupati kraton Surakarta ingin bergabung antara lain Mangun Oneng dari Pati, karena dicurigai akan berkhianat maka Mangkubumi memerintahkan orang menghukum mati Mangun Oneng dengan Pedang dan kemudian menjadikan pedang tersebut pusaka kraton.
  • MANDRABAHNING, (KANGJENG KYAI MANDRABAHNING), keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur jangkung mayat, warangka Timoho dengan pendok emas, merupakan putran dari keris KK Toyatiniban, dibuat oleh Empu Lurah Mangkudahana di jaman Sri Sultan HB V.
  • MANGGAR (PAMOR), merupakan nama pamor keris, tombak atau pedang yang bentuknya menyerupai bunga kelapa dalam untaian. Pamor ini merupakan kumpulan dari bulatan lonjong kecil yang mirip dengan bulatan pamor Wiji Timun, yang letaknya berserakan saling menyudut. Pamor Manggar tersusun dari pangkal sampai ujung bilah. Tergolong pamor rekan, tuahnya mudah mencari rejeki dan menonjol dipergaulan, tidak memilih dan tergolong langka. Banyak dijumpai di keris buatan Madura.
  • MANIKEM (PAMOR), pamor yang gambarnya merupakan bulatan-bulatan berlapis, berjajar berderetan dari pangkal sampai ujung bilah, garis tengah bulatan mencapai 1.5 – 2 cm dan tiap bulatan terdiri lebih dari 8 lapis. Bulatan satu dengan lainnya dihubungkan dengan garis garis pamor. Disukai pedagang  dan pengusaha karena tuahnya gampang mencari rejeki.
  • MARANGI, atau mewarangi adalah pekerjaan membersihkan dan memberi warangan pada bilah keris atau tosan aji lainnya. Tujuannya untuk menampilkan gambaran pamor sekaligus menambah keawetan keris tersebut. Jika proses ini berjalan baik maka pamor akan tampak maksimal dan indah. Sebelum diwarangi, keris harus lebih dahulu dibersihkan sampai putih, disebut mutih, ini membersihkan bilah dari sisa minyak, warangan atau karat. Cara mewarangi di tiap daerah berbeda walau tujuannya sama. Sisa warangan lama dan karat dibersihkan dengan cara merendam dalam air kelapa basi (setelah disimpan sekitar 2 minggu), bisa juga dengan memakai buah mengkudu masak sekitar 15 buah. Setelah direndam, tergantung dengan tebal karat atau banyak kotoran, seringkali rendaman ini memakan waktu 1 minggu atau lebih, maka bilah dicuci dengan air jeruk nipis dicampur buah klerak atau bisa juga dengan sabun colek, dibilas, digosok dengan sikat gigi secara perlahan agar tidak merusak pamor. Proses ini diulang sampai bilah berwarna putih dan tidak ada lagi minyak atau kotoran lain menempel di bilah. Warangan yang baik adalah berupa kristal warangan alam yang berwarna jingga kemerahan, setelah dihancurkan menjadi bubuk, dicampur dengan air perasan jeruk nipis. Sering karena mendapatkan warangan susah, maka orang menggunakan arsenikum, tetapi hasilnya kurang baik.
  • MARAK (DHAPUR), adalah salah satu dapur keris lurus berukuran sedang, gandik polos, memakai sogokan didepan, greneng lengkap. Kadang disebut dapur Merak.
  • MARA SEBA (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus ukuran sedang. Gandik polos dengan pejetan, tanpa tikel alis, memakai greneng, sogokan rangkap, ukuran normal tetapi bagian janurnya tebal sehingga jarak sogokan depan dan belakang terkesan jauh.
  • MASUH, tahap awal pembuatan tombak, keris dan lainnya. Bagian besi ditempa berulang kali sehingga kotoran dan kandungan karbon keluar sebagai percikan bunga api, jika sudah selesai maka besi ini menjadi besi wasuhan yang bersifat ulet, liat dan mudah dibentuk.
  • MATARAM (TANGGUH), dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, Mataram Senopaten : pasikutannya prigel, sereg; besinya hitam kebiruan. Pamornya pandes dan ngawat. Kedua, Mataram Sultan Agung : pasikutannya demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat); besinya mentah; pamornya mubyar. Dan ketiga, Mataram Amangkuratan : pasikutannya galak, birawa; besinya mentah; pamornya kemambang. Tangguh Mataram Amangkuratan biasanya juga disebut tangguh Kartasura.
  • MAYANG MEKAR (PAMOR), nama pamor yang tergolong langka, tergolong pamor rekan dan bertuah dikasihi rekan sekelilingnya tetapi teramasuk pamor pemilih.
  • MAYAT MIRING (DHAPUR), dapur keris lurus berukuran sedang, ganjanya agak membungkuk dan bagian gandiknya polos, memakai gusen, sogokan belakang dan pejetan. Bila posisi bilah tidak membungkuk biasa disebut dapur Mayat saja.
  • MBATOK MENGKUREB (DHAPUR), sebutan model ganja keris yang bentuknya melengkung. Dilihat dari samping seperti garis cekung mirip ganja sebit ron tal. Bedanya pada Mbatok Mengkureb garis di bawah sirah cicak den gulu meled juga cekung.
  • MBUGISAN (PAMOR), penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan terhadap pamor tersebut. Pamor apapun yang ada degradasi warna antara besi dan pamor tidak jelas disebut mbugisan. Ini terjadi saat dibuat suhu terlalu tinggi sehingga bahan pamor luluh kedalam bahan besinya.
  • MBUNTUT TUMA, salah satu dari 4 macam bentuk ujung bilah keris atau tombak yang menyerupai bentuk ekor kutu rambut. Keris buatan Surakarta banyak yang ujungnya berbentuk mbuntut tuma, lagi pula bentuk ini kebanyakan hanya disukai oleh pecinta keris di daerah Surakarta.
  • MBUNTUT URANG, lihat buntut urang.
  • MEGANTARA (DHAPUR), nama salah satu dapur keris Luk 7. Model luknya menyerupai dapur Murma Malela. Jarak antara luk pada bagian dekat dengan ujung bilah lebih rapat satu sama lain dibanding dengan bawahannya. Ricikan kembang kacang, lambe gajah satu, jalen dan greneng.
  • MEKANGKANG (BESI), nama jenis bahan besi untuk membuat keris. Ada dua macam yaitu  Mekangkang Lanang dan Wadon. Tuah dari Mekangkang Lanang baik untuk prajurit, bisa menambah waibawa, warnanya hitam keunguan dan jika diamati teliti seakan mempunyai semacam urat-urat halus tetapi kalau diraba permukaannya halus lumer dan kalu dijentik berbunyi dengung yang panjang. Untuk Mekangkang Wadon warnanya ungu tua kebiruan, pada permukaannya seolah tersebar kristal kecil yang membiaskan warna kebiruan, jika dijentik berbunyi dengung pendek. Konon baik untuk pegawai agar disayang atasan.
  • MELATI RINONCE (PAMOR), pamor yang bentuknya mirip untaian bunga melati yang diuntai dengan benang mulai ujung pangkal sampai ujung bilah. Tergolong pamor rekan dan tidak memilih. Dipercaya baik untuk mencari rejaki.
  • MELATI RINENTENG, sebutan lain melati rinonce.
  • MELATI SINEBAR (PAMOR), pamor berbentuk kumpulan bulatan menyebar berurutan dari ujung bilah sampai pangkal. Penampang bulatan terluar sekitar 1 cm, biasanya ada 6 atau 8 lapis bulatan. Bukan pamor pemilih, disukai pengusaha dan pedagang, termasuk pamor rekan.
  • MENDAK, perlengkapan hiasan pada sebilah keris. Bentuknya seperti cincin melingkar pada pangkal pesi sebilah keris. Terbuat dari logam perak, emas atau suasa/kuningan. Seringkali ditambah permata, intan berlian atau batu mulia lainnya, harganya bisa bervariasi dan menentukan status social pemakainya.
  • MENDARANG (DHAPUR), atau Mundarang, dapur keris lurus berukuran sedang. Memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng lengkap.
  • MENDUNG (EMPU), empu yang hidup di daerah Blambangan pada jaman Majapahit. Tanda keris buatannya: bentuknya sedang, kesannya ramping dan manis namun keras berwibawa, besinya hitam dengan tempaan matang namun ada kesan nglugut seperti berbulu halus. Jika memakai sogokan biasanya dangkal dan agak pendek. Kalau memakai luk biasanya dalam dan rengkol memberi kesan padat. Pamornya umumnya merata penuh tetapi tidak mubyar.
  • MESEM, keris lurus dengan panjang bilah sedang. Memakai kembang kacang, lambe gajah satu.
  • METUK, merupakan bagian tombak yang bentuknya seperti cincin. Letaknya tepat dibawah sor-soran. Kegunaannya untuk menahan bilah tombak apabila ada benturan masuk kedalam tangkainya. Sering dihias dengan ukiran berbagai motif seperti limaran, teratai.
  • MIJI TIMUN, lihat Wiji Timun.
  • MINETTE (BESI), jenis mineral besi berwarna coklat terdiri dari trioksida besi terikat air dengan rumus kimia Fe2O3H2O.
  • MINYAK KERIS, campuran beberapa jenis minyak digunakan untuk pewangi dan pengawet tosan aji. Umumnya campuran minyak cendana, melati, kenanga dan lainnya. Sebagai pencampur umumnya minyak klentik atau sekarang banyak dipakai minyak Singer. Minyak yang kurang baik akan menyebabkan bau tengik, mengakibatkan jamur dan merusak bilah.
  • MLOYOGATI (EMPU), nama empu yang kurang terkenal dari Blambangan di jaman Majapahit. Kerisnya berbilah kecil agak tebal tetapi ramping. Besinya seringkali berwarna hitam kelam pada tempaannya. Banyak membuat pamor miring. Ganjanya sering model Mbatok Mengkurep, secara keseluruhan kerisnya memberi kesan tangkas, terpercaya dan manis dipandang.
  • MINYAK RASE, bahan pembuat minyak keris dari binatang Rase, sejenis Musang di dekat alat kelaminnya. Sudah jarang dipakai karena populasi Rase yang tinggal sedikit.
  • MRANGGI, orang yang punya keahlian membuat warangka keris, tombak atau sarung pedang. Biasanya juga sebagai tukang mewarangi. Ia harus bisa memahami watak pemesannya agar bentuk warangkanya sesuai dengan sifat orang tersebut. Selain itu mengetahui sifat kayu dan jenisnya agar menghasilkan bentuk warangka yang artistic, baik dan tahan lama.
  • MRAMBUT (PAMOR),  bentuk pamor menyerupai garis yang membujur dari pangkal ke ujung bilah. Garis ini bukan garis yang utuh melainkan terputus-putus, sepintas lalu seperti pamor Adeg, bedanya pamor Adeg garisnya tidak terputus. Tuahnya menangkal segala sesuatu yang tidak diingini. Pamor ini pemilih.
  • MRUTUSEWU (PAMOR), salah satu bentuk pamor dengan gambaran merupakan kumpulan garis-garis dan bulatan yang saling berdekatan sehingga tampak ruwet. Sepintas mirip pamor Sisik Sewu, tersebar dari pangkal sampai ujung bilah. Termasuk pamor mlumah, tidak pemilih dan tuahnya untuk pergaulan.
  • MULYAKUSUMA, (KANGJENG KYAI MULYAKUSUMA), salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta, dapur Pendawa Cinarita, luk 5 dengan warangka dari Cendana. Pendoknya jenis blewahan serta dari suasa. Keris ini didapat sebagai hadiah untuk Sri Sultan Hamengku Buwono II ketika ditawan di Pulau Penang.
  • MURMA MALELA (DHAPUR), Salah satu keris dapur luk 7 dengan luk makin kearah pucuk makin rapat. Ricikannya, kembang kacang dan lambe gajah dua, tergolong dapur langka.
  • MUNGGUL (PAMOR), bentuknya seperti bisul, menonjol dari permukaan bilah sebesar biji kacang hijau atau lebih besar sedikit. Pamor ini sangat keras dan tidak hilang dikikir dengan kikir baja karena terbuat dari bahan titanium yang keras. Dianggap pamor yang baik dan sukar dicari, sering selain pada keris Jawa pamor ini terdapat di badik badik buatan Bugis dan Luwu.
  • MUTIH KERIS, satu tahapan dari membersihkan serta mewarangi keris. Biasanya direndam air kelapa basi baru disikat perlahan lahan dilarutan jeruk nipis berkali-kali sampai sisa warangan dan minyak hilang sama sekali dan keris tampak putih seperti pisau dapur yang baru diasah.




