Lemah Kuning! Nama ini sengaja aku pilih, karena ini akan mengingatkan pada suatu masalah tersendiri, yang menjadi harus dicampakkan, dan dijauhkan dari kebenaran. Dan mungkin kebenaran itu hanya menjadi suatu impian belaka. Namun demikian marilah kita bermimpi, banyak orang mengatakan dengin bermimpi suatu saat akan menjadi kenyataan. Jauh sebelum saya menggunakan kata ini untuk memberi judul blog, hanya satu masalah yang muncul ketika dilakukan pencarian menggunakan google.

Mengungkap Misteri

Kanjeng Ratu Kidul


Sudah sejak lama, banyak teman-teman atau kerabat dekat maupun jauh yang menanyakan hal ini kepada saya, namun saya sangat sulit untuk menjawabnya. Saya tahu hanya sedikit sekali. Dan mau mencari referensi sangat sukar untuk diketemukan. Dengan saya ketemukan tulisan ini maka aku beranikan diri untuk memasangnya di sini. Untuk sementara ini saya menganggap tulisan berikut adalah yang paling bijaksana di dalam mengungkap kebenaran tersebut. Mungkin bila saya ketemukan yang lebih bijaksana dari ini aku akan gantai tulisan ini. Terimakasih.


Untuk mengurangi kontroversi dan kesimpangsiuran, sejenak Sabdalangit mengulas tentang sejatinya Kanjeng Ratu Kidul. Beliau entitasnya sebagaimana manusia adalah tetap sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Beliau sangat religius, arif bijaksana, juga menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau bukan jin, bukan siluman, bukan sebangsa setan. Kanjeng Ratu Kidul adalah titisan dari bidadari yang diizinkan Tuhan menjadi ratu jagad maya pesisir selatan. Tuhan menciptakan entitas Ratu Kidul supaya menjadi bandul keseimbangan antara alam gaib dan alam nyata. Semestinya antara manusia dengan makhluk gaib, membangun sinergisme; dengan saling “silaturahmi”, menghargai, memiliki hubungan simbiosis mutual, serasi dan harmoni dalam bahu membahu menjaga alam semesta dari kerusakan. Manusia dengan makhluk gaib pada arasnya dapat saling melengkapi, saling mengisi kelemahan masing-masing. Tetapi manusia sering takabur, merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga lebih suka menyia-nyiakan, menghina, aniaya, dan merendahkan, terhadap makhluk gaib (yang juga ciptaan Tuhan) secara pukul rata. Padahal kesempurnaan manusia hanya tergantung akalnya saja. Bila akal digunakan untuk mendukung kejahatan bukankah manusia tidak lebih mulia daripada binatang yang paling hina sekalipun.

Tidak seluruh makhluk gaib itu berkarakter jahat, seperti halnya manusia ada yang berkarakter jahat, suka mengganggu, tetapi ada yang berkarakter baik pula. Tetapi makhluk gaib terlanjur sering menjadi kambing hitam, oleh manusia-manusia “jahat” agar dapat berkilah bahwa mereka melakukan kejahatan karena ulah “si setan”. Bukankah, manusia akan menjadi lebih bijaksana jika mengatakan bahwa manusia melakukan kejahatan karena menuruti hawa nafsunya (NAR/api/ke-aku-an) sendiri yang menjelma menjadi ’setan’. Pembaca yang budiman dapat saksikan sendiri, bilamana bulan suci tiba, setan-setan dibelenggu, tapi kenapa pada bulan puasa tetap saja banyak kasus korupsi, pembunuhan, maling, rampok, penggendam, penipuan, bahkan pernah saya melihat ada orang kesurupan, pernah pula melihat ‘penampakan’!? Mungkin manusia salah mengartikan, setan yang dibelenggu tidak lain adalah nafsu negatif kita sendiri. Dan yang membelenggu hawa nafsu negatif (NAR) tidak lain menjadi tugas kita sendiri, dengan borgol berujud jiwa yang suci (NUR) atau an nafsul mutmainah, dengan artikulasi akal dan budi pekerti yang luhur.

