Lemah Kuning! Nama ini sengaja aku pilih, karena ini akan mengingatkan pada suatu masalah tersendiri, yang menjadi harus dicampakkan, dan dijauhkan dari kebenaran. Dan mungkin kebenaran itu hanya menjadi suatu impian belaka. Namun demikian marilah kita bermimpi, banyak orang mengatakan dengin bermimpi suatu saat akan menjadi kenyataan. Jauh sebelum saya menggunakan kata ini untuk memberi judul blog, hanya satu masalah yang muncul ketika dilakukan pencarian menggunakan google.

Sejarah Berinteraksi

PENJABARAN SESAJI DELAPAN WARNA DALAM
JONGKO JOYOBOYO

 

 
Banyak versi cerita tentang Jongko Joyoboyo, dari berbentuk tembang mocopat maupun yang sudah disadur sedemikian rupa. Bentuk tembang memang sangat populer saat itu mengingat penyebaran dalam bentuk yang lain hampir tidak memungkinkan. Dimana belum banyak orang mengenal baca tulis maupun sarana untuk menulis yang sangat sukar diketemukan. Boleh dikata hanya daun tal saja yang bisa digunakan untuk sarana menulis sebuah naskah, dan orang yang menuliskan naskah biasanya adalah seorang pujangga (sastrawan). Jadi hampir tidak mungkin seorang raja menuliskan sendiri apa yang ingin dikatakannya pada sebuah daun tal. Kemudian saya memilih versi ini untuk saya terjemahkan disini tentu saja dengan maksud agar banyak orang yang tidak mengerti bahasa Jawa menjadi lebih mengerti tentang hal ini. Sebelumnya saya mohon maaf tentu karena terjemahan ini yang masih jauh dari sempurna. Sekian pengantar dari saya, dan salam damai negriku.
 
Diceritakan di sebuah Negri Kediri ada seorang Raja yang agung bijaksana bergelar Prabu Joyoboyo. Pada suatu hari yang bukan merupakan hari pertemuan, sang Raja Kedatangan seorang tamu Raja Pandito yang berasal dari Negri Rum (Persia) yang bernama Sjekh Maulana ‘Ali Syamsudin.

 
Kemudian mereka berdua saling bertukar pendapat, membahas mengenai ilmu-ilmu yang terdapat dalam Kitab Musasar. Setelah selesai membahas mengenai ilmu-ilmu yang terdapat dalam kitab itu, kemudian Prabu Jayabaya memohon kepada tamunya itu untuk menguraiakan “siapa jatidirinya” itu.

 
Raja Pandito kemudian membuka wilayah ghaib-nya, ternyata bahwa Prabu Jayabaya itu adalah titisan Sang Hyang Wisnu. Sang Hyang Wisnu masih akan menitis dua kali lagi, semua masih keturunan Prabu Joyoboyo. Sesudah semuanya terbaca, kemudian Prabu Joyoboyo menyatakan tunduk dan menganggap guru kepada Raja Pandito, kemudian Prabu Jayaboyo diberi ilmu Cipto-Sasmito. Tetapi setelah wejangan ilmu Cipto-Sasmito selesai Raja Pandito menghilang begitu saja.

 
Kurang lebih sebulan setelah kedatangan tamu Raja Pandito itu, Prabu Joyoboyo memanggil putranya yang juga telah menjadi Penguasa di Kota Pagedongan dengan gelar Prabu Joyomijoyo untuk menemaninya bertandang ke Padepokan Ajar Soebroto di Wukir Padang. Ternyata Ki Ajar Soebroto juga sudah mendapatkan ilmu Cipto-Sasmito dari Raja Pandito Syekh Maulana ‘Ali Syamsudin.

 
Bergantilah kemudian cerita ini untuk melihat apa yang terjadi di Padepokan Wukir Padang tempat Ki Ajar Soebroto. Saat itu Ki Ajar Soebroto sedang bercengkerama dihadapan para murid-muridnya; cantrik-cantrik, wasi janggan, ulu guntung dan endang. Kemudian, Ki Ajar memberikan khabar kepada murid-muridnya apabila Padepokan Wukir Padang akan kedatangan Raja Agung dari Kediri Prabu Joyoboyo yang disertai oleh Raja Pagedongan Prabu Joyamijoyo. Cantrik-cantrik dan semua murid-muridnya diperintahkannya untuk bersih-bersih dan menyiapkan penyambutan atas kedatangan kedua tamu agung tersebut.