N

  • NABI SULAIMAN (PAMOR), nama pamor yang letaknya di daerah sor-soran, merupakan pamor titipan, atau pamor yang dibentuk kemudian setelah bilah keris selesai dikerjakan. Bentuk pamor menyerupai bintang segi enam, tuahnya baik terutama dalam keadaan darurat tetapi pamor ini pemilih dan katanya hanya raja atau keturunannya yang bisa memilikinya.
  • NAGA GAJAH, keris luk 7, dengan gandik keris diukir kepala gajah lengkap dengan telinga dan belalai tetapi tanpa badan. Ricikan lain adalah sraweyan, ri pandan dan greneng. Kadang memakai gusen. Selain itu tak ada ricikan lain. Keris ini tergolong langka, seandainya ada kemungkinan bikinan baru atau tangguh muda, adapun pecinta keris menyebutnya Naga Liman.
  • NAGA KIKIK, lihat GANA KIKIK.
  • NAGA KIKIK LUK LIMA, liaht Naga Salira.
  • NAGA LIMAN, lihat NAGA GAJAH.
  • NAGA PASA, lihat NAGA TAPA.
  • NAGA PENGANTEN (DHAPUR), salah satu dapur luk 9. Keris ini gandiknya kembar depan belakang dan diukir kepala naga dengan badan saling membelit mengikuti kelokan luk pada bilah keris. Bagian ganja memakai greneng, pada umumnya dihiasi kinatah emas. Seringkali pada moncong dua naga tersebut dijejali dengan butiran emas atau berlian. Tujuannya untuk meredam sifat galak dari penampilan Naganya. 
  • NAGA KERAS (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 7, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan. Ada yang mengatakan gandiknya dibuat dengan bentuk kepala Naga dengan ekornya meliuk mengikuti belokan luk sampai ke ujung. Keris ini memakai greneng, tetapi menurut buku lama keris ini dinamakan Naga Sasra luk 7.
  • NAGA PUSPITA, (KANGJENG KYAI NAGA PUSPITA), pusaka kraton Yogyakarta, dapurnya tidak jelas. Ada yang mengatakan berdapur Sengkelat tetapi ada yang mengatakan berdapur Naga Sastra. Warangkanya kayu Trembalo, pendok dari emas bertahta intan permata, dibuat di jaman Sri Sultan HB II, tempat pembuatannya di Pulo Gedong, Taman Sari. Setelah selasai diberikan pada Gusti Raden Mas Surojo yang kemudian menjadi  Sri Sultan HB III.
  • NAGA, (KANGJENG KYAI NAGA), salah satu Pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Pasopati, pamor Kembang Pala, warangka kayu Timoho jenis bosokan, dengan pendok Emas Rajawarna. Dibuat di Tamanan Kraton, di masa pemerintahan Sri Sunan HB I.
  • NAGA RANGSANG (PAMOR), bentuk pamor yang mirip dengan Blarak Ngirid, perbedaan hanya pada arah garis yang menyerupai daun kelapa. Pada Blarak Ngirid arahnya ke ujung sedang Naga Rangsang sebaliknya. Tuahnya menambah wibawa, tetapi pamornya pemilih.
  • NAGA RANGSANG, (KANGJENG KYAI NAGA RANGSANG), pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Jalak dengan Gandik Naga, keterangannya tidak jelas. Mungkin dapurnya Naga Tapa, Warangkanya kayu Cendana, pendok dari emas bertahtakan permata. Semula milik Sri Sultan HB I.
  • NAGA SALIRA (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 5, bentuknya ada 2 macam. Yang pertama, gandik keris ini diukir dengan bentuk Serigala duduk, kadang dinamakan Naga Kikik luk 5. Sumber lain mengatakan mirip dengan Naga Siluman, jadi pada gandik diukir kepala Naga bukan Srigala, bedanya pada bagian badan lengkap dengan sisiknya sedang Naga Siluman tidak.
  • NAGASASTRA (DHAPUR), salah satu dapur luk 13. Bagian gandik diukir dengan kepala Naga sedang badan mengikuti luk. Di tengah bilah sampai ke ujung, ricikan lain kruwingan, ri pandan dan greneng, pada dapur Nagasastra yang baik biasanya dilapisi dengan logam emas (Kinatah mas). Dapur Nagasastra ada yang luk nya 9 dan 11 sehingga harus disebut luknya.
  • NAGA SILUMAN 1 (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 7. bagian gandik ada ukiran Naga dengan mulut menganga lalu badan naga menghilang di bagian bilah. Selain itu terdapat sraweyan, ri pandan dan greneng. Dapur ini tergolong popular.
  • NAGA SILUMAN 2 (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilah sedang, bagian gandik diukir kepala Naga dan badan menghilang menyatu dengan bilah, ganja biasanya Kelap Lintah.
  • NAGA SINGA, lihat Singa Barong.
  • NAGA TAPA (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus dengan bilah sedang. Gandik diukir Kepala Naga sedang badan Naga di tengah bilah sampai ujung. Biasanya memakai greneng lengkap, sebagian menyebutkan keris ini berdapur Naga Pasa.
  • NEM-NEMAN, sebutan untuk keris atau tombak yang belum lama dibuatnya. Berlaku di Surakarta dan Yogyakarta, sekitar jaman Sunan Pakubuwono IX dan X serta Sri  Sultan Hamengku Buwono VII dan VIII.
  • NGADAL METENG, penamaan terhadap bentuk permukaan bilah keris atau tombak jika permukaan itu cembung dan menyerupai punggung binatang kadal yang sedang mengandung sehingga disebut  Ngadal Meteng.
  • NGAMAL, Pelet, lihat Nyamel, Pelet.
  • NGAMPER BUTA (DHAPUR), keris luk 17, tergolong Kalawija, ukuran panjang bilahnya sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, jalen blumbangan dan greneng lengkap. Dapur Ngamper Buto tergolong langka.
  • NGERON TEBU, penamaan tepi bilah yang tidak rata dan menggerigi karena penempatan bahan pamor ditepi bilah. Sebagian orang mengatakan ini kurang baik karena tepinya tidak rata tapi sebgian lagi mengatakan baik. Keris ini menggunakan bahan pamor lebih banyak dibandingkan keris biasa.
  • NGGAJIH, penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan, pamor yang tampak berlemak disebut Nggajih. Jadi pamor jenis apapun kalau tampaknya berlemak disebut Nggajih seperti Ngulit Semangka Nggajih dan sebagainya.
  • NGGIGIR LEMBU, atau Nggigir Sapi, penamaan bentuk permukaan bilah keris atau tombak. Memakai ada-ada jelas dan di sisi kiri kanan bagian ada-ada itu memberi kesan “montok”, maka permukaan bilah seperti itu dinamakan Nggigir Lembu.
  • NGINDEN, penampilan pamor yang seolah dapat membiaskan cahaya berkilau seperti akik. Banyak dijumpai keris nem-neman buatan Surakarta.
  • NGINGRIM (PELET), salah satu ragam pelet pada kayu Timoho. Gambaran itu berupa garis-garis pendek dan panjang bercampur sejajar tak beraturan. Warna garis itu hitam dan coklat tua di atas kayu berwarna coklat keputihan atau abu-abu. Kayu ini biasanya mahal harganya.
  • NGLEMPUNG (BESI), jenis besi yang penampilannya mempunyai kesan padat dan matang  tempaan. Besi yang nglempung seolah tidak berpori sehingga tidak gampang kropos.
  • NGLOLOS PUSAKA, salah satu cara melepaskan keris dari warangka dengan cara menggerakan warangka tersebut, sehingga bilah keris keluar dari warangka. Caranya dengan memegang ukiran (hulu keris) dengan tangan kanan. Tangan kiri memegang bagian pendok atau gandar keris, kemudian bergerak menjauhi badan sedangkan tangan kanan tetap.
  • NGRING HESTI (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, bilah simetris, menyerupai dapur Baru. Bagian tengah sisi bilah ada lekukan landai menyerupai pinggang, lebar bilah bagian atas pinggang lebih sempit dibandingkan bawahnya, sedikit di bagian bawah ada pudak sategal simetris di kiri kanan sisi bilah.
  • NGRING SEMBEN (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, symetris, bagian atas menyerupai bentuk Daun Andong. Bagian di atas mentuk ada bungkul tipis, diteruskan ada-ada sampai ujung bilah dan permukaannya berbentuk Nggigir Sapi.
  • NGUCENG MATI, salah satu bentuk ujung dari buntut cecak pada sebuah ganja. Ujungnya meruncing seolah merupakan ujung sumbu lilin atau lampu minyak. Ganja ini banyak terdapat pada keris buatan Pajajaran, Tuban dan Madura tua.
  • NGUDUP GAMBIR, salah satu dari 4 macam bentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai kuncup Bunga Gambir yang belum mekar, banyak terdapat pada ujung tombak.
  • NGUKU BIMA, salah satu bentuk Kembang kacang, menyerupai kuku Bima dalam Wayang, bagian pangkal besar dan lebar sehingga menimbulkan kesan kokoh, sedang ujungnya meruncing tetapi tidak melingkar seperti gelung wayang.
  • NGULIT SEMANGKA (PAMOR), nama pamor yang mirip kulit semangka. Tergolong pamor tiban, tuahnya memperluas pergaulan, tergolong pamor mlumah dan cocok dipakai siapapun.
  • NUR (PAMOR), nama pamor yang berbentuk mirip hurup S terletak dibagian sor-soran. Tuahnya baik sebagai tempat bertanya, cocok untuk guru, tergolong pamor pemilih.
  • NGUNUS PUSAKA, salah satu cara melepas keris dari Warangkanya. Tangan kanan memegang hulu keris, tangan kiri memegang pendok atau gandarnya, kemudian tangan kanan bergerak keluar manjauhi badan, sedangkan tangan kiri tetap pada tempatnya. Cara ini hanya dilakukan bila akan digunakan untuk maksud yang kurang baik.
  • NIPIS, JERUK, jeruk yang digunakan untuk mencuci dan pembersih keris, tombak dll, ilmiahnya bernama Citrus Aurantifiola, di Jawa Tengah dan Timur disebut Jeruk Pecel.
  • NYAMBA, hulu keris berbentuk kepala dan tubuh tokoh wayang, kebanyakan berbahan kayu dan diukir lalu disungging. Ada juga yang berhulu tanduk, gading atau bahan logam.
  • NYAMEL, bentuk gambaran pelet kayu Timoho, berupa noda hitam besar (ceplok-ceplok, bhs Jawa), bentuk tak menentu tetapi mendekati bulat. Disukai walau sederhana tetapi indah.
  • NYEPUHI, cara yang digunakan empu agar kerisnya tidak mudah bengkok dan tidak gampang majal. Keris yang sudah selesai penggarapannya dibakar lagi sampai sekitar 500 derajat C, segera dimasukan ke dalam air dingin atau air ramuan atau air kembang setaman, atau dimasukan ke dalam minyak baru ke air. Nyepuhi pekerjaan yang paling banyak resikonya jika gagal maka keris yang telah 99% selesai akan gagal, langsung rusak tidak bisa diperbaiki lagi.
  • NYUJEN, salah satu dari 4 bentuk ujung keris atau tombak, menyerupai tusukan sate. Keris buatan luar Jawa banyak yang Nyujen Sate, selain Nyujen ada yang berbentuk Gabah Kopong atau Mbuntut Tuma.
   



O

  • OGLENG, salah satu cara pemakaian keris di Jawa Tengah khususnya di daerah Surakarta. Keris diselipkan di sela sabuk lontong di lipatan kedua dan ketiga dari atas. Yang umum keris dicondongkan kearah tangan kanan dengan hulu dan warangka menghadap ke kiri.