Berbeda dengan konsep Kanjeng Ratu Kidul, adalah Betara Kala disebut-sebut raja makhluk gaib dari ‘dunia kegelapan’. Sebutan itu muncul karena Betara Kala mencari korbannya yakni manusia. Tetapi seyogyanya jangan terburu-buru pada kesimpulan bahwa Betara Kala merupakan makhluk jahat dari dunia gaib yang ‘hitam’. Karakter ‘jahat’nya, karena Betara Kala hanya menjalankan titah atau kodrat Tuhan, sebagai eksekutor/algojo bagi orang-orang yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan termasuk eksekutor bagi orang yang melanggar paugeran dan wewaler. Peranan Betara Kala sama halnya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penyeimbang antara jagad kecil dan jagad besar. Membangun sinergisme antara dunia manusia dengan dunia makhluk gaib. Jika manusia mempercayai peran-peran tersebut, manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari justru membangun sikap religius, kita menjadi lebih hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan yang penuh “ranjau”. Manusia selalu menjaga diri dengan sikap eling lan waspada. Semakin banyak orang lupa diri; tidak eling waspada, suka melanggar wewaler, maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberikan azab, baik dalam bentuk bencana kemanusiaan maupun bencana alam di bumi nusantara.

Sekalipun saat ini semakin banyak orang-orang yang tampak sangat religius, mengaku sebagai pahlawan agama, jago ceramah, namun banyak pula di antara mereka yang sesungguhnya amat dangkal pengetahuannya, ilmunya sebatas “kulit”. Golongan ini tak menyadari jika sedang kekenyangan makan ‘kulit’(syari’at) saja. Selanjutnya muncul gejala semakin gencar manusia tampil sebagai pembela agama baik dengan menghalalkan cara-cara kekerasan maupun pedagog verbal. Semakin banyak jumlah orang-orang yang seolah-olah soleh-solehah, giat pergi ke tempat ibadah, tetapi semakin banyak pula mereka terbukti melakukan perbuatan keji, korupsi, selingkuh, merampok hak orang lain, memperkosa, mencuri, menipu, mencelakai orang, pagar makan tanaman. Tentusaja mereka melakukannya dengan kesadaran sambil mencari-cari dalil yang mengada-ada sebagai alasan pembenar. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, namun jelas-jelas kejahatan besar tidak dihiraukan.


Mohon beribu-ribu maaf! Penjelasan tambahan dari Tumenggung Wirosobo untuk sementara saya singkirkan terlebih dahulu. Dan untuk penggantinya berikut ini saya dapatkan dari facebook. Trimakasih!


Meluruskan Citra Eyang Nyai Roro Kidul
By: Johannes Nugroho Onggo Sanusi

Saya merasa prihatin bahwa Nyai Roro Kidul sering digambarkan dalam budaya Indonesia sekarang sebagai ratu jin ataupun setan dengan semua embel-embel syirik. Media Indonesia melalui acara-acara yang kurang mendidik juga sering menggambarkan Nyai Roro Kidul sebagai jin wanita yang jahat.

Sebenernya dalam tatanan kepercayaan Jawa kuno, Nyai Roro Kidul adalah seorang Dewi, bahkan mungkin merupakan Dewi Agung bangsa Jawa. Hampir semua bangsa di dunia punya paling tidak seorang Dewi Agung. Bangsa Yunani Kuno mempunyai Gaia (Ibu Bumi), Mesir Dewi Isis, Jepang Dewi Amaterasu, Irlandia Dewi Morrigan, Tibet Dewi Tara, China Dewi Kwan Im dan Jawa Nyai Roro Kidul.

Menurut almarhum Kanjeng Sultan Hamengkubuwono IX, sosok Nyai Roro Kidul bukanlah sebuah imaginasi. Kanjeng Prabu bersedia memberi testimoni bahwa beliau pernah melihat sang Dewi. Sang Sultan juga berujar bahwa gelar Nyai Roro Kidul di dalam istana lautannya adalah "Retna Dewati". Melihat gelar tersebut, bisa disimpulkan bahwa Nyai Roro Kidul adalah Dewi Bulan karena Retna berarti terang bulan. Kanjeng Sultan juga menyebutkan bahwa sang Nyai berubah wujud menurut umur bulan. Jika bulan sedang berumur muda, Nyai Roro Kidul berwujud sebagai gadis remaja; jika bulan purnama, Dia berwujud wanita dewasa dan bila bulan sabit, Nyai Roro Kidul berwujud nenek tua.

Penjelasan Sultan mengingatkan saya pada 3 Dewi Nasib bangsa Yunani yang disebut sebagai The Three Fates; Clotho sang gadis muda; Lachesis sang wanita dewasa dan Atrophos, nenek tua yang bertugas memotong tali kehidupan seseorang jiwa awalnya tiba.