 
Tidak berapa lama kemudian Prabu Joyoboyo dan Prabu Joyoamijoyo datang di Padepokan Wukir Padang. Ki Ajar Soebroto membagikan kedatangan Prabu Jayaboyo, dan murid-muridnya, cantrik-cantrik dan wasi janggan semuanya jongkok sambil mengelu-elukan kedatangan raja-raja agung tersebut.

 
Kedua raja agung tersebut memasuki tempat penyambutannya dan duduk di tempat yang telah disediakan. Namun Ki Ajar Soebroto yang menghadap raja agung tersebut hanya duduk bersimpuh di tanah saja. Sesudah memberikan kata-kata sambutannya kemudian Ki Ajar memberikan aba-aba kepada endang agar mengeluarkan jamuan. Jamuan itu datang dengan cara dipanggul di atas kepala para endang.

 
Adapun tujuh macam sesaji, delapan beserta endangnya barang yang disesajikan itu:
1. Kunyit serampang,
2. Uli setakir,
3. Bunga Melati secontong,
4. Kajar sepohon,
5. Bawang putih setalam,
6. Darah sepitrah,
7. Endang (pelayan yang membawa jamuan = sesaji)
8. Bunga Seruni.

 
Prabu Joyoboyo mengetahui apa yang disajikan itu, seketika itu juga merasa ingin marah meslipun hanya dalam hati, karena sebenarnya sudah mengetahui apa-apa yang tersirat dibalik jamuan-jamuan itu. Meskipun demikian beliau tetap sabar dan kemudian memanggil dan menanyakan kepada Ki Ajar Soebroto, apa maksudnya dengan menyajikan sesuatu yang penuh teka-teki. Jawab Ki Ajar: “Karena paduka telah diberi wisik ilmu Cipto-Sasmito oleh Sang Raja Pandito Syekh Maulana ‘Ali Syamsudin, maka selayaknya paduka menjawab teka-teki itu sendiri.”

 
Mendengar jawaban dari Ki Ajar Soebroto yang demikian itu, Prabu Joyoboyo merasa sangat terpukul, dengan dada berdegub keras seakan terbakar membara, kemudian beliau ingat atas kekuasaannya maka seketika itu juga menghunus senjatanya dan ditusukkannya kepada Ki Ajar Soebroto dan seketika itu juga tewas.

 
Seandainya toh bisa bicara Prabu Jayoamijoyo, menyaksikan kejadian yang seperti itu sangat heran dan sedih sekali meskipun hanya dalam hati. Tetapi terbawa dari rasa hormat yang sangat kepada raja junjungannya, maka ketakutanlah yang ada untuk menegurnya.

 
Prabu Joyoboyo kemudian meninggalkan Padepokan Wukir Padang untuk pulang ke Kediri dengan disertai putranya. Karena sangat gundah-gulananya rasa di kalbu maka mereka tidak saling berbicara di jalan.

 
Diceritakan, setelah Prabu Joyoboyo dan putranya sampai di Keraton Kediri, maka kemudian Prabu Joyoboyo memanggil dan menanyakan kepada putranya apakah mengerti tentang jamuan yang penuh teka-teki tadi.

 
Prabu Joyoamijoyo mengatakan apa yang sebaliknya, sehingga akhirnya Prabu Joyoboyo memberikan wejangannya.
“Apa yang kuketahui hai anakku, sehingga akhirnya aku terpaksa menganiaya Ajar Soebroto karena dia telah melakukan dua dosa sekaligus. Yang pertama adalah dosa terhadap Raja, dan yang kedua adalah dosa terhadap Guru. Lalu apakah dosanya terhadap Raja, karena Ajar Soebroto punya pemikiran yang salah dengan meringkas raja-raja yang berkuasa di Tanah Jawa ini. Kemudian dosanya terhadap guru adalah karena dia punya watak angkuh, karena berani-beraninya membuka tabir ghaib yang masih menjadi rahasianya Hyang Sukma, dengan menjabarkan ilmu sandi yang diwisikkan guruku waktu itu. Yang begitu itu anakku, makanya Ajar Soebroto wajib menerima hukuman dari Hyang Sukma harus dibunuh.”