P

  • PAGELEN (EMPU), Empu yang hidup di jaman Pajajaran. Walau karyanya indah namun dibanding empu yang lain dia kurang terkenal, mungkin karena karyanya tidak banyak. Ukuran bilahnya panjang lebar dan besar, memberi kesan gagah. Ganjanya panjang dan lurus berbentuk Ganja Wuwung, guru melednya panjang, sirah cecak agak membulat dan blumbangannya berukuran luas. Umumnya keris buatan empu ini berwarna hitam padat liat dan berkesan kering, pamornya lembut dan pandes, seolah tertancap kuat di bilah. Gambar pamor sederhana, terbanyak Wos Wutah, kedudukan keris pada ganjanya tidak terlalu membungkuk. Penampilannya memberikan kesan tenang, berwibawa dan menarik hati.
  • PAJAJARAN (TANGGUH), pasikutannya kaku dan kasar, besinya cenderung kering, keputih-putihan. Pemunculan pamornya tidak direncanakan. Menancapnya pamor pada bilah keris pandes (kokoh, dalam) dan halus. Pamor itu tergolong nggajih. Bilahnya agak panjang dibandingkan keris tangguh lainnya, gandiknya panjang dan miring. Sirah cecak pada ganja-nya lonjong memanjang.
  • PAJANG (TANGGUH), pasikutannya kemba, besinya odol dan garingsing. Pamornya sawetu-wetune (tiban, tidak dirancang). Kembang kacangnya besar, lebar dan kokoh.
  • PAKEM KERIS, panutan, pegangan dan rujukan segala sesuatu mengenai yang berkaitan dengan eksoteri keris, tetapi kadang ada perbedaan sedikit dari apa yang dianut oleh satu dengan yang lain.
  • PAKUBUWANAN, UKIRAN, model hulu keris gaya Yogyakarta, ukirannya berpenampilan “kendo” sesuai dengan orang yang berwatak sabar, lembut dan sedang tingginya.
  • PAMENGKANG JAGAD, adalah bilah keris yang retak terbelah di bagian tengah atau bawah. Ini karena sewaktu penempaan suhunya kurang tinggi sehingga satu saat penempelan besi dan pamor akan lepas dan retak. Walau termasuk keris cacat, tetapi banyak juga yang menyukainya.
  • PAMETRI WIJI, organisasi pecinta budaya keris dan senjata traditional Indonesia. Di Yogya didirikan sekitar tahun 1982, di Jakarta tahun 1983 didirikan juga organisasi serupa.
  • PAMOR AKHODIYAT, adalah bagian kelompok pamor yang mempunyai kecerahan lebih dari yang lain, sepintas seperti lelehan putih keperakan. Ini yang terjadi karena suhu yang tepat saat penempaan.
  • PAMOR LULUHAN, terjadi karena proses pemanasan yang suhunya terlalu tinggi, bahan besi dan pamor menyatu terlalu erat sehingga batas besi dan pamor susah dilihat dengan mata. Yang banyak memakai pamor ini adalah keris buatan Blambangan.
  • PAMOR  MAS KEMAMBANG, pamor yang letaknya dibagian Ganja. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis, termasuk baik tuahnya.
  • PAMOR MUNGGUL, pamor yang bentuknya seperti bisul, menonjol dari permukaan bilah sebesar biji kacang hijau atau lebih besar sedikit. Pamor ini sangat keras dan tidak bisa hilang walau dikikir dengan baja karena sifat bahannya sangat keras (Titanium).
  • PAMOR REKAN, pamor yang gambar motifnya sudah dirancang terlebih dahulu dan biasanya berdasarkan pesenan calon pemilik keris.
  • PAMOR SUMBER, pamor yang letaknya di bagian ganja, bentuknya bulatan berlapis-lapis, paling sedikit ada 3 lapisan. Dalam sebuah ganja, jumlah bulatan yang menyerupai “mata-kayu” itu paling sedikit 6 buah, pamor ini tergolong baik dan dicari orang.
  • PAMOR TIBAN, tidak direncanakan terlebih dulu, si empu hanya menempa sambil berdoa, contohnya Wos Wutah, Pandaringan Kebak, Pulo Tirto, Tunggak Semi dll.
  • PAMOR WINIH, pamor yang terletak di bagian ganja bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis, paling sedikit tiga lapisan, semacam “mata-kayu”. Pamor ini tergolong baik dan dicari orang.
  • PANAH, senjata traditional yang dijumpai di semua daerah. Terdiri dari dua bagian yaitu busur dan anak panah. Di Indonesia biasanya busar dibuat dari kayu atau bambu sedang anak panah dari bambu, kayu atau rotan.
  • PANCURAN MAS (PAMOR), pamor yang gambar motifnya menempati dua pertiga bagian keris, yaitu bagian bilah dan ganja. Gambarnya berupa garis lurus mulai ujung bilah sampai pangkal yang bersinggungan dengan bagian ganja. Kemudian dibagian ganja, garis itu pecah menjadi dua, secara menyeluruh seperti lidah ular bercabang. Pamor ini dinilai baik untuk pedagang dan pengusaha.
  • PANDES (PAMOR), istilah untuk menyatakan tertanamnya pamor pada wilah besi. Pamor ini tampaknya seolah tertanam kuat pada bilah besi dan menyembul keluar kepermukaan dengan jelas dan tegas. Penyebutan pamor pandes biasanya hanya digunakan untuk mengamati tangguh keris, misalnya salah satu tanda keris buatan empu Ki Nom adalah, pamornya Pandes.
  • PANDU NAGA (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak luk 3. memakai gandik yang dibentuk menyerupai kepala Naga di kedua sisi di daerah sor-soran. Badan Naga mengikuti lekukan tepi bilah sesuai dengan luknya, sedang di tengah bilah diantara badan Naga tersebut berbentuk ngadal meteng. Tombak ini tergolong langka dan biasanya dari jaman Mataram Sultanagungan.
  • PANGERAN SEDAYU (EMPU), atau PANGERAN SENDANG SEDAYU, nama seorang empu terkenal di jaman Majapahit. Kerisnya dapat ditandai dengan ciri sebagai berikut: ganjanya tergolong Ganja Wuwung, yakni datar, namun di bagian ujung dekat buntut cecak agak melengkung ke bawah. Ukuran ganja sedang, demikian pula ukuran bagian-bagian ganja semua serba serasi. Buntut cecaknya berbentuk buntut urang, bilahnya berukuran sedang, baik panjang, lebar maupun tebalnya, pendek kata semua dibuat serasi. Seluruh bagian keris, termasuk ricikannya digarap dengan cermat, rapi, ayu dan sempurna. Begitu rapinya sampai-sampai tepi bagian sogokannya mempunyai kesan tajam. Oleh kebanyakan pecinta keris, buatan Pangeran Sedayu dianggap sebagai keris yang paling sempurna dari semua keris yang ada. Salah satu tanda paling menyolok, besinya selalu dari bahan pilihan, hitam, halus dan lumer matang tempaan. Kesannya seolah-olah besi itu selalu basah bahkan menurut pecinta keris cukup diberi minyak dua tahun sekali dan dibersihkan serta diwarangi tiap 5 tahun sekali. Pendapat ini didasarkan karena memang besi itu benar-benar tahan karat. Pamor keris ini tergolong pamor luluhan yang lembut sekali, pamor yang muncul ke permukaan bilah sedikit sekali, bahkan tidak ada yang nyata-nyata muncul. Keris buatannya mempunyai penampilan tampan, tangkas, berwibawa oleh karena itu banyak diminati pejabat negara atau mereka yang tergolong pemimpin. Dan karena keindahan serta kesempurnaan garapannya maka nilai dan mas kawin keris buatan Pangeran Sedayu tergolong yang tertinggi dibandingkan yang lain.
  • PANGOT, salah satu senjata tradisional di Jawa dan Bali, bentuknya menyerupai pisau dapur tetapi dibentuk rapi dan indah. Punggung bilah tumpul. Pada ujung bilah bentuknya agak mencuat kebelakang. Walau dibuat dari besi baja, kadang diberi pamor. Pangot memang dibuat untuk keperluan praktis.
  • PANGGANG LELE (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak luk 3. Di sisi bilah yang  menghadap kebawah terdapat semacam bentuk yang menyerupai jenggot. Diatas bagian mentuk terdapat bungkul yang diteruskan dengan ada-ada yang terlihat jelas sampai ke ujung bilah. Seluruh permukaan bilah berbentuk nggigir sapi.
  • PANGGANG WELUT (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 5 atau 7,  di sisi bilah yang menghadap kebawah ada semacam bentuk yang menyerupai jenggot. Diatas begian mentuk terdapat bungkul yang dilanjutkan dengan ada-ada sampai keujung bilah. Separuh panjang tombak bagian bawah permukaannya berbentuk ngadal meteng, sedang diatasnya pipih datar saja.
  • PANIMBAL (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 9, ukuran sedang memakai kembang kacang, lambe gajah ada dua, memakai sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Ricikan lain tidak ada.
  • PANINGSET, (KANGJENG KYAI PANINGSET), keris pusaka kraton Yogya, luk 13 dan berdapur Parungsari, warangka dari kayu Trembalo dengan pendok dari emas murni bertahta emas permata dikelilingi manik-manik. Semula keris ini milik Pangeran Mangkukusuma yang kemudian dipersembahkan ke Sri Sultan HB V.
  • PANIWEN (DHAPUR), nama salah satu dapur keris luk 9, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, kadang-kadang kembang kacangnya pogok, lambe gajahnya satu, selain itu sogokannya rangkap, sraweyan dan greneng.
  • PANJAK, sebutan orang yang bekerja pada seorang empu. Ia merupakan tenaga kasar yang kerjanya menempa, menangani ububan dan menambah arang di perapian serta kerja kasar lainnya. Seorang panjak yang menyerap ilmu sang empu suatu saat bisa juga menjadi empu.
  • PANJAK SEDAYU, sebutan bagi kelompok pembantu empu Pangeran Sedayu yang juga membuat keris mirip dengan karya empu Pangeran Sedayu pada jaman Majapahit, walau belum punya nama sendiri tetapi keris buatannya cukup indah. Keris ini ukuran bilahnya sedang, besinya hitam berserat, pamor sederhana, umunya Pulo Tirto atau Wos Wutah. Tanda- tanda lainya, bagian ganja mempunyai sirah cecak yang meruncing ujungnya. Guru melednya sedang, wetengannya juga sedang. Sogokannya dalam, ujungnya agak melengkung, janurnya dibuat tajam. Kalau membuat Dha pada bagian Ron Dha, jelas dan manis sekali. Kruwingannya  jelas, begitu juga kalau membuat gusen dan lis-lisan. Bagian ada-ada dibuat rapi hingga ujung bilah. Keris buatan Panjak Sedayu mempunyai penampilan manis berwibawa tetapi tidak seanggun buatan Pangeran Sedayu.
  • PANJIANOM (DHAPUR), atau Panji Nom, salah satu dapur keris lurus. Bilahnya berukuran sedang, bentuknya berkesan agak membungkuk mamakai sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.
  • PANJI HARJAMANIK, (KANGJENG KYAI PANJI HARJAMANIK), salah satu pusaka kraton Yogya, berdapur Pendawa Paniwen walau nama ini tidak ada dalam Pakem Dapur Keris. Warangka dari kayu Timoho dengan pendok dari emas. Merupakan  putran KK. Jakatuwa, dibuat oleh empu Lurah Mangkudahana di jaman Sri Sultan HB V.
  • PANJI WILIS, jenis hiasan emas yang ditempelkan pada bagian depan gandik keris atau sirah cecak ganja. Hiasan emas itu diukir indah, teknik pemasangan bisa kinatah atau sinarasah.
  • PANUNGKUP, (KANGJENG KYAI PANUNGKUP), keris pusaka kraton Yogya, berdapur Sempana dengan luk sinarasah, warangka dari kayu Timaha, pendok  emas Rajawarna, keris ini buatan Empu Lurah Supa di jaman Sri Sultan HB V dan merupakan putran KKA Panungkup.
  • PARANG ILANG, sejenis senjata tajam tradisional berbentuk pedang. Pembuatannya sederhana tanpa pamor, tandanya punggung bilah tumpul merupakan garis cekung. Bagian sisi yang depan membentuk garis cembung dan tajam seluruhnya, mulai bagian pangkal sampai ujung. Kegunaan untuk berburu dan merambah hutan.
  • PARANG LANDUNG, tergolong pedang tanpa pamor. Panjang sekali sekitar 125 cm atau lebih, bagian dekat ujungnya agak lebih lebar dibanding pangkalnya. Sisi punggungnya tumpul, sedang sisi yang di depan tajam seluruhnya. Biasanya untuk  berburu, mencari rotan dan kadar bajanya lebih banyak dibandingkan pedang sejenis.
  • PARI SAWULI (PAMOR), pamor yang gambarnya menyerupai untaian bulir padi, tergolong tidak memilih, cocok bagi semua orang, tetapi tergolong sulit dan banyak hambatan pembuatannya.
  • PARUNG SARI (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng, tetapi ada yang mengatakan ini dapur Sengkelat.
  • PASIKUTAN, atau sikutan, istilah untuk menilai gaya irama bentuk dan kesan perwatakan tosan aji, khususnya keris. Biasanya sebelum ahli tangguh menentukan tangguh sebilah keris, terlebih dahulu ditentukan pasikutannya. Apakah pasikutan itu kau (janggal), wingit (angker), prigel (tangkas), sedeng (sedang), demes (rapi menyenangkan), wagu (kurang serasi), odol (kasar), kemba (hambar), tanpa semu (tidak berkesan), sereng (keras,galak), dan bagus (tampan). Contohnya: Keris tangguh Majapahit, pasikutannya angker tapi tangkas, tangguh Blambangan, pasikutannya rapi mengesankan, tangguh Tuban pasikutannya sedang, tangguh Mataram Senapaten pasikutannya tangkas, keras tapi tampan dan sebagainya.
  • PASOPATI (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya sedang dan menampilkan kesan ramping, ricikannya memakai kembang kacang pogok, lambe gajahnya satu, sogokan dua, ukuran normal serta ri pandan. Kadangkala Pasopati juga memakai gusen dan lis-lisan. Nama Pasopati ini berlainan dengan senjata pusaka Arjuna.
  • PEDANG, Senjata tajam berbentuk pisau panjang, hampir seluruh suku bangsa mempunyai jenis pedang. Ditinjau dari bentuk mata bilahnya, ada dua macam pedang yaitu: Pedang Suduk, yaitu pedang yang cara memakainya dengan menusuk tubuh lawan, Pedang Sabet, yaitu pedang yang memakainya dengan cara membabat tubuh lawan. Pedang di Indonesia bentuknya hampir menyerupai pedang dari daratan China dibandingakn dengan yang dari Eropa atau Arab.
  • PEGAT WAJA, istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan keris yang retak pada  sisi tajam bilahnya. Keris ini tergolong cacat dan tidak begitu disukai orang karena retaknya disebabkan tidak menempel dengan sempurna saton dengan lapisan bajanya sewaktu penempaan karena suhu kurang tinggi.
  • PEJETAN, lih Blumbangan.
  • PEMAOS, LANDEYAN, tangkai tombak yang panjangnya sekitar 2.5 m, biasa digunakan prajurit jaga kraton.
  • PENDAWA, keris luk 5, sepintas mirip dapur keris Pulanggeni.  Ukurannya sedang, gandiknya polos, memakai sogokan dua, sraweyan dan greneng lengkap.
  • PENDAWA CINARITA (DHAPUR), atau Pendawa Carita nama salah satu dapur keris luk 5 memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ada-ada nya jelas. Keris ini banyak dipunyai dalang dan tergolong dapur popular.
  • PENDAWA LARE, keris luk 5, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, bagian ada-adanya tebal dan tampak jelas.
  • PENDAWA PRASAJA, nama keris luk 5, ukuran panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan.
  • PENDOK, lapisan pelindung bagian gandar dari warangka keris, biasanya terbuat dari logam perak, kuningn, tembaga, emas. Pendok dibuat dengan rapi dan ukiran lembut dan kadangkala diberi hiasan intan berlian atau batu mulia. Ragam ukirannya bermacam-macam, alas-alasan, semen, tamansari dsb.
  • PENGARAB-ARAB, (KANGJENG KYAI PENGARAB-ARAB), nama salah satu pedang pusaka kraton Yogyakarta. Berdapur Lameng, digunakan khusus untuk menghukum mati yang dilakukan oleh petugas disebut Abdidalem Singoranu.
  • PENGGING WITORADYO (TANGGUH), nama salah satu tangguh didunia perkerisan atau tombak, biasanya berupa keris luk, bagian luknya amat rengkol, yakni lekukannya amat dalam dibanding keris biasa. Umumnya besinya matang tempaan dan mempunyai kesan lumer pandes pamornya. 
  • PENUKUP, LANDEYAN, jenis tangkai tombak dengan panjang 195 – 225 cm, tombak dengan landeyan penukup ini dulu digunakan untuk pertempuran jarak dekat sehingga harus dilatih secara khusus untuk bisa menggunakannya.
  • PESI, bagian bawah yang merupakan tangkai keris. Bagian inilah yang masuk kedalam hulu dengan panjang sekitar 5 – 7 cm dengan penampang 5 – 7 mm. Di Jawa Timur disebut dengan istilah Paksi.
  • PINARAK (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang dengan posisi agak membungkuk, gandiknya panjang di belakang. Bagian depan justru tajam, menggunakan sogokan rangkap. Ricikan lain tidak ada.
  • PINARAN MENDANG (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, sebagian menyebut Mendang Pinaran. Bilahnya berukuran sedang, gandik panjang dan polos. Sogokannya rangkap sepintas seperti Kebo Lajer.
  • PITRANG, PANGERAN (EMPU),
  • PLERET, (KANGJENG KYAI PLERET), Pusaka kraton Yogya berupa tombak serta dianggap paling tinggi kedudukannya, berdapur Pleret. Hanya Raja atau Pangeran Sepuh yang diijinkan mencuci atau menjamah tombak ini.
  • PRAMBANAN (PAMOR). Pamor, batu meteor yang jatuh di daerah Prambanan pertengahan abad 18, terdiri atas dua bagian, meteor pertama diambil atas perintah Sri Paku Buwono III tanggal 13 februari 1784 dan kedua lebih besar lagi diambil atas perintah PAKU BUWONO IV pada tanggal 12 februari 1797. Setelah sampai di keraton Surakarta dinamakan Kangjeng Kyai Pamor dan dipakai sebagai cadangan untuk membuat pamor keris/tombak.
  •  PUCUKAN, atau Pucuk adalah bagian paling ujung atas dari sebilah keris atau tombak. Ujung itu selalu runcing, ragam bentuknya ada ngudup gambir, mbuntut tuma, anggabah kopong dan nyujen.
  • PUDAK SATEGAL, adalah nama salah satu bagian keris yang terletak di atas sor-soran, di tepi bilah. Terdiri dari dua bagian, di depan dan di belakang. Pudak sategal yang ada di bagian depan bertengger di atas gandik sekitar 3,5 cm sedang di belakang menempel di tepi bilah sekitar 6,5 cm dari ujung ganja, bentuk ricikannya menyerupai kelopak bunga dengan ujung- ujung yang runcing. Selain itu Pudak sategal juga merupakan nama keris berdapur lurus dengan kembang kacang, lambe gajah satu, pejetan, kruwingan, greneng dan pudak sategal.
  • PUDAK SINUMPET (PELET), gambaran pada Warangka kayu Timoho yang menyerupai pelet Tulak, hanya garis hitam tebal di tengah. Tidak hitam legam tetapi berwarna lebih muda.
  • PULANGGENI (DHAPUR), dapur keris luk 5, ukurannya sedang, gandiknya polos, mempunyai sraweyan dan greneng lengkap.
  • PULANGGENI, (KANGJENG KYAI PULANGGENI), keris pusaka kraton Yogya berdapur Tilam Upih, warangkanya Kayu Trembalo, pendok dari emas dihias rinaja werdi. Dibeli Sri Sultan HB V dari mranggi bernama Mas Darmapanembung.
  • PULAS (PELET), nama gambar warangka kayu Timoho berupa bintik atau garis tebal berwarna hitam atau coklat tua atau hitam pucat. Gradasi warnanya tidak begitu kontras seperti lukisan awan atau mendung.
  • PULO TIRTA (PAMOR), nama pamor yang mirip Wos Wutah, hanya menghiasi sebagian kecil dari bilah tombak, keris. Penempatan menyebar tidak merata, mirip pulau-pulau, merupakan pamor tiban dan bertuah menambah ketrentaman dan rejeki serta baik untuk pergaulan.
  • PUNTING, Keris, lih Pesi.
  • PURBANIYAT, (KANGJENG KYAI PURBANIYAT), pusaka kraton Yogyakarta, merupakan pegangan jabatan Patih kraton, semula dimiliki Kangjeng Pangeran Ageng Ario Danurejo I, setelah meninggal maka keris tersebut dikembalikan ke kraton kemudian diberikan sebagai tanda jabatan ke Patih yang baru, demikian seterusnya.
  • PURNAMA DADARI, lihat Wulan-wulan.
  • PURNAMA SADHA, lih Timoho.
  • PUSAKA, benda peninggalan nenek moyang, bisa berupa rumah, benda lainnya seperti pusaka, sehingga walau sebenarnya nilai pusaka itu biasa tetapi bagi pemiliknya nilainya tinggi sekali.
  • PUTRI KINURUNG (PAMOR), nama pamor yang bentuk gambarnya merupakan sebuah danau dengan beberapa pulau di tengahnya, banyak yang menyukainya terutama bagi pemegang uang seperti bendahara, kasir dsb, tergolong pamor tiban dan tidak pemilih.
  • PUTRI KINURUNG, Ukiran, model ukiran gaya Yogya sepintas seperti ukiran lainnya tetapi di bonggol dihias dengan ukiran pahat. Ukiran Putri Kinurung ini sesuai dikenakan oleh orang yang pesolek, suka mengenakan pakaian rapi dan mewah.
  •  PUTING KERIS, lih PESI.
  •  PUTUT (DHAPUR), merupakan nama dapur keris lurus yang ukuran panjang bilahnya agak pendek, lebar, gandiknya diukir seperti orang duduk atau monyet duduk tanpa ricikan lain, pamornya umumnya sederhana.
  • PUTUT KEMBAR (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, bentuk serupa dapur putut tetapi gandiknya ada dua, bentuknya agak simetris dengan kedua gandik dihias bentuk manusia atau monyet. Biasanya berpamor sederhana. Ada yang menyebut ini keris Umyang walaupun ini salah kaprah karena Empu Umyang hidup pada jaman kerajaan Pajang.