Nah dalam kapasitasnya hanya sebagai Dewi Bulan, bagaimana Nyai Roro Kidul juga dapat dikatakan sebagai Dewi Agung?

Kita yang pernah membaca khasanah Nyai Roro Kidul dalam Babad Tanah Jawi mungkin pernah tahu bahwa beliau juga dikenal dengan nama Dewi Srenggeng, di mana Srenggeng berarti Matahari.

Para petani Jawa juga mengetahui bahwa hewan ular adalah utusan Nyai Roro Kidul. Dalam hal ini Nyai Roro Kidul bertindak senagai Dewi Pertanian atau Dewi Sri.

Fakta bahwa semua raja Mataram keturunan Panembahan Senopati harus secara ritual "kawin" dengan Nyai Roro Kidul juga menunjukkan bahwa kedaulatan Tanah Jawa secara metafisik berada di tangan Nyai Roro Kidul. Sesungguhnya tidak akan ada Raja Jawa yang sah menduduki tahta tanpa kawin dengan sang Nyai.

Bagaimana pula kita menyikapi hal ini? Apa benar bahwa para raja-raja Mataram kawin secara harfiah dengan san Dewi?

Tentu kita harus mengartikan perkawinan tersebut dari segi simbologis. Nyai Roro Kidul adalah lambang tanah Jawa beserta semua laut yang mengelilinginya, jadi pada saat bertahtanya seorang raja Jawa, beliau secara spiritual mengawini tanah Jawa, yang disimbolkan sebagai seorang Dewi.

Tata cara spiritual ini sebenarnya juga dipraktekkan bangsa lain di dunia. Pemimpin spiritual Tibet Sang Dalai Lama juga menanggap Dewi Tara sebagai Dewi Pelindung bangsa Tibet. Dan setiap Dalai Lama baru harus memberi hormat pada Tara yang dikatakan bersemayan di sebuah danau suci di Tibet.

Jika memang Nyai Roro Kidul adalah Dewi Agung Tanah Jawa, apa relevansi semua itu bagi bangsa Indonesia, terutama penganut Kejawen?

Kejawen adalah sebuah kepercayaan yang mengutamakan keseimbangan. Kita semua tahu bahwa keseimbangan dalam seseorang akan tercapai jika unsur maskulin (yang) dan feminin (yin) bekerja selaras dan hamonis.

Demikian juga spiritualitas kita. Selama ini hampir semua agama di Indonesia menggambarkan Tuhan sebagai laki-laki. Akibat dari penggambaran tersebut kaum wanita tersingkir dari posisi kuat dalam agamanya sendiri. Kaum wanita masih ditabukan menjadi imam bagi kaum pria, sementara kaum pria merasa pantas mengimami kaum wanita karena mereka merasa Tuhan adalah maskulin, dan dengan otomatis wakil Tuhan harus maskulin juga.

Hal ini ironis sekali mengingat bahwa kita semua lahir dari rahim wanita. Kalaupun Pencipta kita semua Pria, mengapa Wanita diberi posisi kunci dalam proses prokreasi?

Kalau kita dapat melihat Tuhan sebagai Bapa kita semua, kenapa kita merasa aneh jika Tuhan dapat juga menjadi Bunda bagi kita semua?

Jika kita jujur, Tuhan mungkin seorang Bapa dan Bunda sekaligus juga. Penggambaran iliahi sebgai sosok Bunda juga tidak dapat dihilangkan dari memori bawah sadar kita. Itu sebabnya Nyai Roro Kidul, seorang dewi kuno bangsa ini, masih juga survive sampai pada masa kita.

Itu pula sebabnya Bunda Maria dalam ajaran Katolik begitu dimuliakan. Dan itu pula sebabnya putri Nabi Muhamad Fatima begitu dimuliakan oleh kaum Muslim dan oleh sang Nabi. Begitu pula kedudukan Dewi Kwan Im dalam agama Buddha.

Dewasa ini kita melihat kerusakan yang hebat terhadap lingkungan dan bumi kita. Manusia seakan -akan tanpa peduli mengeksploitasi bumi demi uang dan kekuasaan tanpa memikirkan semua luka yang kita hujamkan pada alam.

Seandainya kita mengganggap bahwa alam adalah Dewi Bumi, Ibu kita semua dan tanah Jawa ini adalah Dewi Ratu Kidul, akankah kita tega atau berani merusaknya? Ketidakpedulian manusia terhadap alam banyak disebabkan oleh hilangnya sosok feminin dalam ketuhanan kita.

