Lemah Kuning! Nama ini sengaja aku pilih, karena ini akan mengingatkan pada suatu masalah tersendiri, yang menjadi harus dicampakkan, dan dijauhkan dari kebenaran. Dan mungkin kebenaran itu hanya menjadi suatu impian belaka. Namun demikian marilah kita bermimpi, banyak orang mengatakan dengin bermimpi suatu saat akan menjadi kenyataan. Jauh sebelum saya menggunakan kata ini untuk memberi judul blog, hanya satu masalah yang muncul ketika dilakukan pencarian menggunakan google.

Bahasa Isyarat

Pramuka

Pramuka merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega. Ada juga kelompok lain yaitu Pembina, Andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir dan Majelis Pembimbing Pramuka. Sedangkan yang dimaksud Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.

Sedangkan Kepanduan (Scout) adalah sebuah gerakan pembinaan pemuda yang memiliki pengaruh mendunia. Gerakan kepanduan terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan, baik untuk pria maupun wanita, yang bertujuan untuk melatih fisik, mental dan spiritual para pesertanya dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat. Saat ini, terdapat lebih dari 38 juta anggota kepanduan dari 217 negara. Tentu saja yang terbanyak dari Indonesia dengan Pramuka (Praja Muda Karana) nya.

Gerakan Pramuka Indonesia adalah nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia, yang mempunyai lambang tunas kelapa.

Tiga paragraf di atas terasa sangat lancar dan harmonis sekali kata-katanya, karena saya kutip dari Wikipedia. Bagi saya yang menarik dari Kepramukaan (Kepanduan/Scouting) adalah kegiatannya yang kadang-kadang perlu memeras otak untuk dapat menyelesaikannya. Ada beberapa hal dari pengalaman pribadi saya yang akan saya ungkapkan disini. Silakan untuk menyimak uraian berikut.

Hampir semua anak sekolah formal di Indonesia ini tentu pernah menjadi anggota Pramuka, karena itu merupakan kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti dari semenjak SD hingga ke lanjutan tingkat atas. Namun demikian banyak sekali anak-anak yang mengikuti kegiatan ini hanya asal-asalan saja, dan hasilnya tentu saja jauh dari pengharapan semula. Tak jarang mereka mau mengikuti pendidikan ekstra kurikuler ini hanya untuk wah saja. Tetapi bagi yang mengikuti secara serius pastilah banyak manfaat yang dapat diambil.

Kegiatan Kepramukaan ini biasanya dibagi beberapa macam, ada yang dilakukan di dalam kelas yang biasanya untuk briefing atau memberikan petunjuk-petunjuk untuk nanti dipraktekkan. Tentunya praktek itu sendiri yang dilakukan di luar kelas atau udara terbuka, meskipun sifatnya masih bisa sebagai briefing. Dan bila briefing-briefing sudah dirasa cukup, kemudian kemah atau camping yang biasa dilakukan di udara terbuka dan jauh dari rumah. Dalam kegiatan camping ini biasanya akan ada acara-acara lain yang cukup menarik, api unggun dan pertunjukan di malam hari, dan di siang hari ada permainan dan mencari jejak.

Buat saya pribadi hal yang paling menarik di dalam camping adalah saat mencari jejak. Semua tantangan dan persoalan akan muncul saat itu, apabila kita ingin sukses maka harus bisa menaklukkan semua tantangan itu. Dari sandi morse hingga semaphore yang harus dihafal dan masih banyak lagi sandi-sandi yang lain yang biasanya telah diberikan saat briefing sebelumnya.

Saya masih ingat ketika masih SD pada acara briefing diluar ruangan, setelah semua regu berkumpul dan mengelilingi sang tutor dari jarak yang tidak terlalu jauh, kemudian sang tutor mengeluarkan serentengan barang-barang yang disusun dengan seutas tali. Jumlah barang-barang yang berbeda-beda itu kurang lebih sepuluh. Kemudian sang tutor memerintahkan kepada semua anggota Pramuka untuk mengamat-amati barang-barang itu dengan teliti. Diberikan waktu yang cukup lama kurang lebih sepuluh menit. Setelah waktu dirasa cukup kemudian sang tutor memberesi barang-barangnya, sesaat kemudian memerintahkan kepada setiap regu untuk menyebutkan ulang satu-persatu barang-barang itu secara urut. Hanya satu regu yang mendapatkan nilai bagus meskipun tidak maksimal (kurang dua). Setelah diteliti dan dicari sebabnya mengapa regu itu bisa menyebutkan secara urut tetapi kok kurang dua? Ternyata regu itu hanya beranggotakan 8 orang, sehingga ketika masing-masing personel dipaksa untuk menghafal satu macam barang, maka dua barang yang terakhir tidak ada yang menghafalnya.