R

  • RANGGA PASUNG (DHAPUR), salah satu dapur keris yang tergolong Kalawija, luk 15, gandik polos, tikel alis dan greneng, tetapi ada yang bukan greneng melainkan tingil, keris ini tergolong langka.
  • RANGGA WILAH (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 15, memakai kembang kacang, lambe gajah satu dan greneng.
  • RAHTAMA (PAMOR), pamor yang terletak di sor-soran, tergolong pamor tiban, pada umumnya pamor ini terselip di pamor wos wutah atau ngulit semangka, tuahnya baik  dimiliki oleh pengantin baru atau pasangan yang menghendaki anak yang baik berbudi luhur dan mulia.
  • RAJA WERDI, hiasan yang biasa diberikan pada sebuah  pendok dengan cara menempelkan warna warni manik manik dan batu mulia, penempelan ini diatur rapi dan cantik disekitar tepi bagian mlewahan pendok. Pendok Raja Werdi disebut juga pendok Rinaja Warna atau Rinarja Werdi.
  • RAMBUT DARADAH (PAMOR), pamor yang hampir mirip dengan Adeg, tetapi pada jarak tertentu terdapat lekukan pinggir pamor, ia tergolong pamor miring, biasanya  pamor rekan, tuahnya baik dan berjiwa kepemimpinan, pamor ini termasuk pemilih.
  • RANDA BESER, sebutan keris yang cacat berlobang pada bagian sor-soran nya, lubang ini terjadi bukan karena aus tetapi karena pembuatan nya ada kekeliruan. Pada umumnya lubang itu berupa celah yang terdapat pada pertemuan antara bagian bawah keris dengan bagian atas ganja. Tuahnya buruk, bisa boros, tetapi keris ini masih bisa diperbaiki oleh empu atau pengrajin keris.
  • RANTE (PAMOR),  pamor yang gambarannya mirip dengan rante, berupa sederet bulatan yang berlubang ditengahnya, bulatan itu dihubungkan dengan pamor yang menyerupai garis. Tergolong pamor rekan, tidak pemilih dan tuahnya baik untuk mencari kekayaan dan tidak bersipat boros.
  • RARA SIDUWA (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 5, bentuknya khas, bagian bawah lurus dan luk nya mulai dari tengah bilah, rickan hanya pejetan serta tingil saja, dapur ini tergolong langka dan hanya terdapat pada keris tua saja.
  • REGOL (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, panjang bilahnya sedang, mempunyai 2 buah gandik didepan dan belakang, pijetan juga dua didepan dan belakang, biasanya tidak begitu condong kedepan melainkan cenderung tegak.  Keris ini mempunyai bentuk ganja yang khas.
  • REGOL, (KANGJENG KYAI REGOL), pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Bondan, mungkin termasuk Kalawija, warangkanya dari kayu trembalo dengan pendok blewahan dari emas, keris ini duplikat K.K.A. REGOL, dibuat Empu Lurah Ngabehi Supo dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
  • REJENG (EMPU), hidup di Surakarta dijaman Sunan Paku Buwono V, kerisnya ditandai dengan : Ganja nya Sebit Ron Tal, sirah cicaknya meruncing bagian ujungnya, bagian gendok tidak begitu cembung dan buntut cecak tergolong model buntut urang. Ukurannya sedang tetapi agak tipis dibandingkan keris sejamannya, besi berwarna hitam dan keabu-abuan, pamornya tergolong mubyar, secara keseluruhan penampilannya kalem, sopan tapi cukup berwibawa.
  • REKAN (PAMOR), pamor yang sudah dirancang terlebih dahulu seperti Blarak Ngirid, Ron Genduru, Udan Mas, Kupu Tarung dlsb.
  • REMPELAS (DAUN), daun dari jenis pohon Ficus sp, atau dari jenis pohon Celtis rigescens Planch. Daun amplas yang telah kering digunakan untuk menghaluskan permukaan kayu warangka, ukiran, semua peralatan dari kayu.
  • RENCONG, senjata traditional dari ACEH.
  • RENGGO (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 5, tombak ini memakai  sapit abon dan semacam alur serupa sogokan yang mengelilingi sapit abon itu. Bilahnya tebal tetapi datar saja tanpa  ada–ada, ditepi bilah yang menghadap kebawah terdapat dua tonjolan menyudut serupa lambe gajah.
  • RENGKOL,  penamaan bagi luk keris atau  tombak oleh pecinta keris di Jawa, luk yang “rengkol” artinya luk yang lekukannya amat dalam. Lawannya adalah KEMBA artinya luk nya tidak begitu nyata, kedalamannya dangkal.
  • RI CANGKRING, nama bagian dari warangka keris gaya Solo, Yogyakarta atau Madura. Terletak ditepi kira dan kanan bagian atas warangka baik model gayaman, branggah, ladrang atau daunan. Jadi ri cangkring merupakan bagian yang berpasangan, bentuknya merupakan tonjolan landai yang arahnya sejajar dengan letak lubang tempat pesi keris masuk warangka.
  • RICIKAN, adalah nama dari bagian keris, tombak atau pedang. Secara garis besar sebilah keris dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian wilahan atau bilah, ganja dan pesi. Bagian wilahan atau bilah juga dibagi 3 bagian utama, sor-soran, tengah dan pucukan. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris banyak ditemukan.
  • RINAJA WARNA, lihat RAJA WERDI.
  • RI PANDAN (PAMOR), pamor yang gambarnya menyerupai  duri ikan, sepintas seperti pamor Ron Genduru tetapi daunnya lebih jarang dan tipis sehingga menimbulkan  kesan kurus. Tergolong pamor miring dan termasuk pamor rekan. Tuahnya menambah kewibawaan dan baik bagi prajurit tetapi pamor ini tergolong pemilih.
  • RONGGOWARSITO, RADEN NGABEHI, Pujangga Jawa terkenal dari kraton Surakarta, menulis buku tentang keris yang berjugul PAKEM PUSAKA.
  • RON DADAP, lihat GODONG DADAP.
  • RON GENDURU (PAMOR), pamor popular dan mahal harganya. Bentuknya menyerupai daun genduru, tuahnya menjadikan pemiliknya terpandang, wibawa dan pandai  memimpin orang.  Pamor ini tergolong pemilih dan kadang disebut juga Pamor Bulu Ayam.
  • RON SEDAH, lihat GODONG SEDAH.
  • RON TEKI (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah ada dua, gandiknya panjang, selain itu memakai pejetan, sogokannya satu didepan.
  • RON PAKIS (PAMOR), pamor yang menyerupai  daun Pakis, tergolong pamor miring dan rekan, juga termasuk pamor popular dan mahal harganya dan sering dikacaukan namanya dengan pamor Bulu Ayam.
  • ROS-ROSAN TEBU (PAMOR), pamor yang berbentuk batang tebu yang beruas pendek. Tergolong pamor mlumah, tuahnya mudah mencari rejeki dan disegani orang, tergolong pamor rekan dan tidak memilih.
  • RUAS BAMBU (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus yang tepinya mempunyai ketiak-ketiak seperti pudak sategal yang bersusun dari atas kebawah. Jarak antar ruas bekisar 2.5 – 4.5 cm, biasanya jaran ruas dibagian pangkal lebih rapat dibandingkan dibagian ujung. Keris ini hanya terdapat di  Bangkinang, Riau dan pada umumnya tidak berpamor serta besinya halus sekali.
  • RUDUS, sebutan bagi Badik di Kalimantan Timur dan Sabah, sebagian menyebut Badik Rudus.