Seorang Ibu biasanya mencintai semua anaknya, tidak peduli ada anaknya itu jelek, elok, bodoh ataupun jahat sekalipun. Semua adalah anaknya. Semua berhak menyusu padanya pada waktu kecil. Semua dibesarkan di rahimnya, jelek ataupun rupawan. Inilah filosofi ketuhanan sosok Bunda.

Akhir-akhir ini kita juga melihat bentuk-betuk kekerasan yang diakibatkan oleh tidak adanya toleransi bagi sesuatu yang lain. Saudara kita yang berkeyakina Ahmadiyah telah melihat dengan kepala mata mereka sendiri kebebasan mereka beribadat dinistakan. Merak dianggap bidah karena keyakinan mereka berbeda.

Kaum gay and lesbian juga diteror oleh kelompok fanatik agama ketika hendak mengadakan pertemuan internasional di Surabaya. Padahal selama ini banyak juga di antara kita yang mengenal kaum liyan ini sabagai anggota masyarakat yang baik, sebagai warga negara yang taat. Cuma karena urusan ranjang mereka harus dibedakan dan disisihkan.

Inilah akibat dari ketuhanan maskulin yang kaku. Seorang Ayah yang malu akan anaknya mungkin tega mengusir anak tersebut tetapi seorang Ibu mungkin merasa malu juga tetapi kemungkinan besar akan tetap mencintai anak tersebut karena bagaimanapun anak itu juga pernah besar di rahimnya.

Teman-teman sekalian, bumi kita sedang meraung karena hujaman kita anak-anaknya. Salahkan Dia jika harus protes keras dengan banjir besar di mana-mana yang merupakan peringatanNya pada kita? Marilah kita mennyembuhkan luka Ibu kita dengan lebih bertanggung-jawab akan alam, dengan lebih toleran terhadap orang lain dan mengingat bahwa surga berada di telapak kaki Ibu kita yang surgawi!


Tanggapan:
KS:
Mencoba untuk mengungkapkan Pendapat :
Sosok seorang Nyai Roro Kidul, kalo menurut pendapat saya ada perbedaan dengan seorang sosok IBU RATU KIDUL, karena menurut cerita yg saya dapat dari seseorang, sosok seorang IBU RATU KIDUL adalah seorang Ibu yang Menjadi Pengayom Tanah Jawa, sedangkan Nyai Roro Kidul merupakan Abdi Dalem Ibu Ratu Kidul. Kalo ada kelirunya mohon di koreksi dan diwedarkan kembali.suwun

NOS:
Mas KS, ini juga ada benarnya, mas, mungkin cuma masalah penamaan, karena sosok penguasa Ratu Selatan dipanggil dengan banyak nama; Kanjeng Ratu Kidul, Nyai Roro Kidul, Mbok Ratu Kidul, dsb. Pendapat Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa Segara Kidul sedangkan Nyai Roro Kidul abdi dalemnya juga bisa dibenarkan.

Kemungkinan besar nama-nam tersebut merepresentasikan sosok yang sama dengan persona yang beragam. Kanjeng Sultan HB IX pernah berucap bahwa penampilan Ratu Kidul berubah sesuai umur bulan, jadi semua variasi name tersebut Nyai ataupun Mbok bisa merupakan nama-nama sosok yang sama.

Perbandinganya dapat ditemukan di mitologi bangsa lain. Dewi Rhea bangsa Yunani yang merupakan Dewi Bumi juga bisa disamakan dengan Dewi Hera yang menurut cerita malah semestinya putri Dewi Rhea. Tapi secara esensi dewi-dewi tsb merupakan sosok yang sama. Gaia, Rhea, Hera semua dewi bumi, bahkan di Efesus Rhea disebut sebagai Artemis.

Di Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ratu Kidul dulunya seorang putri raja yang terkena penyakit kulit akibat diguna-guna. Menurut saya cerita ini telah diedit pada jaman penulisan buku tersebit, sehingga hanya sekelumit informasi yang dapat diperoleh. Seorang peneliti Belanda Roy E. Jordan berargumen bahwa cerita penyakit kulit tersebut dapat diartikan bahwa Ratu Kidul merupakan seorang nagini (dewi ular), yang memiliki kulit bersisik.
http://ccbs.ntu.edu.tw/FULLTEXT/JR-EPT/roy.htm

Saya rasa semua cerita-cerita kuno dahulu sebelum ditulis dalam bahasa selalu diabadikan berupa gambar, biasanya secara relief di bangunan seperti yang kita temui di candi-candi. Pada waktu gambar-gambar tersebut diterjemahkan ke dalam tulisan, kadang-kadang bisa terjadi kesalahpahaman. Bila seorang dewi digambar memiliki kulit bersisik karena dia dewi ular, bisa jadi disalahartikan dia punya penyakit kulit.