Dan ketika proses belajar diulang dengan cara yang agak berbeda, yaitu sang tutor hanya menyebutkan saja satu persatu barang tadi dengan nama yang salah (misalnya yang dipegang buku tetapi dibilang kipas) maka akhirnya regu tadi, yang sudah ditambah dua anggota lagi ternyata malah kalang kabut dan jawabnya hampir salah semua. Kuncinya adalah kekompakan dan kebersamaan. Anggota yang baru masuk belum dapat beradaptasi dengan kawan-kawannya yang sudah solid.

Dan ketika sebuah regu yang menurut sang tutor masih sangat mengecewakan dalam hal ini (kebetulan regu putri), diberikan trand yang sama dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menyuruh mereka berjejer menghadap ke depan dan tangan ada di belakang, kemudian sang tutor memberikan barang-barang yang berbeda-beda dengan tetap tangan ada dibelakang, dengan cara barang diberikan kepada anggota yang paling ujung dan untuk diteruskan pada anggota sebelahnya sehingga semua barang habis, dan kembali dikumpulkan satu persatu urut dari ujung yang satunya, tetapi regu inipun masih mengecewakan sang tutor. Intinya adalah pemahaman masing-masing personel yang masih kurang.

Pengalaman yang satu ini adalah terjadi saat mejadi Penegak (Pramuka tingkat SLTA). Pada saat briefing, sandi yang diajarkan adalah AM – ZN yang telah dimodifikasi dengan loncat beberapa item sesuai angka pada kunci yang tertera. Saya tidak ingat persis waktu itu perintah yang diberikan apa, dan dalam bentuk sandinya bagaimana? Tetapi kurang lebih seperti ini:

“Ketika mobil saya yang bernomer 3698 mogok ditengah hutan, maka saya minta bantuan kepada Amir, Mirza, Zainab dan Nina untuk mendorongnya.”

Kemudian di bawahnya ada sederet huruf-huruf besar semua yang hampir-hampir tidak mempunyai makna apa-apa. Dari briefing tadi diperoleh cara menyelesikan sandi tersebut sebagai berikut:





Penjelasannya:

  • Huruf N yang pertama adalah huruf M yang telah loncat 3 kali dari huruf P.
  • Huruf O adalah huruf L yang telah loncat 6 kali dari huruf R.
  • Huruf J adalah huruf Q yang telah loncat 9 kali dari huruf A.
  • Huruf B adalah huruf Y yang telah loncat 8 kali dari huruf J.
  • Huruf W adalah huruf D yang telah loncat 3 kali dari huruf A.
  • Dan begitu seterusnya sampai semua huruf terdefinisikan.
Tetapi ketika di dalam acara mencari jejak yang sebenarnya kakak Pembina telah merubah sandi menjadi seperti berikut:

“Ketika tiba di sebuah tepian hutan, tiba-tiba ada seekor monyet yang hendak menyebrang sebuah kali. Monyet tadi menyebrang jembatan dengan cara melompat dengan irama 3 5 3 ke arah depan.”

Tentu saja saya kalang kabut bagaimana untuk menterjemahkan sandi tersebut di atas, dari sederetan tulisan yang tanpa nama. Setelah lama dipikir bersama-sama, dan setelah lama diotak-atik tidak juga ketemu apa perintah dari sandi itu, akhirnya seorang teman dari regu lain membisikkan hasil dari perintahnya saja tanpa memberitahu cara menyelesaikannya. Ok! Dikerjakannyalah perintah itu meskipun saya masih harus mencari tahu bagaiman cara menyelesaikan sandi itu. Rupanya penyelesaiannya hanya sederhana saja. Maka jika huruf pertama C maka harus loncat 3 ke arah depan menjadi F, dan jika huruf kedua G harus loncat 5 ke arah depan mejadi L, begitu seterusnya. Jadi siapapun yang memberikan sandi dan perintah itu, berhak untuk merubahnya setiap saat tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Hanya kita saja (kami) yang harus pandai-pandai memecahkannya, tentunya dengan nalar dan nafsu yang harus diredam.

Berikut ini beberapa sandi (bahasa isyarat) dalam Pramuka yang saya peroleh dari tempat ini: Pramuka.net
Atau dari sini: Praja Muda Karana :



Primbon adalah salah satu buku yang memuat banyak bahasa isyarat alam (baca: Yang Maha Kuasa). Seperti juga bahasa sandi pada Pramuka, yang memberikan sandi-sandi itu juga punya hak untuk merubah kuncinya. Jadi meskipun itu sebuah Primbon, mestinya kita tidak mebacanya secara tekstual, tetapi harus dengan hati yang bersih, sihingga kita bisa mengerti apa sebenarnya arti yang tersirat dibalik semua yang tersurat. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mencerna tulisan saya ini, tetapi tak apalah ini sebagai sesuatu yang ingin saya sampaikan dan sudah terlaksana. Terimakasih!