S

  • SABET PEDANG, lihat PEDANG SABET.
  • SABUK INTEN (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 11, ukuran panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan. Kadang ada yang luk 13, namun ada yang mengatakan itu adalah dapur Sengkelat.
  • SABUK TALI, salah satu keris luk 11, panjang bilahnya sedang, gandik polos, ricikan sederhana, sogokan hanya satu, dibagian depan saja, ukuran sogokan tidak begitu panjang , memakai tingil.
  • SABUK TAMPAR, salah satu keris luk 9, panjang keris sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan hanya satu didepan, sraweyan dan ri pandan. Sabuk Tampar juga ada yang luk 11, luknya rengkol (dalam), gandik polos, pejetan, sogokan satu didepan dan sraweyan.
  • SADA LANANG, lih SADA SALER.
  • SADAK (DHAPUR), merupaka salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris dan  tebal. Bentuk atas menyerupai Godong Andong, bagian tengah menyempit menyerupai pinggang. Memakai ada-ada sampai ketengah bilah, dibawah ada-ada ada bungkul, disis bilah bagian bawah disamping bungkul ada bentuk menyudut. Selain itu Sadak juga merupakan nama sejenis tosan aji berpamor yang bentuknya mirip dengan pinsil. Sebenarnya Sadak yang ini merupakan bentuk tombak pendek dengan pegangan (hulu) hanya sejengkal, dewasa ini sering dipakai sebagai isi dari tongkat komando.
  • SADA SALER (PAMOR), salah satu bentuk pamor yang berbentuk garis memujur dari pangkal keujung bilah keris. Pamor ini tidak memilih, dibeberapa tempat disebut Sada Lanang, Adeg Siji atau Sada Siji.
  • SALAHITA (EMPU), sering dipanggil  Empu Salaita atau  Empu Galaita, hidup di Tuban pada awal Kerajaan Majapahit. Kerisnya berukuran besar, panjang dan tebal memberi kesan gagah , ganjanya datar dan tergolong ganja wuwung, gandiknya membulat tebal, blumbangannya berukuran lebar, sirah cecak berbentuk membulat, mirip potongan buah Melinjo, gulu melednya jenjang dan ujung ganja berbentuk nguceng mati. Empu ini menyusun pamor dengan rumit, menyebar dipermukaan bilah, besi yang digunakan bersifat liat, padat dan memberi kesan kering. Kesannya gagah, tegas, tangguh dan meyakinkan.
  • SALA KETINGAL (DHAPUR), salah satu dapur pedang yang tergolong Pedang Suduk. Panjang sekitar 85 – 95 Cm, sisi punggung terdiri dari 2 bagian, yang bawah lurus sampai dua pertiga panjang majal, kemudian sisi itu berubah bentuk cekung yang makin keujung makin tajam, pada  sisi punggung yang lurus didekatnya ada kruwingan, sejajar dengan sisi pedang. Bagian ujungnya runcing, sisi pedang yang tajam, didepan, merupakan sisi lengkung yang cembung. Pedang ini sering digunakan secara praktis di pertempuran dan juga banyak yang dijadikan pusaka, hanya bentuknya lebih tipis dan berpamor yang apik.
  • SAMPUR (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, jalen, lambe gajahnya dua, tikel alis,  ada-ada dan sogokannya rangkap. Selain itu memakai pudak sategal, kruwingan, sraweyan, greneng susun. Ada yang menamakan juga dapur Sinom Pudak Sategal.
  • SATRIYA PINAYUNGAN (PAMOR), nama pamor yang serupa pamor Kudung  tetapi dibawahnya ada pamor lain. Pamor yang dibawah dibagian sor-soran bisa berupa Wos Wutah, Bawang Sebungkal dll. Tetapi ada yang mengatakan Pamor ini bentuknya berupa bulatan-bulatan berlapis, jumlahnya 3 buah. Letaknya berjajar dibagian  sor-soran. Diatas jajaran bulatan itu ada lagi beberapa bulatan berjajar keatas. Menurut pecinta keris, kedua versi itu benar semua, pamor ini dapat menjauhkan rasa iri, dengki dari orang lain terhadap dirinya, tergolong popular dan dicari Pejabat.
  • SANDANG WALIKAT, merupakan warangka yang paling sederhana, biasanya untuk jenis keris ukuran kecil dan pendek. Sebilah keris seringkali mempunyai lebih dari satu warangka, di Jawa biasanya disebut warangka yang tua  diwayuh  oleh yang muda (dimadu), kalau warangka bekas digunakan keris lain disebut warangka randan (janda).
  • SANGA-SANGA (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 9, permukaan bilahnya nggigir sapi dengan  ada-ada tipis sepanjang bilah. Sisi bilah diujung bawah tombak berbentuk menyudut, seluruh permukaan bilah tertutup kinatah lung-lungan. Tombak ini termasuk langka karena mungkin terlalu indah dan mahal bila diproduksi kebanyakan.
  • SANTAN (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 11, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai pejetan, tikel alis, kembang kacang, jenggot, lambe gajahnya satu, greneng dan Ron Dha nunut.
  • SAPIT ABON (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, pipih, tipis dan tidak memakai ada-ada. Sisi bagian tengah bilah ada lekukan dangkal dan landai menyerupai bentuk pinggang, tetapi tidak begitu ramping.ukuran bilah bagian atas pinggang lebih sempit disbanding bagian bawah. Dibagian sor-soran ada bentuk sapit abon, yaitu bentuk semacam penjepit bilah, menyerupai ada-ada besar yang terputus.
  • SEBIT RON, nama bagian yang permukaannya melandai dibagian belakang bagian gendok dari sebuah ganja. Sebit Ron berbeda dengan Sebit Ron Tal.
  • SEBIT RON TAL, salah satu bentuk ganja keris, bentuknya  agak lengkung melandai. Disbanding bagian Wetengan maka bagian Sirah Cicak dan bagian Buntut Urang kedudukannya agak turun. Keris-keris buatan Mataram banyak yang memakai ganja Sebit Ron Tal.
  • SEDET, keris dengan luk 15, panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu, pakai jalen, sogokan rangkap ukuran normal, ricikan lain greneng, ada yang memakai tikel alis, adapula yang tidak.
  • SEDAYU (TANGGUH), pasikutannya demes, serasi, harmonis. Panjang bilahnya sedang, berkesan ramping, luknya luwes. Besinya matang tempaan, berkesan basah, hitam kebiruan. Pamornya bersahaja, mrambut, dan seolah mengambang pada bilahnya. Ganjanya tergolong sebit ron tal dan sirah cecaknya agak pendek.
  • SEGALUH (TANGGUH), mempunyai pasikutan kaku tetapi luruh. Besinya berkesan kering, warnanya hitam pucat kehijauan. Pamornya kelem. Panjang bilah bermacam-macam ada yang panjang, ada pula yang pendek. Gandiknya maju ke depan, sehingga ganjanya selalu panjang.
  • SEGARA MUNCAR, keris luk 9, panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet dan sogokan rangkap yang ukurannya panjang sampai  sekitar pertengahan bilah, tidak memakai greneng maupun tingil tetapi memakai sraweyan.
  • SEGARA WEDI (PAMOR), nama pamor berbentuk bulatan bulatan kecil, sebgian berlapis sebagian tidak, menyebar  keseluruh permukaan bilah, pamor ini menyebabkan yang punya mudah mencari rejaki dan bukan pamor pemilih.
  • SEGARA WINOTAN (DHAPUR), biasa disebut juga Jangkung Mangku Negoro, nama salah satu dapur keris.ukuran bilah sedang, luk 3, memakai kembang kacang, jenggot, sogokannya rangkap ukuran normal tetapi sogokan tersebut menyatu sampai keujung bilah. Memakai kruwingan dan greneng lengkap. Di Sabah dan Serawak disebut Aliamai Lok Tiga.
  • SEGARA WINOTAN (PELET), gambar pada warangka Timoho, pada permukaannya tergambar dua atu tiga bintik besar berwarna hitam atau coklat tua, letaknya tidak teratur, tuahnya menambah kebijaksanaan pemiliknya.
  • SEKAR ANGGREK (PAMOR), pamor yang menyerupai untaian bungan anggrek, sepintas mirip Pamor Bunga Pala.bedanya pada Sekar Anggrek, bagian ujung bunga lebih berkembang (mekrok – jawa), tergolong pamor rekan, tuahnya mudah mencari keberuntungan.
  • SEKAR JANTUNG (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, sisi bilah bagian tengah melebar. Memakai pudak sategal, dan kruwingan, biasanya pudak sategalnya lebih besar dari pudak sategal keris, seluruh tepi bilah diatas pudak sategal memakai gusen dan lis-lisan. Disisi bilah bagian bawah ada bentuk menyudut, dapur ini tergolong langka.
  • SEKAR KOPI (PAMOR), pamor seperti buah buah kopi dalam untaian ranting, ditengah ada pamir yang menyerupai garis tebal dari pangkal bilah keujung, dikiri kanan garis itu  ada bulatan bulatan kecil yang menggerombol terpisah pisah, setiap gerombol terdiri dari dua, tiga atau empat bulatan kecil. Tuahnya memudahkan pemiliknya mencari rejeki, sehingga banyak dicari pedagang dan pengusaha, tergolong pamor rekan.
  • SEKAR GLAGAH, lih Sekar Tebu.
  • SEKAR LAMPES (PAMOR), pamor keris dengan gambar menyerupai untaian bunga, mirip Sekar Anggrek dan Sekar Pala. Pamor ini tergolong rekan dan pemilih.
  • SEKAR MANGGAR (PAMOR), nama pamor yang gambarannya menyerupai untaian bunga kelapa, sepintas seperti pamor Mangar tetapi pada pamor Mangar maka “bunga kelapa” nya lebih besar  dan lebih jelas, sedang pada pamor Sekar Mangar yang lebih jelas adalah gambar “untaian dan tangkainya”. Pamor ini menyebabkan terkenal dalam pergaulan, merupakan pamor tidak pemilih dan tergolong pamor rekan.
  • SELEH, KI (EMPU), hidup dijaman kerajaan Demak. Tanda tanda kerisnya ialah Ganjanya tipis, datar dan tergolong ganja wuwung. Gulu melednya sempit, sirah cicaknya panjang. Wetengannya ramping sekali, buntut cicaknya meruncing. Ukuran bilah kerisnya hampir serupa dengan buatan Majapahit tetapi besinya tampak seperti kurang tempaan, berpori dan agak kekuningan. Pamornya  seolah hanya mengambang dipermukaan bilah, motif pamornya sederhana seperti Wos Wutah, kembang kacangnya agak kurus tetapi lingkarannya agak lebar, sogokannya biasa tetapi blumbangannya agak sempit dan dalam.  Secara keseluruhan keris buatannya berkesan sederhana tapi berwibawa.
  • SEKAR PALA (PAMOR), pamor keris atau tombak, menyerupai bentuk untaian bunga pala , ia hampir mirip dengan pamor Sekar Anggrek. Tuahnya dapat menjadikan pemiliknya terkenal,  biasanya dimiliki Dalang atau Pesinden.
  • SEKAR SUSUN (PAMOR), pamor yang mirip Melati Rinonce, bedanya pada Pamor Sekar Susun gambar bunganya lebih besar. pamornya tidak pemilih dan biasanya terdapat dikeris nom-noman.
  • SEKAR TEBU (PAMOR), pamor yang mirip Blarak Ngirid atau Blarak Sinered. Bedanya ujung garis pamor yang menyerupai gambar daun kelapa tidak sampai ketepi bilah, melainkan mengumpul ditengah bilah. Guratan garisnya juga lebih halus. Pamor ini tergolong pemilih, merupakan pamor Miring dan Rekan.
  • SELOKARANG (PAMOR), pamor yang gambarnya menyerupai batang karang dilaut, sepintas lalu menyerupai  pamor Tunggak Semi, tetapi bagian seminya memanjang terus sampai keujung bilah, tergolong pamor Mlumah yang sukar pembuatannya. Katanya keris ini baik bagi yang ingin mencari pengikut. Biasanya dimiliki oleh pemimpin peguruan silat atau pimpinan aliran kebatinan.
  • SELUT,  salah satu hiasan pada hulu keris (gagang keris), sebesar bola pingpong dengan garis tengah 35 – 45 mm, terbuat dari logam berukir seperti perak, emas, tembaga, kuningan dihiasi dengan intan berlian dan batu mulia lainnya., selut yang mahal bisa berharga jutaan rupiah.
  • SEMAR BETAK (DHAPUR), atau SEMAR BETAK atau Semar Petak, nama salah satu dapur keris , bilahnya pendek, lebar dan lurus. Bagian sor-sorannya agak tebal, gandiknya tebal diukir kepala gajah dan dibawah gandik ada lubangnya. Dapur keris ini tergolong sederhana dan hanya ada pada keris keris tua.
  • SEMAR MESEM (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya pendek tetapi lebih besar dibandingkan bilah keris lain pada umumnya, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, biasanya bentuk bilah memberi kesan membungkuk. Dapur keris ini jarang terdapat di keris baru ataupun lama, tergolong amat langka.
  • SEMAR TINANDU (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya tergolong pendek, tipis tapi lebar dan menampilkan kesan gendut. Keris ini memakai kembang kacang bersusun dua, atas dan bawah. Selain itu ia memakai sogokan dua, ukuran normal. Gandiknya tergolong tipis dan pejetannya dangkal. Keris ini tergolong langka dan tua, dikalangan pecinta keris sering dianggap keris tindih, yakni bisa menangkal pengaruh buruk keris lain.
  • SENDANG (TANGGUH), meskipun garpannya rapi, pasikutannya wagu, kurang harmonis, kurang serasi. Bilahnya kecil, ramping dan agak pendek. Besinya matang tempaan, kehitaman dan berkesan basah. Pamornya sederhana dan berkesan mengambang.
  • SEPANA KALENTANG, atau  Sempana Klentang adalah nama keris luk 9,  bilahnya berukuran panjang, luknya tidak dalam, memakai kembang kacang, ri pandan dan tikel alis.
  • 39.   SEMBUR (PELET), gambar pada warangka Timoho berupa bintik bintik kecil berwarna hitam atau coklat tua dan relatif merata dipermukaan kayu, bintik ini ada yang bentuknya bulat dan ada yang lonjong.
  • SEMPANA, lih Sepana,
  • SEPANER (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, ada yang menyebutnya SEMPANER, SEMPANA BENER, SUPONO BENER. Bilahnya sedang, memakai kembang kacang, tikel alis dan ri pandan. Keris ini tergolong populer dan banyak jumlahnya.
  • SENGKELAT (DHAPUR),  salah satu dapur keris luk 13, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu dan memakai jenggot. Selain itu ricikannya adalah sogokan rangkap, sraweyan, ri pandan,  greneng, kruwingan. Namun ada yang menyebutkan bahwa Sengkelat tidak memakai jenggot, jika ada jenggot namanya dapur Parungsari.
  • SEPANG (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus, panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang  tanpa pejetan, tanpa ricikan lainnya. Tetapi ada pendapat yang menyatakan dapur Sepang bilahnya simetris, tanpa ricikan, tanpa gandik, kadang kadang ada tingil kembar dikanan kirinya, tuahnya baik untuk membangun kerukunan suami istri.
  • SEPOKAL (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilahnya sedang dan hanya ada sraweyan saja. Bentuk keris amat sederhana.
  • SEPANA PANJUL (DHAPUR), atau Sempana Panjul, nama darur luk 7, keris ini memakai kembang kacang, sraweyan, ri pandan dan greneng. Tergolong langka dan agak jarang dijumpai.
  • SEPANA BUNGKEM (DHAPUR), nama salah satu dapur keris luk 7,  memakai kembang kacang tetapi kembang kacangnya bungkem. Tergolong popular dan disukai oleh Jaksa atau Pembela karena katanya dapat mempengaruhi lawan bicara, tetapi karena sering dicarai maka banyak terjadi pemalsuan yang tadinya tidak bungkem dibuat menjadi bungkem dengan cara membentuk kembali kembang kacangnya menjadi bungkem.
  • SENGKOL (DHAPUR), nama salah satu dapur keris  luk 1, ukuran bilahnya sedang, lurus dan agak membungkuk. Ganja keris berdapur Sengkol ini polos, pejetannya dalam, pakai greneng atau tingil, luknya satu dipangkal bilah, bentuk ini tergolong aneh dan keris ini juga langka sekali.
  • SEPANA (DHAPUR), atau Sempana, atau Sumpono, nama dapur keris luk 7, memakai kembang kacang, gandiknya tebal, sraweyan dan ri pandan. Keris ini banyak jumlahnya.
  • SETRA BANYU (EMPU), nama empu yang hidup didesa Tesih  pada kerajaan Majapahit dengan tanda buatannya sebagai berikut, ganja datar, tergolong ganja wuwung, gulu melednya panjang, sirah cecaknya berukuran sedang, wetengannya montok, buntut urangnya panjang dan tipis. Secara keseluruhan bagian ganjanya agak lebih panjang dibanding dengan keris buatan Majapahit lainnya. Empu ini menyenangi pamor miring seperti Adeg, Lar Gangsir, ganggeng kanyut dan sebagainya. Ukuran bilah agak lebih panjang dari buatan dari buatan Majapahit umumnya tetapi lebar bilahnya cukup sehingga memberi kesan ramping. Kalau membuat sogokan dangkal tapi panjang, janurnya tumpul, kembang kacangnya kurus, jalennya pendek, lambe gajah panjang, bagian pejetan dibuat sempit dan dangkal, tikel alis pendek dan dangkal.
  • SETAN KOBER, nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Digunakan ketika melawan Sutawijaya, saat perutnya terkena  Kyai Pleret maka ususnya yang  keluar diselipkan ke kerisnya tetapi ketika terdesak maka Arya Penangsang lupa dan mencabut kerisnya sehingga usunya terburai.
  • SIDERIT (BESI), mineral besi terdiri dari kristal-kristal karbonat besi. Mineral ini berupa kelabu putih kekuningan, atau kecoklatan  dengan permulaan yang mengkilat, rumusnya FeCO3. dalam dunia keris maka bahan ini biasa dipakai  untuk batu bahan pamor yang hanya mengandung besi saja. Pada bilah keris, pamor dari bahan ini warnanya hitam dan umunya dinamakan Pamor Sanak atau Nyanak. Ada yang menyebut pamor wulung.
  • SIGAR JANTUNG (DHAPUR),  nama salah satu dapur keris  lurus, ukuran bilahnya pendek  lebar. Lurus, bagian tengah bilah bentuknya seperti jantung pisang, gandiknya tipis dan pejetannya sempit.biasanya memakai ganja iras, selain itu juga merupakan nama tombak lurus, tombaknya lebar dan pipih, bentuknya mirip melahan jantung pisang. Tombak ini biasanya sederhana sekali tanpa ada-ada, tanpa bungkul, biasanya memakai metuk iras, tombak ini tergolong langks, biasanya buatan  Pajajaran dan  Segaluh. Diduga dahulu dibiat bukan untuk kegunaan praktis tetapi sebagai pusaka.
  • SI GINJE, nama keris pusaka buatan Mataram yang kemudian menjadi milik Sultan  Jambi, konon dibuat di jaman Sri Sultan Agung, besi yang untuk membuatnya  diambil dari 9 tempat yang berlainan. besi bahan pembuatannya pun diambil aneka macam alat yang berbeda namun semua berawalan dengan hurup “Pa” (P). keris ini menurut cerita hanya ditempa pada hari Jum’at saja dengan setiap menempa hanya satu kali pukulan, sesudah jadi menjadi keris yang sakti dan diberikan Raja Mataram ke Raja Jambi, begitu saktinya sehingga katanya jika keris ini menyentuh daun saja maka seluruh pohon akan layu dan akhirnya tumbang. 
  • SIKIM ACEH, Pedang khas daerah Aceh, terbuat dari besi dan baja dengan panjang sekitar 80 – 90 cm, punggung pedang ini majal sedang sisi depannya tajam seluruhnya. Bagian punggung bilah agak tebal, tetapi mulai tengah sampai tepi depannya tipis sekali. Sikim Aceh tergolong pedang sabet. Bobotnya tidak begitu berat sehingga mudah memainkannya.
  • SIKUNYIR, bentuk ganja yang bagian  sirah cicaknya menonjol kedepan dan runcing. Penamaan ini hanya dikenal di Malaysia dan Brunei. Kata Sikunyir berasal dari Sekunar, salah satu bentuk kapal disana, bentuk sirah cicak yang tergolong Sikunyir juga hanya ada pada keris buatan Malaysia dan Brunei saja.
  • SILAK WAJA, merupakan salah satu tahap dalam pembuatan tosan aji, setelah selesai penempaan maka calaon keris dikikir untuk mengeluarkan pamornya, proses ini dimulai dari tepi bilah makin lama ketengah. Pekerjaan ini memerlukan pengalaman, agar dapat berhenti pada saat yang tepat. Kalau berlebihan akan banyak pamor hilang begitu sebaliknya.