KS:
Memang mungkin begitu menurut cerita, tetapi sosok seorang IBU dan seekor NAGA, adalah gambaran tentang DUNIA atau keduniawian, karena IBU di dalam istilah kejawen adalah Isen-isening Buwono, yang berarti semua yang ada di dunia ini juga sudah terdapat di dalam diri manusia.

JNOS:
Jika Ratu Kidul memang nagini, maka ini normal-normal saja menurut mitologi karena Ratu Kidul juga bisa disebut dewi bumi, semacam Dewi Sri. Kebanyakan dewi bumi memang dihubungkan denga ular.

Kalau masalah ajaran Kejawen, saya rasa tidak dapat dipungkiri Kejawen jaman sekarang merukapan sinkretisme dari semua sejarah keberadaannya. Kejawen pasti sudah ada sejak sebelum Hindu masuk tanah Jawa, dan kita benar-benar tidak mengetahui pada jama itu Kejawen itu seperti apa. Kemungkinan besar Ratu Kidul berasal dari masa ini.

Ketika Hindu masuk, kemungkinan juga ajaran Hindu berpengaruh terhadap Kejawen. Seperti yang Mas sebutkan masalah keduniawian. Konsep ini sangat Hindu sekali karena dalam ajaran Hindu untuk mendekatkan diri pada dewata, penyangkalan diri sangat diperlukan, makanya kita mengenal konsep bertapa & berpuasa.

Ketika agama Islam masuk pun, saya rasa Kejawen juga pasti terkena pengaruh Islam juga, apalagi keratin-keraton Islam se Jawa mempraktekkan Islam & Kejawen secara bersamaan. Saya rasa kita harus bisa membedakan konsep moral dalam Kejawen yang telah terakulturasi dan yang belum.

HP:
Semua makhluk adalah termasuk makhluk yang tampak maupun tidak tampak, meminjam istilah karena alam beda frekuensi. Masalah umur seekor nyamuk umurnya cuma 1 sampai 2 hari bandingkan dengan manusia, bagaimanakah nyamuk melihat manusia? Ada alam bahagia (surga yang paling rendah dekat dengan frekuensi manusia, sehari semalam disana adalah 20 tahun di dunia manusia (tetapi untuk membuktikan ini memang perlu syarat khusus) bagaimana dengan alam yang lebih tinggi lagi ada yang sehari semalem didunia 80ribu tahun, dan sehingga kadang makhluk yang mendiami alam tersebut sampai merasa dirinya kekal. Nyi Roro Kidul adalah makhluk, jadi klo sampai sekarang masih hidup yah jangan heran, kematian suatu makhluk akan menjadi kelahiran bagi makhluk baru, entah di alam mana sebab alam ini banyak. Jadi nggak usah diambil pusing wong Nyi Roro Kidul juga makhluk seperti kita. Kalau kelakuan kita baik kita juga bisa lahir kembali di alam bahagia yang mungkin umurnya bisa ribuan tahun, begitu menurut saya. Yang terucap hanya semoga semua makhluk berbahagia baik yang tampak maupun tak tampak. Jangan mengharapkan makhluk lain celaka sekalipun makhluk itu menjadi musuh kita.

JNOS:
Mas HP, terimakasih ikut berdiskusi ya. Saya sebenarnya membicarakan Kanjeng Ratu Kidul (ada yg sebut Nyai Roro Kidul) sebagai sebuah metafora atau simbol, jadi bukan secara harfiah bahwa Dia sebuah mahluk. Yang saya tekankan nilau beliau sebagai sebuah simbol mitografik & arti dari simbol tersebut.

HP:
Benar sekali, maaf kalau mungkin kurang dimengerti. Tetapi intinya saya cuma menjelaskan bahwa semua makhluk hidup itu adalah juga bisa jadi simbol dan metafor bagi makhluk lain, cuma perbedaan disini mungkin Kanjeng Ratu Kidul bisa diibaratkan artis (tetapi jangan lupa semua makluk juga berpotensi jadi artis). Jadi wajarlah cerita-ceritanya bisa jadi gossip. Seperti sejarahlah, 2 orang mengalami kejadian secara bersamaan pasti ceritanya tidak serupa benar antara 2 orang itu kalau disuruh menceritakan, salam pripun! Semoga semua makhluk berbahagia..