 
Prabu Joyoamijoyo bersimpuh dihadapan Rajanya, kemudian Prabu Joyoboyo berkata lagi.”Dan karena itu maka engkau aku kasih tahu, sebenarnya saya ini adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti. Penitisannya hanya tinggal dua kali lagi, dan yang ketiga itu adalah aku sendiri. Setelah itu saya sudah tidak menitis lagi, dan kemudian akan ada negara Jenggala. Dan itu aku beri lambang: Catur Noto, dengan sandi segoro asat (laut kering). Arti dari ke-empat negri itu adalah: Jenggolo, Kediri, Ngurawan dan Singosari. Raja deri keempat negri itu masih membutuhkannya untuk memelihara bumi, agar tetap sentosa. Aku masih akan membantu untuk memerangi para angkara murka yang lamanya hingga seratus tahun, kemudian akan berganti zaman. Disitu aku sudah tidak berhak untuk ikut campur karena sudah terpisah dari leluhur-leluhurku. Dan tempat tinggal saya kelak secara ghaib adalah arah datangnya guruku.

 
Anakku, mengertilah apa-apa yang akan terjadi kelak setelah saya tinggalkan, akan ada Jaman yang bisa digolongkan menjadi tujuh. Kepadamu aku wajibkan untuk memberikan pengetahuan ini kepada anak-turunmu. Karena sesaji yang diberikan Ki Ajar Soebroto ada sejumlah tujuh macam, dan yang kedelapan adalah endang, maka itu akan menjadi pertanda jaman.

 
Dan yang pertama-tama adalah: Kunyit satu rampang. Itu adalah pertanda Jaman Anderpati Koloseso, yaitu permulaan jaman. Rajanya diberi lambang: Gondo kenthir pendekatannya liman pepeko. Negarannya dinamakan Pakrama Pajajaran, panglimaperang (manggalayuda) yang tidak berbakti, penghasilan buminya uang emas. Hanya sampai seratus tahun kemudian menghilang karena perang antar saudara.

 
Yang kedua adalah: Uli satu takir. Itu adalah pertanda Jaman Anderpati Kolowisoyo. Rajanya diberi lambang: Sri kolo rojopati dewonoto. Negaranya bernama Majalengka (Majapahit). Lamanya sepuluh windu. Penghasilan bumi permata, dengan lambang: Bebasahan datan kongsi tutug kaselak kampuhe bedah.

 
Yang ketiga adalah: Bunga Melati satu contong. Itu adalah pertanda Jaman Kolowiseso. Rajanya berkedudukan di Glagahwangi, negaranya Demak. Kemudian pindah agama. Rajanya yang mendunia, diperintah oleh Ratu Adil, dan ada Ratu Pandito yang mengajarkan agama Islam.

 
Sebatang pohon Kajar. Itu adalah pertanda Jaman Kolojonggo. Rajanya bodoh yang diberi lambang Lungo perang putung watange. Beribukota di Pajang. Ketatanegaraannya mencontoh Demak. Penghasilan buminya permata dan pakaian. Lama pemerintahan empat windu lebih empat bulan dan menghilang.

 
Bawang putih setalam. Itu adalah pertanda Jaman Kolosakti. Rajanya berkedudukan di kota Mataram. Raja yang pertama diberi lambang: Serakah pendekatannya lintang sinipat, dengan panglima perang Jadug. Dengan lambang: Kalpo sru kenoko putung. Kemudian berganti lambang: Kembang sempal pendekatannya lebu kekethu. Rajanya kayaraya, suka berperang, sangat disegani balatentara dan musuh-musuhnya. Sangat ditakuti oleh para guru, pendito, wali, nujum, yang semua terkumpul menjadi satu. Raja yang sakti, adil dan bijaksana.
Penghasilan buminya bumi uang emas. Disana ada nahkoda (orang asing yang menyandarkan kapal) untuk berdagang di Jawa. Yang kemudian berbakti kepada raja dan diberi tanah yang sedikit, lama-lama bisa ikut berperang dan ternyata selalu menang dan terkenal hingga seluruh Jawa.