  • SIMBAR INTEN, (KANGJENG KYAI SIMBAR INTEN), salah satu keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Pandawa Panimbal Singa, nama ini tidak ada dalem Pakem Keris, tetapi ini yang tercantum di kraton. Warangka dari kayu Trembalo, pendoknya dari emas. Keris buatan Tamanan Surakarta ini semula milik Pangeran Mangkubumi sebelum menjadi raja kemudian iberikan ke putrinya Kangjeng Ratu Bendara, istri RM Said. Setelah bercerai, putri ini menikah dengan Kangjeng  Pangeran Haryo Diponegoro sesudah itu diwarisi oleh anak angkatnya, Pangeran Mangkurat dan dikembalikan ke kraton.
  • SIMBANG KURUNG (DHAPUR), sebutan pamor yang merupakan garis melintang pada gandik atau kembang kacang, tuahnya katanya mudah mencarai rejeki, dikasihi orang dan selalu selamat, pamor ini hanya ada di keris atau tombak.
  • SIMBANG PATAWE (DHAPUR), sebutan bagi pamor yang menyerupai dua garis melintang pada gandik atau kembang kacang. Pamornya katanya untuk pengasihan dan dihormati orang sekitarnya.
  • SIMBANG RAJA (DHAPUR), pamor yang bentuknya menyerupai tiga garis melintang pada bagian gandik atau kembang kacang, tuahnya bisa mengangkat derajat pemiliknya, disayang atasan.
  • SINGOSARI (TANGGUH), pasikutannya kaku dan wingit. Bilahnya berukuran sedang, ujungnya tak begitu runcing. Warna besinya abu-abu kehitaman, nyabak (bagaikan batu tulis). Menancapnya pamor pada permukaan bilah lumer dan pandes. Penampilan pamor itu biasanya lembut dan suram (kelem). Gandiknya berukuran sedang, agak miring. Sirah cecak pada ganja bentuknya lonjong memanjang. 
  • SIKEP, atau Anyikep Pusaka, salah satu cara memakai keris, sebagai kelengkapan pakaian di  Jawa Tengah, keris diselipkan dilipatan sabuk lontong bagian  dada. Kedudukan keris miring kearah tangan kanan. Hulu dan warangkanya menghadap kebawah. Cara ini biasanya dipakai oleh ulama yang mengenakan jubah atau dalam keadaan darurat perang.
  • SIKI (EMPU), seorang empu hidup di Sedayu pada jaman Majapahit. Keris dan tombaknya mirip buatan Pangeran Sedayu, yang agak beda  olah dan tempaan besinya tidak sehalus garapan Pangeran Sedayu. Tanda tandanya, ganjanya datar tergolong ganja wuwung, sirah cecak eruncing kecil, Gulu Melednya panjang, wetengannya kurang gemuk. Bilahnya berukuran sedang, posisinya terlalu menunduk disbanding keris Majapahit yang lainnya, besinya hitam tetapi memberi kesan kering. Pamornya  rumit dan halus. Umumnya berupa Wos Wutah, Pendaringan Kbak atau sejenisnya. Kembang kacangnya menyerupai gelung wayang, jalennya kurang ramping, Bagian Dha pada Ron Dha, bentuknya agak aneh. Sogokannya dalam, panjang dan janurnya dibuat tajam. Gandiknya agak panjang dan tebal.
  • SIKIR (EMPU), juga dikenal Empu Ki Jikir, hidup dijaman Pajajaran. Keris buatannya pada umumnya lurus, panjang bilahnya sedang, tipis. Besinya biasanya hitam, padat dan liat. Pamornya pandes, seolah menancap kuat pada permukaan bilah. Ganjanya berukuran normal, tergolong ganja wuwung. Bagian bawahnya lurus, guru melednya panjang. Sirah cicaknya membulat, bagian blumbangannya berukuran luas, kalau ada ron-dho nya , bentuk huruf Dho kurang jelas, empu ini lain dengan empu Singkir.
  • SIMBAR-SIMBAR (PAMOR),  nama pamor yang sepintas seperti rumpun padi yang terpotong daunnya. Tergolong langka karena sulit membuatnya,  tergolong pemilih, termasuk pamor  miring dan pamor rekan. Tuahnya menambah wibawa pemiliknya, menangkal guna-guna.
  • SINARASAH (DHAPUR), atau Sinrasah, salah satu dapur keris luk 5, ditengah bilah diukir gambar timbul (relief, biasanya dengan motif lung, lungan) dan ditempel dengan emas  atau perak, ricikan lain kembang kacang, jenggot dan greneng lengkap.kadangkala memakai sogokan.
  • SINOM (DHAPUR), nama salah satu dapur kerid lurus, panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, sogokan rangkap. Lambe gajah satu, pakai pejetan, sraweyan dan ri pandan.
  • SINGAWIJAYA (EMPU), empu terkenal hidup dijaman Sri Sunan Pakubuwono IX di Surakarta. Tanda keris buatannya, ganjanya agak melengkung, tergolong Sebit Ron Tal, sirah cicak berkesan montok tetapi meruncing pada ujungnya. Guru melet dan wetengannya berukuran  sedang. Ujung buntut urangnya melebar. Besi yang diguanakan biasanya matang tempaan dan warnanya hitam keabu-abuan. Pamornya lembut, tidak meriah tetapi rapi teratur dipermukaan bilah.jika pamor itu jenis miring, serat-serat alur pamor halus sekali. Ukuran panjang bilahnya sedang, kedudukan bilah, bila keris itu ditegakkan, agak condong kedepan. Kembang kacangnya seperti gelung wayang. Blumbangan dan sogokannya berukuran sedang. Kruwingannya nyata dan rapi, bentuk dha pada ron dha dibuat jelas.kalau memakai luk, bentuk luknya dalam. Keris buatannya berpenampilan sopan dan lembut.
  • SINGA BARONG (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 7, bagian gandiknya diukir bentuk kepala Singa yang menyerupai  KILIN di budaya cona. Ricikan lainnya, sraweyan, ri pandan, greneng, dapur ini sering disebut dapur Naga Singa. Tergolong popular, beberapa keris ini dihias kinatah emas dan berlian. Ada juga yang berluk 7 dan 9.
  • SIRAH CICAK,  bagian paling depan dari Ganja, yang bentuknya (jika dilihat dari bawah) seperti kepala cicak.
  • SIRAT (DHAPUR), pamor yang bentuk gambarnya menyerupai anak kunci. Yang dikelilingi semacam bentuk kepompong. Terletak di sor-soran, tergolong  pamor tiban. Pamor ini tidak pemilih, tuahnya baik untuk kepemimpinan, berwibawa dan disayang orang. Ada yang menyebut pamor ini sebagai Pamor Teja Bungkus atau Bima Bungkus.
  • SIRAP, (KANGJENG KYAI SIRAP),  pusaka kraton Yogya, keris ini berdapur Tilam Upih, warangka kayu Timaha dan pendok dari emas rajawarna. Merupakan duplikat dari keris Raden Adipati Danurejo III  (Kangjeng Pangeran Kusumoyudo) di Japan. Keris ini dibuat oleh Empu Lurah Mangkudahana pada pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V.
  • SIPAT KELOR (DHAPUR), salah satu dapur tombak luk 3, bagian didekat metuk lurus, luk hanya terdapat dibagian dekat ujung. Disepanjang bilah terdapat ada-ada, tanpa bungkul. Pada sisi tombak sebelah bawah dekat bagian metuk terdapat bentuk yang menyerupai jenggot.
  • SLADANG ASTO, nama tombak luk 5, luknya rengkol, lekukannya dalam. Permukaan bilahnya nggigir lembu, dengan ada-ada terlihat jelas.sisi bilah paling bawah membentuk semacam sudut, tombak ini buatan Majapahit terutama Pengging Witoradyo.
  • SLEWAH (PAMOR), sebutan untuk pamor berbeda tetapi pada sisi  bilah yang sama. Antara pamor satu dan lain dipisahkan jarak sekitar 1 cm atau lebih, bia pamor tidak dipisahkan oleh  jarak atau jaraknya kecil, dinamakan pamor DWIWARNA.
  • SISIK SEWU (PAMOR), pamor yang banyak dicari pengusaha yang mempunyai karyawan banyak. Tuahnya memperlancar rejeki dan menambah derajat pemiliknya.pamor ini merupakan kumpulan bulatan bulatan kecil yang berlapis lapis. Ukurannya rata rata lebih kecil dari Udan Mas, tetapi jika Pamor Udan Mas itu menyebar maka pada pamor Sisik Sewu menggumpal. Walau tidak seterkenal Udan Mas tetapi bagi yang percaya tuahnya sama. 
  • SODO, tergolong pedang sabet. Bagian didekat ujung bilah lebih lebar daripada bagian pangkalnya, separuh panjang bilah  yang dibawahnya  bentuknya lurus. Tetapi yang dibagian atas menjadi agak cembung. Ujungnya mempunyai bentuk khas, mirip hurup S yang miring, dengan ujung runcing kecil, bagian punggung pedang yang bawah majal tetapi makin keujung makin tajam. Sisi depan yang tajam lurus saja, tak ada kruwingan, tergolong pedang sabet, tetapi karena titik berat ada di ujung maka menggunakannya harus hati hati.
  • SOGOKAN DEPAN, bagian keris yang terdapat pada sor-soran, berupa alur tegak, lebih dalam dari  alur Tikel Alis. Letaknya dibelakang bagian pejetan atau blumbangan,  bagian bawah sogokan depan ini menyatu dengan blumbangan.
  • SOGOKAN BELAKANG, bagian keris yang terdapat pada sor-soran, berupa alur tegak disamping sogokan depan. Antara sogokan depan dan belakang dinamakan Janur. Dibelakang sogokan belakang biasanya ada sraweyan.
  • SOKAYANA, nama pedang tergolong pedang suduk. Panjang pedang ini sekitar 90 sampai 115 cm. Sisi punggungnya terdiri dari dua bagian. Bagian bawah majal, panjangnya sekitar dua pertiga panjang bilah sedang bagian sisanya merupakan garis cekung yang makin keujung makin tajam. Ujung pedang ini runcing. Dibagian bawah bilah pedang Sokayana, sejajar dengan bagian punggung yang lurus, terdapat kruwingan. Sisi bilah pedang yang tajam didepan, bentuknya menyerupai garis cembung. Pedang Sokayana  selain digunakan dalam peperangan juga sebagai pedang pusaka  dan digarap apik serta indah. Titik beratnya tidak terlalu mengarah keujung sehingga mudah digunakan, walau termasuk pedang suduk tetapi bisa juga digunakan sebagai pedang sabet.
  • SLOROK (PENDOK), pendok yang hanya menutup sebagian gandar dari sebuah Warangka keris. Bagian depan pendok dibuat semacam sobekan/celah selebar 1 – 2 cm untuk memperlihatkan keindahan urat kayu bahan gandarnya. Pendok Slorok disebut juga pendok Blewahan, biasa dipakai di Yogya dan Surakarta.
  • SOMBRO, NI MBOK (EMPU), seorang Empu wanita terkenal sekitar abad 10 silam berasal dari kerajaan Pajajaran. Dikenal mempunyai kekuatan ghaib untuk membantu melahirkan, menghindarkan hama tanaman, keselamatan dan ketentraman. Bentuk keris buatannya sederhana , ukuran bilahnya tidak panjang. Semua nya merupakan keris lurus, pamornya sederhana, tetapi besinya tergolong pilihan. Paling banyak berdapur brojol, tidak cantik tapi berwibawa. Banyak diantaranya tergolong keris pejetan, yaitu pada permukaan bilah terdapat lekuakan seperti pejetan dan beberapa keris buatannya memakai ganja iras. Setelah terkenal di Pajajaran, empu ini pindah ke Tuban yang menjadi Bandar terkenal di Jawa.
  • SONO KELING (KAYU), jenis pohon kayu yang sering digunakan membuat warangka keris, jika sudah kering maka urat kayunya berwarna kehitaman, meskipun bukan jenis kayu terbaik tetapi banyak yang menggunakan karena cukup murah. Banyak juga yang membuat kotak keris dari kayu ini. Sering disebut Angsana Keling.
  • SONO KEMBANG (KAYU), sering digunakan semagai warangka keris atau tombak, dibeberapa daerah disebut Angsana Kembang, pohon ini banyak terdapat di Jawa bagian Selatan, jika sudah tua maka warna urat kayunya berwarna coklat tua dan htam ber-kembang kembang. Harganya tergantung indah tidaknya ganbar kembang  ini, jika bagus bisa menyamai harga kayu Timoho.
  • SOR-SORAN, bagian paling bawah dari bilah keris, diatas bagian ganja. Pada bagian sor-soran ini terdapat bagian bagian utama keris yang disebut ricikan, beberapa jenis pamor khusus juga menempati bagian sor-soran ini, bagian ini disebut bongkot.
  • SRAWEYAN, atau  Srewehan, bagian keris yang bentuknya melandai dibelakang bagian sogokan belakang sampai kebagian greneng.
  • SRI SADANA, (KANGJENG KYAI SRI SADANA), keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Tilam Upih, warangka kayu Timoho, Pendoknya bunton, dari suasa bertahta permata. Mulanya kepunyaan Penembahan Mangkurat dan ditarik ke istana pada jaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
  • SUGIHAN, (KANGJENG KYAI SUGIHAN), nama salah satu pusaka kraton yagya, berdapur  Pasopati, warangka dari kayu Cendana dengan pendok emas murni rinajawarna. Keris ini merupakan putran dari Kyai Sugihan Sultan Agungan, milik Pangeran Ngabehi dan keris ini dibuat  Empu Lurah Mangkudahana dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V
  • SUJEN AMPEL (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus yang panjang bilahnya sednag tetapi agak tebal. Selain itu memakai kembang kacang, jenggot , lambe gajahnya satu, ri pandan. Sujen Ampel juga dipakai untuk nama dapur tombak lurus. Bentuk tombak ini agak mirip dengan dapur tombak TUMBUK, sisi bilah bagian tengah ada lekukan landai yang membentuk pinggang yang amat ramping, sempit. Disisi tombak paling bawah, ada dua bagian yang bentuknya menyudut pada masing masing sisinya. Permukaan bilahnya ngadal meteng.  
  • SUMELANG GANDRING (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus yang bilahnya sedang. Keris ini memakai gandik polos, memakai sogokan satu didepan, sraweyan dan tingil. Ricikan lain tidak ada.
  • SUNDANG, nama keris di Mindanao, kepulauan Sulu, Philipine. Bentuknya serupa keris dari Jawa hanya saja lebih besar dan panjang, rata rata 65 cm, lebar bagian pangkal sekitar 12 cm, bahan bakunya sama dengan keris, besi dan baja serta bahan pamor, hanya saja bahan bajanya lebih banyak. Pembuatan sundang saat ini sudah jarang dilakukan lagi.
  • SUMPANA, lih Sempana.
  • SUMSUM BURON (PAMOR), pamor yang mirip Wos Wutah, penempatannya tidak menyebar tetapi menggerombol dan mengelompok rapat. Namun masing masing kelompok terpisah satu sama lain. Pamor ini tergolong pamor tiban, tidak pemilih serta mudah mencari rejeki dan luas pergaulannya.
  • SUMUR BANDUNG (PAMOR), gambar pamor yang hampir sama dengan Pendaringan Kebak, namun pamor ini mempunyai bulatan bulatan kosong ditengah bilah, bulatan kosong ini boleh sat, dua atau tiga. Pamor ini bisa rekan atau tiban.
  • SUMUR SINOBO (PA MOR), salah satu pamor yang bentuknya menyerupai bulatan bulatan lingkaran bersusun, berderet dari pangkal sampai ujung bilah. Sepintas mirip pamor Bendo segoro, namun bulatan bulatannya lebih rapat satu sama lain. Dibanding Uler Lulut maka bulatan-bulatannya lebih terpisah, lebih lebar. Tergolong pamor rekan dan tuahnya mendatangkan rejeki serta buka pamor pemilih.
  • SUNGGINGAN, WARANGKA , adalah warangka keris yang setelah selesai dibentuk dihias dengan lukisan tangan dengan pola lukis tertentu, biasanya menganut  cara melukis wayang kulit  (Sunggingan), warangka ini tergolong mewah dan mahal harganya, tetapi untuk warangka ini tidak diperlukan kayu dari kwalitas yang terbaik.
  • SUNGKEMAN, salah satu cara memakai keris di Jawa Tengah, keris diselipkan kesabuk lonthong dilipatan paling atas, sehingga seluruh bagian gandar keris tertutup oleh sabuk. Kerisnya condong kekanan, hulu keris dan warangkanya juga menghadap kekanan kearah bawah.
  • SUPA ANOM (EMPU), lih KI NOM, EMPU.
  • SUPAGATI (EMPU), empu yang tinggal di Blambangan pada awal kerajaan Majapahit, sekitar akhir abad 12. Sebenarnya beliau berasal dari Majapahit tetapi kemudian pindah ke Blambangan.  Kerisnya bisa ditandai sebagai berikut, besinya hitam padat, keras dan seperti “berurat”. Ukuran bilahnya kecil, ramping, manis tetapi ada kesan galak. Empu ini tidak memperhatikan pamor, biasanya keris atau tombak buatannya berpamor Wos Wutah, penempatan pamornya tidak merata, hanya menempati sebagian permukaan bilah, namun penggarapan tiap bagian kerisnya dilakukan dengan cermat dan indah. Caranya membuat sogokan manis dan tak terlalu dalam, bagian ujung sogokan melengking sedkit, serasi dengan lengkungan luk yang pertama. Bagian ganjanya agak tipis. Keris buatan empu ini terkenal ampuh, tinggi derajatnya sehingga disukai oleh TNI atau pegawai Negeri. Empu Supagati adalah adik dari Empu Jaka Supa yang diperintah oleh Raja Majapahit mencari pusaka KK Sumelang Gandring, dia menyertai kakaknya ke Blambangan  dan merhasil menemukan keris tersebut. Jaka Supa mendapat gelar Pangeran dan diberi  tanah bebas pajak Sedayu, kelak menjadi  Pangeran Sendang Sedayu, sedangkan Supagati mendapat nama Ki Supadi dan mendapat jabatan Demang.
  • SUPA MADRANGI, lih PANGERAN SEDAYU.
  • SUPANA BENER, lih SEPANER.
  • SUPRADIYA (EMPU), hidup di Tuban diawal Kerajaan Majapahit, karyanya selalu  dibuat cermat dan berpamor indah, garis pamornya lembut dan rapih. Besinya tampak seperti berserat, gaya nya walau masih berciri Tuban tetapi juga terpengaruh gaya Majapahit. Penampilannya memberi kesan manis tetapi angker. Ukuran kerisnya tidak terlalu besar dibandingkan keris Tuban yang lain, ganjanya walau tidak terlalu besar tetapi  memberi kesan montok dan luwes. Kembang kacangnya bagus, lambe gajahnya kecil. Sogokannya dangkal, panjangnya cukup. Janurnya tumpul, keris yang dibuat kinatah indah sekali, biasanya bermotif lung-lungan. Jika membuat keris kinatah biasanya dibuat tidak memakai bahan pamor dan besi yang digunakan berwarna hitam kehijauan.
  • SURATMAN (EMPU), empu dari Tuban yang hidup jaman Pajajaran sekitar abad 11. Sebagian orang menyebut empu Sura Timan, keris buatannya banyak  jumlahnya dan buatannya indah. Tandanya bilah keris agak panjang, lebar cukup tetapi agak tebal dibanding keris Majapahit atau Mataram. Bilah diatas sor-soran membentuk seperti pinggang, sehingga secara keseluruhan tampak manis dan serasi. Ganjanya tergolong ganja wuwung, bentuknya datar, panjang. Sirah cicak membulat seperti potongan buah mlinjo. Gulu melednya jenjang, gendokannya gemuk. Jika gandiknya polos,  gandik itu tebal, membulat, memberi kesan kokoh. Blumbangannya lebar, kalau kerisnya luk maka luknya dangkal. Kembang kacangnya terlalu kecil dibandingkan ukuran bilah. Lambe gajah nya juga kecil, sogokannya  dangkal , janurnya majal. Keris buatan Ki Suratman biasanya dibuat dari bahan besi yang liat dan padat. Pamornya tidak terlalu lembut, namun kesannya rapi dan tertancap kuat di bilah. Motifnya biasanya Udan Mas, Wos Wutah atau yang sejenis.
  • SUPAJAYA (EMPU),  empu yang hidup jaman Sunan Paku Buwono III dari Surakarta. Keris buatannya sebagai berikut, ganjanya  ganja wuwung bentuknya datar, sirah cicaknya besar, gulu melednya berukuran panjang. Bagian gendokannya menampilkan kesan montok. Bialhnya umumnya besar, birawa, banyak menggunakan bahan baja, pamornya lembut kurang mubyar, penampilannya memberi kesan gagah dan tangkas.
  • SURA CURIGA, TUMENGGUNG,  gelar Empu Jaka Sura, anak dari Empu Pitrang.
  • SURAKARTA (TANGGUH), pasikutannya demes dan gagah (serasi, menyenangkan, tampan, gajah), birawa. Besinya mentah; pamornya mubyar. Ganja-nya memakai tungkakan.
  • SURA LASEM, (KANGJENG KYAI SURA LASEM), salah satu keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Jalak, warangka kayu trembalo, pendok dari emas 24 karat “tinurut manik sasotya” artinya emas bertahtakan mutu manikam.
  • SUREN, KAYU, sejenis kayu yang biasanya digunakan penutup tombak. Kayu ini lunak, mudah dibentuk dan tidak menyebabkan aus bilah mata tombak. Istilah latinnya, Toona sureni Merr.