JNOS:
Iya, benar, mas HP. Semua mahluk sama esensinya, baik roh, manusia, hewan ataupun tumbuhan. Energy signature nya sama-sama milik Dewi Bumi. Saya tertarik ke Kanjeng Ratu Kidul karena beliau adalah kristalisasi kepercayaan Jawa kuno, bahkan sebelum Hindu. Salam damai & berkat selalu untuk anda & keluarga.

DE:
Menilik dari kitab injil (kisah para raja - salomo dan ratu sheba, lukas klo g salah 11) Ratu Sheba, ratu selatan yg datang dr matahari terbit (Salomo di Yaman) yg membawa harta kekayaan dan akhrnya mendapatkan hikmat (ilmu) Salomo, sedangkan di Lukas disebutkan kurang lebih "akan datang mendahului aku Ratu dari selatan yang mendapatkan hikmat dari Salomo akan mendahului aku dan akan menghukum angkatan yang meragukan akan aku" (baik dlm muslim, kristen meyakini kalau nabi Isa akan datang di jaman akhir).

Kanjeng Ratu Kidul memiliki wilayah yg hampir 1/3 bumi mulai dari lautan hindia (dibawah kendali kanjeng ratu Andorosari yg bermarkas di pulau christmas), benua afrika sampai mesir (dibawah kekuasaan kanjeng ratu koloyuwati bermarkas di mesir) dan wilayah kepulauan nusantara samp daratan cina (dibawah kuasa kanjeng ratu Kenconosari (dewi kwan im?) bermarkas di Gua langse). Ketiganya mempertanggung jawabkan kepada Kanjeng Ratu Kencono wungu yg letak kratonnya kira-ktra 40km dari pantai parang tritis tetapi pusat pemerintahannya ada di Gunung Lawu dengan kepala pemerntahan Kanjeng Sunan Lawu sepuh putra Kanjeng Ratu Kencono wungu. Dari ke-3 wilayah itu memiliki simbol budaya yg hampir sama yakni ular (ular kobra, naga, liong).

Memang benar Kanjeng Ratu Kidul adalah mahkluk seperti halnya manusia, jin, roh suci bahkan malaikat tapi kita harus mengakui juga adanya tingkatan dimensi di alam ini. Maaf jika pemahaman saya salahm, salam damai selalu!

JNOS:
Terimakaish Mas DE untuk kontribusinya, sangat informatif. Saya rasa dalam hal ini tidak ada yang benar atau salah. Salam damai.

GN:
Nderek rembug Mas, setahu saya kanjeng RATU KIDUL dgn nyi Roro kidul itu berbeda, sama-sama ada dalam alam gaib, kalau Kanjeng Ratu Kidul seorang ratu kerajaan gaib, di wilayah sekitar setengah pulau Jawa ke selatan wilayah kerajaannya, dan yang menjabat sekarang NIMAS AYU PUJI PAGEDONGAN ratu ke 12. Sedangkan nyi Roro Kidul ratu siluman ular yg keberadaanya di pesisir laut kidul.ini yang sering ditemui orang -orang dlm mencari pesugihan. Ini saja informasinya, jika ada yg keliru yg saya sampaikan biar Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul klarifikasi ke saya.

GS:
Sepengetahuan saya Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasanya sedang Nyai Roro Kidul adalah abdinya semacam perdana mentrinya. Nyai Roro Kidul lah yg menjalankan pemerintahan sehari-hari kerajaan gaib Kanjeng Ratu Kidul.

YRGH:
Saya sependapat dengan mas JNOS, menurut saya. Nyi roro Kidul merupakan penggambaran Tuhan dalam versi feminim. Jika dibahasa Indonesiakan Nonya Perawan Selatan, dalam pengartian saya ini merupakan seorang perempuan yang masih perawan (polos dan suci lahir dan bathin) yang berasal dari selatan yang mendapat rahmat dari Tuhan untuk turut serta sebagai perantara manusia ke Tuhan (dalam hal ini Tuhan di andaikan Bapa) Karena sama seperti sebuah keluarga, seorang anak terkadang takut untuk meminta dan merengek langsung kepada ayahnya, lalu si anak tersebut merengek kepada ibunya untuk menjadi perantara permintaan anak ke ayah.