 
Darah sepitrah. Itu menandakan Jaman Duporo. Rajanya berkedudukan di kota Wanakarta. Yang pertama diberi lambang: layon keli pendekatannya satrio bronto. Rajanya mempunyai tentara para berandal, disegani di seluruh dunia, tetapi keturunannya tidak bisa menjadi raja. Dan yang menjadi raja berasal dari kerabat. Kemudian berganti lambang: Gunung kendeng pendekatannya kenyo nusoni. Kemudian berganti lambang lagi: gajah meto, pendekatannya tengu lelaken. Penghasilan buminya agraris dan uang. Makin lama negara makin menjadi-jadi, hilang berkah dari bumi, kerusuhan terjadi pada pemerintahan, orang kecil banyak yang makin sengsara, kecelakaan dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Rajanya tidak perduli dan hanya bersenang-senang saja. Para pembantu pemerintahan sangat kebingungan, para pembantu raja tidak karuan, dan masyarakat sangat kocar-kacir dimana-mana.

 
Endang. Itu pertanda Jaman Kutilo. Rajanya angkara murka, pemerintahan berpindah ke Solo. Dilambangkan dengan: panji loro pendekatannya Pajang Mataram. Orang asing ikut berperan dalam pemerintahan, dan menjadi kaya-raya sehingga merasa angkuh. Orang-orang pinter yang punya kedudukan banyak berkorupsi. Orang-orang masyarakat bawah sangat terlunta-lunta karena tergusur oleh berbagai proyek raksasa. Dan orang-orang asing yang ada di pemerintahan benar-benar sangat angkuhnya sehingga lupa dan mengingkari akan siapa dirinya yang sebenarnya hanya numpang saja yang akhirnya hanya menimbulkan kesengsaraan. Panji lörö sirno, nuli roro ngangsu, rondo lörö nututi pijer tukaran. (Dua anak laki-laki yang menghilang kemudian perawan yang mencari tahu, akhirnya dua orang janda yang ikut mencari akhirnya bertengkar). Penghasilan negara berupa uang, yang sedikit-sedikit harus membayar pajak, dan apabila petani sedang panen hasilnya tak cukup untuk kebutuhan hidupnya. Para pendusta dan pembohong sangat merajalela, orang-orang kaya sangat menyia-nyiakan pekerjanya. Dan setiap tahun ada saja musibah yang menimpa negara. Keadilan hukum dan prajurit-prajurit negara sudah tidak lagi mempunyai arti untuk kebenaran. Tatacara pemerintahan berganti-ganti, orang yang jujur akhirnya tersingkir, orang yang ngotot bisa menang, dan orang yang benar-benar bener malah keblinger. Dan benar-benar tidak ada wahyu yang nyata, iblis laknat yang berpura-pura menjadi wahyu.

 
Banyak yang melupakan saudara dan lebih-lebih tidak mengabdi pada orang tua lagi. Dan kesucian wanita sudah tidak ada gunanya lagi, orang meninggalpun tidak bermakna apa-apa. Negara sangat rentan dan banyak kejadian-kejadian aneh, hujan yang tidak pada musimnya, kedudukan pangkat yang bermacam-macam, dan tontonan yang berganti-ganti. Sering terjadi gempa bumi dan gerhana untuk menutup tahun 1881. Yang bisa selamat hanya orang-orang yang berbudi baik.

 
Bunga Sruni. Itu tandanya Jaman Kolosubo. Dengan lambangnya: Ratu Tunjung Putih yang umurnya pudak sinumpet. Artinya pudak itu terbalik. Sudah kehendak Hyang Sukma yang sudah membuat bumi terbalik, dan menurunkan raja yang bijaksana (Ratu Adil) bernama Raden Amisan dengan gelar Sultan Herucokro, berkedudukan di kota Katangga Petik, yang pengangkatannya tanpa menggunakan syarat apapun. Itulah permulaan adanya pengampunan dosa (berjamaah), yang kemudian baru berakhirlah musibah-musibah yang sering terjadi di Jawa. Raja tersebut mengeluarkan biaya yang sangat banyak untuk kebutuhan semuanya dengan suka cita juga terhadap para prajurit. Kemudian orang-orang asing tadi merasa terlunta-lunta dan akhirnya ikut membela negara dengan nyata.