T

  • TAJI AYAM, senjata tikam traditional daerah Lampung dan Bengkulu, bentuknya serupa pisau dengan bagian tajam pada dua sisi mata, ujungnya meruncing dan membengkok sehingga menyerupai bentuk taji ayam. Bagian tengah bilah relatif tebal, terbuat dari besi berlapis baja, kadang kadang berpamor. Panjangnya kira-kira sejengkal diberi sarung dari kayu dilapisi logam, biasanya perak. Cara memakai diselipkan di lipatan kain sarung di bagian depan. Hulunya menghadap kekanan. Taji Ayam dikenakan sebagai kelengkapan adat.
  • TAMAN BANARAN (UKIRAN), salah satu model hulu keris kraton Yogyakarta, berpenampilan agak “kendo” sehingga cocok untuk orang berwatak sabar dan lembut. Ukiran model Taman Banaran juga sesuai dipakai orang yang berperawakan sedang.
  • TAMBAL (PAMOR), pamor yang mirip goresan kuas besar di bidang lukisan, tergolong pamor rekan, sebagian masuk pamor miring dan sebagian mlumah. Tetapi pamor ini pemilih, tuahnya dapat mengangkat ke drajat lebih tinggi.
  • TAMAN NGABEYAN (UKIRAN), hulu keris gaya Yogyakarta berpenampilan keras, agak kenceng. Serasi bila dikenakan orang yang keras, berbadan tegap atau tinggi besar.
  • TAMBAHKUSUMA, (KANGJENG KYAI TAMBAHKUSUMA), keris pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sengkelat, warangka dari cendana wangi, pendok dari emas blimbingan, merupakan putran dari KK Tambahkusuma, dibuat  empu Supa di jaman Sri Sultan HB V.
  • TANGGUH, arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, menangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru ditangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik. Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat. Pada garis-besarnya tangguh keris bisa dibagi 6 yaitu: (1) Kuno/Buddho ( ~ s/d 1125M), meliputi: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging, Kahuripan dan Kediri. (2) Madya Kuna (1126 s/d 1250M), meliputi: Jenggolo, Singosari, Pejajaran dan Cirebon. (3) Sepuh Tengah (1251 s/d 1459M), meliputi: Jenggolo, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan. (4) Tengahan (1460 s/d 1613M), meliputi: Demak, Pajang, Madium dan Mataram. (5) Nom (1614 s/d 1945), meliputi: Surakarta dan Yogyakarta. (6) Kamardikan: Keris dan pusaka lain yang dibuat setelah Indonesia merdeka hingga sekarang. Sedangkan Bambang Hasrinuksma dalam bukunya "Ensiklopedi Budaya Nasional" membagi keris dan pusaka lainnya menjadi 20 tangguh.
  • TANGKIS (PAMOR), pamor yang hanya pada salah satu sisi bilah saja tidak perduli bentuknya pamor apa, harus dilihat apakah salah satu sisi itu memang tidak ada pamornya atau karena aus, rusak. Tuahnya menangkal wabah penyakit. Selain pada keris juga ada di pedang dan tombak.
  • TANJEG, ilmu tradisional untuk menentukan kegunaan keris, tombak atau pusaka lainnya. Ada dua macam, pertama, melihat penampilan lahiriyah sebuah keris, baik dari pamor, besi, cara pembuatannya, bentuknya dan rabaannya. Kedua dengan mengandalkan kemampuan batin  secara tradisional. Cara ini hanya dapat dipelajari dengan cara tradisional antara lain dengan berpuasa, menghapalkan dan mengulang mantera tertentu dengan bimbingan orang yang menguasai ilmu tersebut. Seorang ahli Tanjeg biasanya akan ditanyai apabila seseorang akan membeli atau mendapatkan sebilah keris, sebab bila dulu keris tersebut dipunyai oleh prajurit maka tidak akan cocok bila dimiliki oleh pedagang dan sebagainya.
  • TAPAK KUDA, hulu keris yang banyak terdapat di Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei, bentuknya mirip ulekan cabai, dihias dengan ukiran rumit. Hulu keris ini biasanya dibuat dari kayu keras, gading atau perak. Biasanya kayu kemuning, orang Malaysia menyebutnya “Kopiah Pak Haji” karena seperti kopiah Haji.
  • TARIMO, lih TARIMAN.
  • TAYUH, ilmu yang digunakan apakah keris tersebut cocok dengan orang yang bersangkutan. Ilmu ini terutama bermanfaat untuk meningkatkan kepekaan seseorang agar dia dapat menangkap kesan karakter sebilah keris dan menyesuaikan dengankesan karakter dari calon pemiliknya.
  • TEBU SAUYUN, nama keris luk 3, ukuran panjang bilah sedang, penempatan luk merata di sepanjang bilah, gandiknya polos, memakai pejetan, sraweyan dan greneng lengkap, kadang ada yang memakai gusen.
  • TEJA BUNGKUS, lihat  SIRAT.
  • TEJA KINURUNG (PAMOR), pamor yang merupakan perpaduan Sada-saler dan Wengkon. Tuahnya baik bagi pegawai negri atau orang yang bekerja untuk negara, termasuk pamor rekan dan tidak pemilih.
  • TEJA KUSUMA, (KANGJENG KYAI TEJA KUSUMA), pusaka kraton Yogya, dapur Sengkelat luk 13, warangka dari kayu Timoho, pendok dari suasa bertahtakan permata. Keris ini merupakan putran dari KK Sengkelat dibuat pada jaman Sri Sultan HB III.
  • TELAGA MEMBLENG (PAMOR), nama salah satu pamor yang selalu menempati bagian pejetan atau blumbangan, bentuknya menyerupai lingkaran-lingkaran berlapis menyerupai gambar peta pulau-pulau. Pamor ini tergolong tiban dan membuat pemiliknya bersifat hemat.
  • TEMBAROK (EMPU), empu yang tinggal di Kadipaten Blambangan pada Jaman Majapahit sekitar abad 12. Tanda kerisnya, ukuran wilah sedang, kesannya ramping, padat, manis, tapi keras dan berwibawa, besinya padat, warna hitam dan matang tempaan. Pamornya kebanyakan pamor miring. Kalau membuat ganja, bagian guru melednya sempit, bagian sirah cicaknya menyudut agak meruncing, kalau membuat sogokan agak pendek dibanding ukuran normal tetapi dalamnya cukup. Bagian greneng pembuatan aksara Dho kurang lengkap sehingga terasa kurang manis, gandiknya berukuran pendek, tikel alisnya juga pendek.
  • TEPEN, lihat Wengkon.
  • TIBAN (PAMOR), pamor yang motifnya tidak dirancang dulu dan diserahkan kepada Tuhan YME saja.
  • TIKEL ALIS, adalah bagian dari keris yang berupa alur dangkal melengkung seperti alis, alur dangkal ini dimulai dari atas gandik membelok keatas sepanjang lebih kurang 35 mm.
  • TILAM PETAK, lihat TILAM UPIH.
  • TILAM PUTIH, lihat TILAM UPIH
  • TILAM SARI (DHAPUR), nama salah satu dapur keris lurus serupa dengan Tilam Upih, ricikannya adalah: gandik polos, tikel alis, pejetan, tingil atau greneng. Beda dengan Tilam Sari, kalau Tilam Sari ada greneng atau tingil maka Tilam Upih tidak.
  • TILAM UPIH (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus dengan ukuran bilah sedang, gandiknya polos, tikel alis dan pejetan tanpa ricikan lain. Dapur ini paling banyak terdapat di Jawa.
  • TIMANG, adalah bagian kepala dari epek, yaitu semacam ikat pinggang yang bentuknya khas. Hampir semua pakaian adat di Jawa dan Madura menggunakan ikat pinggang epek dengan timangnya. Timang selalu dibuat dari logam, yang sederhana dari kuningan atau tembaga, sedang yang baik dari perak atau emas dan sering dihiasi ukiran indah atau intan berlian.
  • TIMOHO (KAYU), nama sejenis kayu yang banyak digunakan untuk warangka keris atau tombak. Motif dari urat kayunya mempunyai nama sendiri-sendiri dan dinamakan pellet. Kayu Timoho (Kleinhovia hospita) oleh orang bali disebut Purnama Sadha, orang Lombok menyebutnya kayu Brura. Orang Jawa percaya bahwa kayu Timoho ada penunggunya sehingga untuk menebang harus memilih hari baik dan bulan baik. Warna dasar umumnya coklat kopi susu ke abu-abuan. Sedangkan warna urat kayu yang tergolong pelet coklat tua kehitaman.
  • TIRTADANGSA (EMPU), empu yang hidup di jaman kerajaan Surakarta, kerisnya sering disebut Tangguh Mangkubumen. Ganjanya agak melengkung dan tergolong Sebit Ron Tal, gulu melednya sempit dan lekukannya tidak begitu dalam, sirah cicaknya meruncing di ujungnya, wetengan ramping dan bagian buntut urangnya melebar pipih. Keris buatannya berukuran sedang, besinya matang tempaan, pamornya rumit, meriah dan merata di seluruh bilah, biasanya  Wos Wutah atau Pendaringan Kebak. Kalau membuat Kembang Kacang seperti Gelung Wayang, sogokannya berukuran dalam dan makin meruncing kearah ujung dan di dekat ujungnya agak melengkung. Janurnya menyerupai lidi dan blumbangannya luas dan lebar. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, gandiknya miring. Secara keseluruhan kerisnya memberi kesan tampan lembut dan anggun.
  • TITIPAN (PAMOR), pamor yang dibuat secara sengaja yang dipasang atau disusulkan setelah keris selesai dibuat. Biasanya dikerjakan empu atas pesanan sipemilik keris.
  • TITANIUM, unsure logam yang amat keras, tahan karat, tahan panas dan warnanya putih mengkilat, biasanya digunakan untuk Pamor. Diperkirakan sudah digunakan oleh Empu sejak abad ke 10 dan mereka mendapatkannya dari meteor yang jatuh ke bumi.
  • TOGOK (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus mirip dapur Baru Kalantaka. Di bagian sisi tengah bilah ada tekukan landai, bentuknya semacam pinggang tidak begitu ramping. Bagian di bawah pinggang lebih lebar dari bagian atasnya. Bilahnya tebal dan memakai ada-ada dan di bawah ada-ada ada bungkul berukuran kecil. Sisi bilah yang menghadap bilah membulat membentuk semacam separuh elips.
  • TOMBAK, senjata tradisional dikenal di hampir semua bangsa didunia, pada mulanya digunakan sebagai alat untuk berburu, mencari ikan atau menghadapi binatang buas, kemudian untuk berperang. Tombak terdiri dari dua bagian penting, yaitu mata tombak di sebelah ujung yang runcing dan bagian tangkai atau gagang. Tangkai tombak umumnya dari kayu, bamboo atau rotan. Panjangnya bisa 40 sampai 360 cm. Mata tombak biasanya dari besi, baja dan kadang diberi pamor, bentunya bermacam-macam, ada yang  pipih meruncing, kerucut memanjang, berlingir seperti buah belimbing dan panjang mata tombak antara 12 sampai 60 cm. Mata tombak di Jawa hampir semuanya berpamor dan bisa indah sekali dan seperti keris juga mempunyai nama dapur seperti Baru Kuping, Towok, Panggang Lele dan lainnya. Pada suku Jawa, tombak biasanya diletakan berdiri dengan memasukan kedalam lubang Jagrak, dipajang di bagian Pendopo, semacam ruang tamu.
  • TOPENGAN (PENDOK), pendok yang hanya menutupi sebagian dari gandar sebuah warangka keris. Bagian tengah depan dibuat celah memanjang yang gunanya memperlihatkan keindahan urat kayu gandar, banyak dipakai warangka gaya Madura.
  • TORRONGKU dan USSU, nama gunung di daerah Luwu, Sulawesi Selatan yang dikenal penghasil bahan pembuat pamor yang biasanya disebut Pamor Luwu, walau bukan batu meteorit tetapi terkenal sejak jaman Majapahit dan menjadi barang dagangan laris.
  • TOSAN AJI, istilah Jawa untuk segala senjata traditional yang dibuat dari besi yang dianggap sebagai pusaka.
  • TOTOK (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bagian atas menyerupai bentuk daun andong, bagian tengahnya menyerupai pinggang. Tombak ini memakai bungkul berukuran besar di bagian atas bagian metuk. Tidak memakai ada-ada tetapi permukaan bilahnya ngadal meteng. Secara keseluruhan bentuknya mirip dapur Sadak tetapi lebih tebal bilahnya.
  • TOYA TINABAN, (KANGJENG KYAI TOYA TINABAN), keris pusaka kraton Yogya, berdapur Jangkung Mayat, warangka dari kayu Timoho dengan pendok suasa bertahtakan intan. Semula milik Sri Sultan HB I, diserahkan ke putranya Pangeran Hangabehi dan dikembalikan ke kraton dimasa Sri Sultan HB V.
  •  TREMBALO (KAYU), sejenis pohon untuk bahan pembuatan warangka keris, Trembalo Aceh (Dysoxylum acutangulum Miq), kayu trembalo ini banyak dicari orang karena memiliki garis sejajar yang sangat indah, Trembalo Jawa (Cassia glauca L), orang sering menyebut dengan kayu Ambon.
  • TRETES (PENDOK), pendok yang dihiasi dengan permata. Bisa Intan, Mirah, Jamrut dan di jaman dulu hanya kalangan bangsawan saja yang boleh menggunakan pendok ini.
  • TRIMAN (PAMOR), pamor yang hanya mengumpul di bagian sor-soran saja kemudian berhenti tak ada kelanjutannya lagi. Pamor ini dinilai kurang baik untuk orang yang masih aktif bekerja karena dapat menurunkan ambisi untuk maju tetapi baik untuk yang sudah pensiun atau berusia lanjut karena dapat menumbuhkan rasa tentram. Sebagian orang menyebut juga pamor Tarima.
  • TRI MURDA (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 19, umumnya bilahnya lebih panjang dibandingkan keris biasa, ricikannya gandik polos, memakai tikel alis.
  • TRI SIRAH, keris dengn luk 21, tergolong kalawija, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap ukurannya normal, memakai tikel alis dan greneng.
  • TRISULA, salah satu dapur tombak bercabang 3. Bentuk tombak dapur Trisula banyak ragamnya, ada yang lurus, ada yang luk 3 atau 5 dan ada juga yang kombinasi. Tombak dapur ini popular dan banyak disukai.
  • TRIWARNA (PAMOR), sebutan pamor keris atau tombak yang sesungguhnya terdiri dari 3 macam nama pamor, misalnya sebilah keris di bagian bawah ada pamor Wos Wutah, di tengah menjadi pamor Adeg, ujungnya Lawe Setukal, ini yang disebut Triwarna.
  • TUAH, lihat ANGSAR,
  • TUBAN (TANGGUH), pasikutannya sedang, panjang bilahnya sedang agak lebar, agak tebal, luknya renggang dan dangkal. Besinya hitam, kadar bajanya banyak dan berkesan kering. Pamornya kelem dan pandes. Gandiknya pendek. Bentuk sirah cecak pada ganjanya membulat, besar, tetapi pendek, sogokannya panjang.
  • TUKON, lihat PETUKON.
  • TULAK (PAMOR), pamor keris atau tombak yang menyerupai pamor kudung, bedanya arah hadap sudut pamor, kalau pamor Kudung menghadap keujung keris maka pamor Tulak sebaliknya. Pamor ini tidak pemilih dan bisa melindungi dari perbuatan jahat orang lain.
  • TULAK (PELET), nama gambar pada warangka kayu Timoho yang berupa garis-garis tebal dari atas kebawah, berwarna hitam atau coklat tua. Bagian tengahnya umumnya berwarna lebih hitam dibandingkan bagian pinggirnya.
  • TUMBUK (DHAPUR), nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, bentuknya menyerupai dapur Kudup Melati, sisi bilah lurus tanpa pinggang tebal, memakai ada-ada, permukaan bilah bagian atas berbentuk Ngadal Meteng.
  • TUMENGGUNG, (KANGJENG KYAI TUMENGGUNG), salah satu keris pusaka kraton Yagyakarta, berdapur Parungsari luk 11, menurut Pakem seharusnya Parungsari itu luk 13. Warangkanya dari kayu Timoho, pendok kemalon, warna putih dan slorok dari emas kinatah rinajawarna. Semula milik Sri Sultan HB III dan kembali di pemerintahan Sri Sultan HB V setelah diserahkan ke seseorang bernama Mukidin.
  • TUMPAL KELI (PAMOR), pamor yang terolong langka ini menyebabkan pemiliknya disukai  masyarakat, pandai bergaul. Pamor ini tidak pemilih, bentuknya merupakan gabungan Kenanga Ginubah dengan Ganggeng Kanyut. Karena agak mirip keduanya maka pamor ini sering dikacaukan orang.
  • TUMPER INAS (DHAPUR), salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, pipih dan tebal, sisi bilah bagian tengah terdapat lekukan landai membentuk semacam pinggang yang ramping, bilah bagian atas pinggang lebih lebar dari bagian bawahnya. Di tepi bilah di bagian paling bawah terdapat satu tonjolan yang berbentuk menyudut. Tombak ini memakai pudak sategal dan kruwingan.
  • TUNDUNG (PAMOR), pamor yang menurut pecinta keris mempunyai tuah yang buruk, pemiliknya sering terusir dari suatu tempat baik dengan alasan atau tidak.
  • TUNGGAK SEMI (PAMOR), pamor yang ada hanya di bagian sor-soran dari keris, tombak atau benda pusaka lainnya. Bentuknya merupakan garis yang tak beraturan, berlapis dan pada bagian ujung bentuk itu seolah tumbuh lagi pamor lain seperti tunas bersemi.
  • TUNGGUL WULUNG (PAMNOR), pamor yang bentuknya menyerupai gambar sederhana dari bentuk manusia, ada bagian menyerupai kepala, badan, kaki dan tangan, selalu menempati bagian sor-soran, terutama di daerah blumbangan atau pejetan. Menurut buku kuno dapat menolak penyakit, untuk memilikinya ada beberapa syarat berat antara lain berperilaku jujur, banyak amal dan kuat ibadahnya. Tergolong pamor tiban.
  • TUNGKAKAN, bentuk batas ujung belakang antara bagian ganja dan bagian wilah, jika bentuk batas itu merupakan garis lengkung, disebut Tungkakan, umumnya ada di keris nem-neman. 