Ini saya terpikirkan karena jarang sekali saya melihat orang jawa yang langsung meminta kepada Tuhan sang pencipta karena bagi orang jawa Tuhan begitu jauh dan sangat dihormati dan disegani, manusia hanya patut menyembah dan bersyukur kepada Dia, (kecuali kalau kepepet) namun mereka pasti meminta kepada leluhur atau apapun sebagai perantara ke Tuhan. (Maaf jika salah.) Kemudian ada yang mengganjal dalam diri saya. Apa pendapat itu benar? Selain itu, apakah sebutan Tuhan yang maskulin bagi orang kejawen? Terima kasih, Berkah Dalem Gusti.

GN:
Urun rembug lagi; begini setrukturnya Gaib mulai dari "Tuhan" sang pencipta berada di luar Alam semesta, 4 unsur, 7 bintang {malaikat, para malaikat), 6 pilar (Ki Bodronoyo, Dewi kwan Im, Yesus, Para Budha, Tri Murti, Dalai Lama), Para Raja, orang*sakti, Dahnyang*, Iblis, jin dan lain-lain, manusia. Kembali kepada Ibu Ratu Kidul berada setara dalam gol Para Raja. Mulai dari 4 unsur sampai jiwa manusia adalah anak anak Tuhan.dalam berinteraksi selama ini manusia hanya sampai pada tingkat 6 pilar, hanya Tuhan memberikan kewenangan kepada 6 pilar dan yang lainnya pada level menurun untuk ngurusin manusia.

GS:
@YRGH: Nyi Roro Kidul bukanlah Tuhan dalam versi feminim. Nyi Roro Kidul dulunya adalah manusia seperti kita. Setelah meninggal meskipun ilmu kerohaniannya tinggi tapi dia belum bisa mencapai tingkat kesempurnaan. Jadinya dia jadi mahkluk gaib yang bergentayangan namun tidak lagi melalui proses reinkarnasi selama dia tidak menginginkannya. Kalau dia ingin mencapai kesempurnaan, maka dia harus berreinkarnasi menjadi manusia lagi dan mulai berlatih utk bersatu dengan Tuhan.

@GN: Menurut saya, Tuhan tidaklah berada di luar alam semesta. Kita semua dan alam semesta kasar maupun halus berada di dalam Tuhan, Tuhan melingkupi kita semua. Tuhan seperti lautan dan kita adalah isi lautan. Air laut bukan hanya ada di luar badan penghuni laut tapi juga dalam badannya.

Tuhan tidak pernah memberi kewenangan pada siapapun untuk mengurusi manusia kalau misalnya Dewi Kwan Im atau Nyi Roro Kidul atau siapapun mahkluk gaib kemudian membantu manusia itu mau mereka sendiri karena manusia meminta bantuan mereka. Mereka semua mahkluk gaib itu adalah pengangguran semua yang tidak punya kebutuhan apapun. Mereka tdk memerlukan makan, minum, tidur dll. Dengan waktu mereka yg tdk terbatas, mereka kebanyakan juga tdk tau mau berbuat apa di alam gaib. Jadi kalo ada manusia yg memuja dan memanggil mereka minta bantuan, mereka sebenarnya senang sekali. Coba saja rasakan sendiri kalo sudah mati nanti, bagaimana rasanya hanya mempunyai tubuh roh tanpa jasmani. Beberapa hari setelah kematian perasaan lapar, haus, capek masih ada krn umumnya orang belum menyadari bahwa sebagai roh dia tdk memerlukan semua itu. Namun lama-kelamaan jadi sadar bahwa sebagai roh,dia tdk memerlukan apapun. Sebagai roh, orang hidup dengan hanya pikiran dan perasaannya sendiri. Krn itu orang yg selalu membiasakan pikiran dan perasaannya welas asih, enak kepenak, ayem tentrem akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian ketika tubuh jasmaninya hancur dan dia hanya tinggal roh saja.

Ada alam 2 surga & neraka yg diciptakan oleh manusia-manusia jaman dulu yg mempunyai kemampuan batin yg tinggi. Manusia-manusia yang percaya, merasa seolah-seolah mereka bersenang-senang di surga atau tersiksa di neraka, padahal itu adalah ciptaaan pikirannya sendiri.

YRGH:
Mas GS: Oya mas, terima kasih atas penjelasannya, maaf kemarin salah!