 
Yang masih suka ngambek (demo) akhirnya berhenti. Sultan Herucokro itu masih keturunan Waliyullah, dengan kesaktian yang luar biasa. Penghasilan negara adalah uang, orang kecil merasa enak karena pajak dikurangi 90%. Sebagai contoh sawah seanjung hanya membayar satu dinar. Rajanya sangat dermawan, makan dan buat kehidupan sehari-hari hanya dijatah tujuh ribu real untuk kebutuhan setahun, apabila lebih dianggap haram. Banyak negara-negara tetangga yang takluk. Karena rajanya sangat adil dan bijaksana sehingga tentara dan rakyat semua sangat hormat tulus lahir dan batin.

 
Jika saatnya nanti Jawa ini sudah berumur samapai 1901 tahun, raja sekalian istana (keraton) akan hilang lenyap karena Sang Hyang Sukma. Kemudian Hyang Sukma akan menurunkan raja lagi dari keturunan Waliyullah, yang istananya ada di Katonggo yang terjepit diantara Karangbaya, yang kurang lebih ada di sebelah Timur Laut gunung Prahu, sebelah barat tempuran. Raja itu sangat menghargai buminya, dan karenanya negara menjadi lebih maju sampai akhirnya tanah Jawa genap berusia 1909.

 
Setelah raja itu tidak berkuasa lagi maka negara akan rusuh lagi. Di Jawa ini tatanan yang tidak karoan, banyak para pembantu pemerintahan yang hanya bersenang-senang pergi keluar negri. Sang Hyang Sukma kemudian menurunkan raja lagi yang mempunyai sebutan Sang Asmoro Kingkin. Masih muda dan gagah, sangat disegani oleh prajurit, dengan istananya di Kediri dan Medura, dan negara menjadi makmur dan tentram. Saat itu Jawa sudah berumur 1999 dan sesudahnya istana musnah lagi.

 
Setelah raja tidak berkuasa lagi, maka keadaan rusuh kembali. Kemudian negara Jawa ini kedatangan musuh dari Nuso Prenggi. Raja dari Negeri Rum memberikan bantuan untuk mengusir orang-orang dari Nusa Prenggi itu. Terjadilah perang yang dahsyat dan banyak orang yang saling curi-mencuri. Karena kerusakan yang dahsyat tadi maka banyak sekali perusuh. Kemudian utusan dari Negeri Rum itu membuat Raja Boneka yang bisa dikatakan Ratu Adil dengan istananya di Ketonggo Petik, tetapi masih kecil dan sangat mengiba dan hanya sebagai penggembala ternak saja. Penobatan raja dilakukan di Waringin Rubuh yang merupakan tempat rahasia, dan negaranya diberi nama ‘Amartoloyo.

 
Ketika itu Jawa umurnya sudah 2042 tahun. Jaman itu diberi lambang: Gandrung-gandrung pinggir marga andulu gelung kekendon, artinya banyak wanita yang ngasin turasing kakung. Kala itu sudah tidak ada perang lagi, sudah tidak ada yang menggunakan keris sebagai tosan aji. Apabila nanti Jawa sudah berumur 2100 tahun, itu berarti sudah dekat waktunya dengan kiamat qubro, pulau Jawa tenggelam oleh air menjadi lautan.

 
Ya putraku, sudah selesailah semua apa yang ingin aku sampaikan kepadamu, dalam penjabaran sesaji yang delapan macam itu yang diberikan oleh Ki Ajar Soebroto kepadaku.

 
Catatan:
  1. wukir = gunung.
  2. windu = 8 tahun.
  3. layon keli = mayat terhanyut.
  4. satrio bronto = satrya yang kesusahan.
  5. kenyo nusoni = perawan yang menyusui.
  6. gajah meto = gajah putih.
  7. tengu lelaken = binatang kecil berwarna merah yang suka menyelip dekat kemaluan yang sedang kawin.
  8. tempuran = pertemuan dua buah sungai.