U

  • UBUBAN, alat pompa tradisional dengan teknik sederhana berfungsi memompakan udara ke tungku perapian gunanya mengatur panas bara arang sesuai kehendak empu. Terbuat dari kayu atau batang kelapa yang dilubangi tengahnya sehingga berbentuk silinder. Penampang lobang sekitar 12 sampai 15 cm dengan tinggi sekitar 150 cm, dipasang tegak dua batang berjajar. Orang yang menjalankan duduk di sebuah kursi tinggi dan disebut Panjak.
  • UDAN MAS (PAMOR), pamor yang amat terkenal, mendatangkan rejeki dan berbakat kaya. Tergolong pamor mlumah dan rekan serta tidak pemilih, bentuknya bulatan bulatan kecil tersebar di seluruh permukaan bilah. Bulatan itu terdiri dari lingkaran bersusun, paling tidak terdiri dari 3 lingkaran atau lebih. Dalam perkerisan Jawa maka pamor ini yang paling baik berasal dari tangguh Pajajaran dan Tuban.
  • UKEL, CUNDUK, lihat Cunduk Ukel.
  • UKIRAN, bagian keris yang merupakan tempat pegangan tangan, di luar Jawa disebut Hulu Keris, sedang di daerah Yogyakarta dan Surakarta disebut Deder atau Dederan. Ukirannya hampir seluruhnya berbentuk manusia yang distilir halus, sebagian kecil berbentuk hewan dan tumbuhan yang distilir. Bahan biasanya dari kayu dengan urat yang bagus serta gampang dibentuk, kadang dari tanduk, gading atau fosil graham gajah. Untuk kayu biasanya Timoho, Cendana, Tayuman, Kemuning atau akar jati. Ukiran atau hulu keris yang berpamor dan menyatu dengan bilah keris di Jawa Tengah dan Timur sering disebut Deder Iras. Keris semacam ini biasa disebut Keris Sajen.
  • ULER LULUT (PAMOR), pamor bagaikan tubuh seekor ulat, sebetulnya merupakan gabungan bentuk bulatan-bulatan yang menempel rapat satu sama lain dari pangkal sampai ujung bilah, tergolong pamor mlumah, bertuah baik dan tidak memilih serta rekan.
  • UMAYI (EMPU), empu terkenal di Jaman Mataram, masa Sultan Agung. Ciri-ciri karyanya: ganja agak melengkung, tergolong Sebit Ron Tal, sirah cicak meruncing pada ujungnya, guru meled dan wetengan berukuran sedang. Kedudukan bilah terlalu tunduk ke depan bila dibanding dengan bilah lain. Besi yang digunakan kurang matang tetapi pamornya penuh dan rumit, dengan demikian mutu besi yang kurang baik itu tertutup oleh pamor yang mewah. Kembang kacangnya menyerupai gelung wayang, jalennya terlalu menonjol, bilah selalu disertai gusen yang jelas dan rapi sampai ujung, sogokan makin keujung makin sempit. Secara keseluruhan keris buatannya wingit berwibawa.
  • UMYANG (EMPU), empu kerajaan Pajang yang terkenal. Banyak yang percaya buatannya baik tuahnya, memudahkan menagih hutang dan melindungi harta kekayaan pemiliknya. Tanda-tandanya: ganjanya mendatar tergolong ganja wuwung dan ukurannya besar dan tebal, gulu  meled sempit dan agak dalam lekukannya, sirah cecak agak pendek tetapi meruncing ujungnya. Ukuran bilah agak panjang dibandingkan keris Majapahit lainnya, spadan dengan buatan Mataram, biasanya memakai Luk, jarang yang lurus. Pamor penuh merata di permukaan, rumit dan biasanya bermotif Beras Wutah, Pendaringan Kebak atau sejenisnya. Beberapa diantaranya berbentuk “Ngeron-tebu”. Kembang kacang berukuran besar dan kokoh, pejetan agak dangkal tapi lebar, sogokannya dibuat dalam, panjang dan ujung agak melengkung, janurnya tajam, kruwingannya jelas dan lebar, lambe gajah agak panjang, tapi manis bentuknya. Secara keseluruhan mulai bagian sor-soran sampai pucuk bilahnya tergolong lebar dan agak tebal. Sebagian pecinta keris di Yogyakarta  dan Surakarta berpendapat tanda-tanda buatan Empu Umyang adalah: bilah berukuran sedang, tidak terlalu membungkuk, kebanyakan berupa luk dan luk pertama berbentuk aneh. Memberi kesan seperti orang kekenyangan. Karena luk pertama yang aneh maka keris ini bukan menghadap kedepan tetapi mendongak kebelakang, tetapi pendapat ini tidak banyak pengikutnya.
  • UNTU WALANG (PAMOR), pamor yang menyerupai pamor Tepen atau Wengkon, bedanya kalau wengkon garis yang menjadi bingkai, dari tepi merupakan garis lurus sedang Untu Walang garis itu merupakan gambaran serupa mata gergaji. Pamor ini pemilih dan bertuah membuat dipercaya orang sekeliling, kata-katanya banyak didengar, paling baik dipunyai guru atau pendidik. Pamor ini tergolong pamor rekan.
  • URAB-URAB (PAMOR), pamor yang mirip Jarot Asem. Bedanya pada pamor ini garis pamornya lebih tebal dan nyata. Pamor ini merupakan kombinasi pamor miring dan mlumah, tergolong pamor pemilih, menambah kewibawaan dan sebagian orang menyebut pamor Hurap-hurap.
  • URUB JINGGA, (KANGJENG KYAI URUB JINGGA), salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Sengkelat luk 13, warangka dari Timoho Bosokan, pendok emas “sinasotya”, yaitu pendok emas bertahta intan. Semula milik Tumenggung Mangunnegoro kemudian diberikan ke Sri Sultan HB III.
  • URUBING DILAH (DHAPUR), salah satu dapur keris luk satu. disebut juga dapur  Damar Murub, gandik polos memakai pejetan, tikel alis dan greneng. Bilah berukuran sedang, lurus tetapi di pucuk bilah ada luk satu. Keris ini mudah dikenali dengan adanya sebuah luk di ujungnya dan tergolong langka.




W

  • WADUK, lihat GENDOK.
  • WALANG SINUDUK (PAMOR) atau WALANG SINUDUKAN, pamor yang tergolong pemilih dan rekan. Pemiliknya menjadi panutan dan cocok untuk guru, pemuka masyarakat serta pemimpin agama.
  • WALIKUKUN (KAYU), biasa digunakan untuk gagang tombak (landeyan). Bila menebang dengan benar maka kayu ini tidak mudah patah, tetap lurus dan cukup ringan (Schontenia ovata Korth).
  • WALULIN (BESI), jenis besi untuk membuat keris, tetapi sedikit sekali pengetahuan mengenai bahan ini. Ada yang mengatakan besi ini agak berpori, kering dan warnanya abu-abu kehitaman.
  • WANA, (KANGJENG KYAI WANA), pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Parungsari, luk 13, warangkanya gaya Surakarta dari kayu Trembalo dengan pendok “Salak Tinatah”.  Semula milik Kiai Wanadikrama dari Kauman kemudian dibeli Sri Sultan HB V.
  • WANDA, Gaya pembuatan keris atau tombak yang dapat menimbulkan kesan (mengekspresikan) watak dan karakter tertentu. Ini tidak berkaitan dengan bentuk dapur, pamor maupun tangguhnya. Misalkan keris berdapur Tilam Upih berpamor Wos Wutah dari Tangguh Mataram, ada yang berwanda Brangasan (mudah marah) maupun berwanda Kemayu (Genit). Wanda dalam dunia keris sama dengan wanda dalam pewayangan, untuk menilai wanda diperlukan kepekaan rasa seni tinggi. Dalam beberapa hal istilah wanda hampir sama dengan istilah pasikutan. Istilah wanda dikaitkan dengan penampilan masing-masing keris, sedangkan istilah pasikutan lebih banyak dikaitkan tangguh keris.
  • WANGKINGAN, kata lain yang lebih halus dari keris (lihat juga Duwung).
  • WARANGAN, bahan mineral mengandung Arsenikum (As), dipakai untuk mengawetkan keris. Melapisi bilah dengan warangan disebut mewarangi atau marangi. Gambar pamor akan lebih indah dan jelas. Mewarangi keris dilakukan setelah dibersihkan dan biasanya pada bulan Suro. Warangan alami sejak dulu berasal dari Tiongkok dan paling baik untuk mewarangi, warnanya jingga kemerahan dengan semacam alur warna merah, seperti urat pada kristalnya. Warangan yang lebih rendah mutunya berwarna kuning kotor, dinamakan Atal, didatangkan dari Thailand dan kurang baik untuk mewarangi.
  • WARANGKA, Warangka atau sarung keris (bahasa Banjar: kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka mula-mula hanya dibuat dari kayu yang umum saja (Jati, Cendana, Timoho, dan Kemuning), tetapi sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi warangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya, sehingga jenis kayu yang dipakai juga bertambah:  Trembalo, Awar-awar, Sono, Walikuku, Tayuman, Nagasari, dan Gaharu. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu Ladrang yang terdiri dari bagian-bagian: angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Jenis warangka yang satunya adalah Gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek. Aturan pemakaian bentuk warangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Warangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan warangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris warangka gayaman, pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena warangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Sebenarnya ada satu jenis warangka lagi terutama di Yogyakarta yaitu Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.
  • WARU GUNUNG (KAYU), jenis kayu yang biasa digunakan untuk membuat tangkai tombak. Kayu ini tergolong murah dan banyak dipakai, istilah latinnya Hibiscus Macrophyllus Roxb.
  • WARU LAUT (KAYU), juga untuk tombak, walau serat seratnya kurang baik, istilah latinnya  Hibiscus filiaceus. L.
  • WATU LAPAK, lihat BATU LAPAK.
  • WELANGI (BESI), jenis besi untuk membuat keris warnanya kuning kehijauan dan tuahnya baik untuk mencari rejaki. Namum menurut buku kuno, pemilik keris ini tidak boleh menghutangkan atau membungakan uang.
  • WENGKON (PAMOR), nama pamor yang gambarannya menyerupai garis bingkai di sepanjang tepi bilah keris. Pamor ini biasa juga disebut pamor Tepen atau pamor Lis-lisan. Tergolong pamor rekan dan tuahnya membuat hemat, tahan terhadap godaan serta merupakan pamor yang tidak pemilih.
  • WERANI, jenis besi untuk membuat keris, warnanya hitam keunguan. Menurut buku kuno sebagai senjata besi ini ampuh sekali.
  • WETENGAN, lihat GENDOK.
  • WEWE PUTIH, (KANGJENG KYAI WEWE PUTIH), merupakan keris pusaka kraton  Yogyakarta, berdapur Carita, warangka dari kayu Timoho, pendoknya emas murni bertahtakan intan permata. Keris ini dibeli dengan harga 18 ripis oleh Sri Sultan HB V ketika masih remaja.
  • WILAHAN, bagian utama dari keris selain bagian ganja dan pesi, disebut juga dengan istilah wilah, awak-awakan atau bilah.
  • WILUT (GANJA), salah satu bentuk ganja keris. Ganja wilut bentuknya tidak datar dan tidak melengkung melainkan mirip huruf S tidur. seperti ulat sedang berjalan. Ganja  ini hanya terdapat pada keris dengan dapur khusus.
  • WINDUADI (BESI), sejenis besi untuk membuat keris dan tosan aji lainnya, berwarna pucat dengan kristal bening keperakan menyebar di permukaan. Menurut pecinta keris, bahan ini sangat ampuh dan kalau dibawa perang maka pembawanya tidak terlihat musuh.
  • WINGIT, menimbulkan kesan angker, menakutkan, bisa berarti berwibawa, menyeramkan.
  • WIRING DRAJIT, lihat Biring Drajit.
  • WIRING LANANG, lihat Biring Lanang.
  • WISA MANDRA AJI, (KANGJENG KYAI WISA MANDRA AJI), salah satu pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sengkelat luk 13, warangka dari kayu Timoho dengan pendok blewahan  dari suasa. Keris ini merupakan putran dari KK. Sengkelat dibuat Empu Lurah Supo pada jaman Sri Sultan HB V.
  • WISA PRAMANA, (KANGJENG KYAI WISA PRAMANA), salah satu keris pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sabuk Inten luk 11, warangka dari kayu Timaha dengan pendok  dari Suasa. Dibuat atas pesanan Sri Sultan HB II, diselesaikan di Pulo Gedong, diberikan ke Penembahan Mangkurat kemudian diwariskan ke Tumenggung Reksanegara dan dibeli kembali oleh Sri Sultan HB V.
  • WISAPRATANDA, (KANGJENG KYAI WISAPRATANDA), pusak kraton Yagyakarta, dapur Jalak Sangu Tumpeng, warangka dari kayu Timoho dan pendok kemalon putih berslorok emas intan. Keris ini duplikat dari  KK KOPEK, dibuat oleh Empu Lurah Mangkudahana pada jaman Sri Sultan HB V.
  • WONOAYU, tempat di Madura, asal Empu Brajaguna yang terkenal di kraton Surakarta.
  • WOS WUTAH (PAMOR), pamor yang paling banyak terdapat berupa bulatan dan garis tak beraturan, tergolong pamor tiban, pamor mlumah dan tidak memilih.
  • WULAN-WULAN (PAMOR), pamor yang berupa bulatan-bulatan yang terpisah satu sama lainnya, agak mirip melati sinebar tapi ukurannya agak besar, tergolong pamor mlumah dan tidak pemilih, biasanya dimiliki pedagang atau pengusaha karena katanya pemiliknya mudah mencari rejeki.
  • WUNGKUL (DHAPUR), atau Dungkul atau Bungkul, nama salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang gandiknya agak panjang, sogokannya satu didepan. Keris ini dungkul, artinya ganja yang bentuknya seperti hurup W terbalik, tergolong langka dan biasanya keris lama.
  • WUWUNG 1 (DHAPUR), salah satu dapur keris luk 3, panjang bilahnya sedang. Gandiknya polos, pejetannya dangkal. Khusus keris ini bagian yang tajam hanya pada satu sisi saja yaitu sisi depan sedang sisi belakang tumpul sampai sekitar tiga perempat bilah.
  • WUWUNG 2 (DHAPUR), nama salah satu bentuk ganja keris, pada dasarnya rata dan datar, mirip bumbungan rumah, ia tidak melengkung. Ganja ini banyak digunakan di jaman Pajajaran dan Tuban. Walau bentuknya sederhana tetapi jika serasi dengan bentuk bilahnya akan tampak anggun.





Y


  • YASADIPURA II, pujangga terkenal di Kraton Solo. Tahun  1814 beliau menulis Serat Centini bersama RM Ranggasutrasna dan  RM Sastrodipura. Membahas mengenai Pakem Keris dan Tombak Jawa dibawah koordinasi Paku Buwono V, pekerjaan ini selesai tahun 1823.
  • YOGAPATI (PAMOR), pamor yang oleh banyak penggemar keris dianggap buruk, pemiliknya akan sering dirundung malang, sehingga sebaiknya dilarung atau diserahkan ke Museum saja. Pamor ini terletak di sor-soran dan tergolong pamor tiban.
  • YOGYAKARTA (TANGGUH), tangguh Yogyakarta agak mirip dengan tangguh Majapahit. Pasikutannya wingit dan prigel. Besinya lumer (halus rabaannya) dan berkesan kering, warnanya agak biru. Menancapnya pamor pada bilah pandes dan ngawat (kokoh dan serupa kawat); sebagian pamor itu mrambut. Panjang bilahnya berukuran sedang, makin ke ujung makin ramping sehingga berkesan runcing. Luknya tidak begitu rapat. Gandiknya miring dan agak pendek.
  • YONI, semacam daya atau kekuatan gaib yang menurut ahli esoteri dianggap sebagai kekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat.
  • YUYU RUMPUNG (DHAPUR), salah satu dapur keris lurus, ada 2 versi, yang pertama, bilahnya berukuran sedang, gandiknya panjang dan diatas gandik ada kembang kacangnya berukuran kecil. Yang kedua gandiknya berada di belakang, panjang, bilahnya agak membungkuk, ganjanya kelap lintah. Biasanya dimiliki petani dan mempunyai tuah membantu menangkal serangan hama dan menyuburkan tanaman.




disadur dari sarwoleres