JNOS:
Makasih teman-eman atas sumbangsihnya. Sosok Kanjeng Ratu Kidul bisa disikapi dengan banyak cara, termasuk diidentifikasi dengan DIVINE FEMININE. Ini juga tidak salah karena sosok beliau jelas menunjukkan bahwa wanita di masa lampau sudah setara dengan pria.

Saya berkata demikian karena Kanjeng Ratu Kidul ternyata hidup 15ribu tahun yg lalu, ketika Nusantara masih bernama Atlantis. Beliau adalah putri bungsu dari Prabu Sri Aji Jayabaya yang nama kecilnya Nimas Pagedongan, Nimas Angin-angin & Nimas Gilang Kencana, kaputrennya di Wonocatur Kediri.

Beliau memerintah bagain kidul Atlantis, dibantu mahapatih Nyi Roro Kiidul. Jadi ini dua sosok yg tidak sama, meski sekarang banyak dicampur aduk. Beliau MOKSA di Candi Tara & setelah tenggelamnya Atlantis, tetap memrintah dari Kraton Kidul di dasar samudra.

Beliau sendirilah yg menenggelamkan Atlantis menggunakan ilmu TRIWIKRAMA atau membesarkan diri. Hampir semua leluhur Nusantara yg sakti mumpuni dlm ilmu ini. Bekas tapa suci beliau bisa dilihat di http://maps.google.com/maps?

Maaf posting saya tadi banyak salah eja, harap maklum karena buru-buru ketiknya. Yang perlu ditambah Kanjeng Ratu Kidul tidak berpakaian warna hijau. Beliau berpakaian warna emas. Mahapatih beliau Nyi Roro Kidul yang berpakaian hijau.

YRGH:
Tidak apa-apa mas, terima kasih sekali lagi, karena saya juga sedang tertarik mempelajari budaya jawa kuno.

GN:
Yang saya sampaikan informasi dari yg bersangkutan yg tertulis dalam tulisan saya tersebut termasuk dari Tuhan sendiri, mohon maaf bila berbeda dgn pengetahuan saudara semua, percaya ataupun tidak terserah pada anda, bagi saya tidaklah sulit menemui beliau yg ada dalam tulisan saya ini semua, terimakasih.

DSD:
Ibu ratu kidul penguasa lautan!
Kanjeng Panembahan senopati penguasa daratan!
Dua sejodoh yang tak terpisahkan, ada pepatah mengatakan:
"Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli "
"Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman"
"Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas "
"Aja Adigang, Adigung, Adiguna"
"Sing Resik Uripe Bakal Mulya"
"Urip Iku Urup"
"Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti"
"Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara"
Terimakasih. Rahayu

GN:
Saya hanya bertujuan menyampaikan keterangan yang saya peroleh dari interaksi dengan beliau yang bersankutan, tak ada tujuan untuk "adigang, adigung, adiguno". Sudah hal yg biasa bagi kami berinteraksi dgn mereka semua.buat mas GS: saya sampaikan keberadaan Tuhan diluar alam semesta ya karena Tuhan sendiri yg memberitahukannya.mungkin terasa aneh bagaimana bisa berdialog dgn Tuhan semudah itu.itulah yg terjadi dgn kami, bahkan Tuhan juga mengatakan kalau selama ini gak ngurusin kehidupan manusia, yang ngurusin ya para gaib yg diberi wewenang masing-masing.kecuali nantinya setelah turun sebagai manusia baru ngurusin kehidupan manusia. Kepada kami diberitahukan banyak rahasia yg selama ini menjadi misteri bagi manusia, kepada kami banyak hal suadah bukan misteri lagi. Percaya atau tidak yg terjadi ya begitu, saya tetap menghargai pendapat anda ya silahkan yakini apa yg telah anda yakini. Sekali lagi saya hanya berbagi, tak ada keinginan ataupun paksaan dari saya agar keterangan atau tulisan saya dijadikan acuan kebenarannya. Sekali lagi tanpa mengurangi hormat saya terhadap manusia, saya sampaikan juga hal yg pernah diperingatkan kepada kami dari Tuhan "ndandani menungso kuwi angel". Jika mengacu kepada peringatan tersebut sebenarnya saya enggan berbagi pengetahuan yg kami dapatkan.karena sekarang ini sudah tidak jamannya dandani.






Sebagai tambahan berikut saya lampiran halaman print screen dari sebuah situs facebook: